Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 29


__ADS_3

STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SELAKU PEMILIK KISAH.


Rena sudah selesai memandikan dan menyiapkan seluruh keperluan Aulia sekolah dan meminta Bi Lastri untuk mengajak putrinya itu turun sarapan kebawah, karena ia akan bersiap untuk pergi magang setelah mengantar Aulia ke sekolah.


Rena berjalan menuju ke kamarnya dan membuka pintu kamar untuk masuk ke dalam. Ketika perempuan cantik itu masuk ke dalam kamar, di dapati suaminya tidur kembali. Dengan segera Rena menuju ke kamar mandi dan membersihkan diri untuk bersiap pergi magang tanpa mengusik tidur suaminya.


Tak terlalu lama mempersiapkan diri karena putrinya sudah menantikan dirinya, Rena segera mengganti baju magang dengan handuk masih membalut rambut basah. Menoleh ke arah ranjang, ia pun mencoba membangunkan suaminya dengan duduk di tepi ranjang.


"Mas, bangun. Mas engga kerja?" seru Rena pelan sambil memegang pundak suami yang tidur menghadap meja kecil sebelah ranjang.


"Mas," panggil Rena lagi dengan sedikit menggoyangkan pundak suaminya hingga Dimas terbangun.


"Apa?!" dingin lelaki tengah berusaha membuka kedua matanya itu.


"Mas engga kerja?" tanya Rena pelan dengan jari jari membelai lembut rambut suaminya.


"Engga!" jawab Dimas dingin dan singkat lalu membalikkan tubuhnya memunggungi istri yang langsung menghela napas panjang.


"Mas masih marah sama Aku?" tanya Rena.


"Aku ngantuk, Kamu pergi sana!" bentak Dimas dan mulai mengangkat selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Rena terkejut dengan nada tinggi suaminya pun kembali menghela nafas panjang.


"Yaudah Aku minta maaf, Mas. Kamu tidur lagi aja," ucap Rena lalu meninggalkan Dimas dan kembali bersiap di depan meja riasnya.

__ADS_1


Selama merias diri, matanya sesekali memperhatikan suami tetap memunggungi dari kaca meja rias hingga selesai, lalu meraih tas dan beranjak pergi meninggalkan kamar perlahan. Ia tak berani membangunkan dan berpamitan karena takut amarah suaminya kembali datang.


Pintu tak lupa ditutup rapat kembali oleh Rena dengan begitu hati hati, lalu turun kebawah sejenak merapikan pakaian seragam. Ia tidak berpamitan dan langsung menghampiri putrinya di bawah, sedangkan Dimas yang tak tidur menyadari kepergian istrinya dengan semakin menggerutu kesal akan sikap ditunjukkan. Menilai tidak seharusnya jika Rena sebagai istri pergi tanpa pamit seperti itu walau dalam keadaan apapun.


"Pagi, Bu." Bi Lastri menyapa sopan, mendampingi Aulia sedari tadi.


"Pagi, Bi." Sahut Rena melebarkan senyum.


"Auli, makannya udah apa belum sayang? hari berangkat bareng Mami ya, Kita naik taksi aja soalnya Papi lagi tidur." Rena berucap sembari duduk di samping putrinya.


"Sudah, Mi. Kita berangkat aja yuk," jawab Aulia memasukkan sisa roti kedalam mulutnya.


"Bi, Kita berangkat dulu ya. Nanti kalau Bapak bangun tolong siapkan sarapan buat Bapak," pesan Rena, membantu putrinya turun dari kursi dan mengambil tas milik putrinya.


""Ibu tidak sarapan dulu?" tanya Bi Lastri.


"Baik, Bu." Santun Bi Lastri menjawab.


Usai berpamitan dengan pesan diberikan, Rena menuntun putrinya ke depan dan berjalan hingga depan pagar tempat taksi menunggu, karena sudah di pesan lebih dulu. Ia memang tak ingin menggunakan jasa sopir untk pergi magang, takut jika sampai dibicarakan ketika ia turun dari sebuah mobil mewah.


Taksi sudah dinaiki keduanya menuju ke sekolah lebih dulu, baru setelahnya menuju ke kantor magang. Rena mengantarkan putrinya hingga ke dalam kelas, dan berpamitan pergi setelah menitipkan putrinya pada guru di depan kelas.


Melaju kembali ke kantor dengan waktu hampir setengah jam, Rena segera masuk kedalam kantor dan duduk di tempatnya. Sudah begitu banyak pekerjaan menantikan dirinya di atas meja, mulai dikerjakan satu persatu semua yang ada di hadapannya.


Sementara di rumah, Dimas baru saja membuka mata dan turun ke bawah mencari anak istrinya yang dikira takkan berangkat sebelum berpamitan. Tapi hanya ditemui pelayan saja di rumah mewahnya, tanpa ada Rena ataupun Aulia disana.

__ADS_1


"Rena mana?" tanya Dimas dingin pada Bi Ijah yang sedang membersihkan rak TV.


"Tadi sudah berangkat Pak sama Non Auli," jawab asisten rumah langsung menghentikan pekerjaan dengan menatap heran, karena sikap berubah seperti dulu.


"Maaf, Pak. Saya siapkan sarapan sekarang? tadi Ibu pesan agar menyiapkan sarapan begitu Bapak bangun," kata Bi Lastri yang segera menghampiri begitu melihat majikannya.


"Nanti aja, tadi Rena sama Aulia udah makan?" tanya Dimas masih dengan nada dingin juga wajah datar.


"Non Aulia sudah, Pak. Tapi Ibu tidak sarapan tadi karena takut kalau Non Aulia terlambat," jelas Bi Lastri, membuat majikannya membuang napas kasar.


Lagi lagi Dimas menghela napas kasar, ia masih teramat kesal atas apa yang terjadi juga istri pergi tanpa pamit juga sarapan. Ia tak ingin keluar rumah hari ini, dan memutuskan berdiam diri saja sampai mood nya membaik. Ia pun memilih pergi ke ruang kerja, dimana dirinya biasa menenangkan diri ketika ada sesuatu mengusik.


Dimas meminta agar tak ada satu orang pun mengganggunya hari itu termasuk Aulia. Karena ia takut dengan susana hati yang buruk bisa marah kapan saja hanya karena hal sepele. Ia tak ingin menyakiti siapapun dengan amarahnya dan lebih memilih menyendiri di ruang kerja menenangkan kekecewaan terhadap Rena dengan mendengarkan beberapa lagu menggunakan earphone.


^^^


Sore hari setelah  merasa sedikit tenang, Dimas pun memutuskan untuk keluar dan duduk di teras rumah sekedar menyegarkan pikiran dan mencari udara segar.


"Auli keman, Bi?" tanya Dimas yang tak mendengar rengekan Auli sore itu.


"Non Auli tadi pergi sama pak Tyo, tadi mau pamit ke Bapak tapi Bibi larang karena tadi Bapak pesan agar tidak di ganggu," jelas bi Lastri sopan.


"Yauda,h tolong buatkan teh buat Saya terus bawa ke teras!" ucap Dimas berjalan menuju depan.


Berjalan kedepan dan menelpon adiknya untuk menanyakan tentang Auli, memastikan keberadaan putrinya. Segera Tyo menjawab dan menjelaskan jika memang Aulia tengah berada bersama dirinya dan membuat Dimas tenang. Ia mulai duduk di kursi teras seorang diri melihat lihat ponselnya dan tak lama Bi Lastri datang membawakan secangkir teh hangat.

__ADS_1


Meraih cangkir di meja, Dimas menyeruput minuman dengan mata terarah ke pagar saat Pak Adi membuka usai bel berbunyi. Dimas mencari tahu siapa yang datang dengan mengangkat sedikit kepala, tanpa disangka jika itu adalah istrinya yang ternyata datang dengan seorang pria berboncengan.


Suasana hati belum sepenuhnya membaik, malah semakin tak karuan melihat kedekatan Rena yang justru tersenyum lebar pada lelaki yang mengantarnya kembali. Ia tersenyum sinis, menikmati kembali teh masih dipegang cangkirnya.


__ADS_2