Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 172


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Tak pernah sedikitpun Natalie berhenti menghujani kedua menantunya dengan cinta, kasih sayang juga perhatian. Hampir setiap hari selama beberapa bulan terakhir, Natalie membuatkan keduanya makanan yang selalu meminta Tyo mengantar ke rumah Dimas, karena Rena tak bisa setiap hari datang ke rumah Adik iparnya.


Usia kandungan Siska yang sudah berjalan di bulan delapan dan Rena tujuh bulan, membuat Natalie menjadi mertua juga Ibu yang cerewet. Setiap gerakan dan makanan menantunya terus Ia perhatikan, dan membuat kedua perempuan itu malah merasa senang.


Dimas yang sudah sibuk di kantor begitu juga Tyo sibuk dengan hotel, mengharuskan Natalie rela kesana kemari untuk membagi waktu dan kasih sayangnya, karena Dimas tak pernah mengijinkan istrinya untuk menginap di rumah Tyo kecuali ketika dirinya harus terpaksa ke luar Kota, karena tak ingin jika Rena kelelahan menjaga kedua anaknya.


Butik yang sudah berjalan juga menjadi sebuah kesibukan baru bagi Rena, namun Ia lebih fokus pada desain saja dan mempercayakan semua pada pegawai pilihan Erwin yang sudah kembali sibuk di Paris, begitu juga Teddy dan Dedrick. Mereka bertiga terpaksa pergi setelah satu minggu makan malam penuh kebahagiaan itu di gelar.


Tepat pukul 15.00 hari Rabu, Rena yang tengah duduk bersantai dengan kedua anaknya mendapat kabar atas meninggalnya Mama Ana, yang langsung mengejutkan dirinya. Tanpa menghubungi suaminya lebih dulu, Rena menitipkan kedua anaknya pada kedua asisten rumah tangganya dan pergi bersama Pak Adi ke kediaman Ana.


Informasi tentang meninggalnya Ibu dari perempuan yang sudah berusaha merebut suaminya itu, Ia dapat dari Tyo yang juga sudah mengabari Dimas lebih dulu. Walaupun kabar itu terlambat karena Ibu dari mantan sekretaris suaminya itu meninggal pagi hari. Rena tetap bergegas untuk datang langsung ke rumah almarhumah yang masih Ia biayai secara diam diam.


Ketika sampai di sebuah rumah sederhana dimana masih banyak pelayat di sana, Rena membulatkan mata lebar melihat seseorang yang samar samar Ia ingat wajah nya, dan mengamati dari dalam mobil.


" Mba Kiara? " batin Rena melihat seorang perempuan tengah terlihat ribut dengan Ana tak jauh dari rumah perempuan dengan pakaian hitam panjang itu.

__ADS_1


Perlahan Ia turun dari mobil dengan bantuan Pak Adi dan berjalan menghampiri kedua perempuan yang saling tunjuk, demi memastikan sendiri jika benar itu adalah mantan istri suaminya.


Sambil memegangi perut besarnya, Rena berdiri di belakang Ana dan mendengar semua ucapan mengejutkan Ana tentang Kiara yang Ia anggap sebagai penyebab kematian Ibunya.


" Apa maksud Kamu Ana? " ucap Rena seketika membuat kedua perempuan itu menatap ke arah nya.


" Bu Rena, jika Ibu mau tahu siapa dalang dibalik semua kejadian hari itu, maka Ibu datang di waktu yang tepat. Dia! Dia penyebab semuanya! " ucap Ana menunjuk Kiara, membuat Rena terkejut.


Ana yang memang menyukai Dimas sengaja dimanfaatkan oleh Kiara demi membalas perlakuan mantan suaminya, dan memisahkan Rena juga Dimas. Niat buruk untuk memisahkan keduanya agar bisa kembali bersama Dimas, telah membuat Kiara menghalalkan segala cara. Selama ini Ia hanya terus bersembunyi mengamati Dimas juga Rena, bahkan Aulia. Niatnya untuk menemui Aulia tak pernah bisa terwujud, karena gadis kecil yang juga ingin Ia gunakan sebagai senjata untuk menyatukan kembali dirinya dan Dimas, selalu di antar jemput oleh Papinya sendiri dan bahkan melarang pihak sekolah untuk membiarkan siapapun menemui Aulia kecuali keluarganya.


" Ana, apa Kamu tahu yang Kamu tuduhkan itu? apa Kamu juga tahu siapa orang yang sedang Kamu tuduh? " tanya Rena tak bisa percaya.


" Diam Kamu! yang membuat Ibu mu meninggal adalah kebodohan Kamu sendiri! dan Aku tidak pernah memanfaatkan Kamu, karena Kamu juga mencintai Dimas! Aku hanya memintamu menggoda, bukan tidur denganya! " jengkel Kiara karena tahu jika Ana sudah melakukan hubungan dengan Dimas dan berulang kali memaki Ana di rumah sakit sewaktu Ibunya masih di rawat.


Dimas yang baru datang bersama Tyo dan juga Andre langsung menampar keras Kiara, membuat Rena membulatkan mata terkejut sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangan, demi menekan suara terkejutnya.


" Dimas! apa Kamu sudah tidak waras?! berani sekali Kamu menamparku! " marah Kiara ke arah lelaki dengan pakaian kerja itu.

__ADS_1


" Kamu bahkan pantas mendapat lebih dari ini! " tegas Dimas geram mengetahui jika mantan istrinya yang telah berniat menghancurkan rumah tangganya.


" Aku sudah mengatakan jika Aku tidak akan membiarkan mu bahagia selain denganku Dimas! apa yang telah Aku lakukan sama sekali tidak salah! " tak terima Kiara akan perlakuan mantan suaminya.


" Kamu yang sudah meninggalkanku juga Aulia, dan Kamu bahkan tak menginginkan Aulia yang Kamu anggap sebagai penghambat karir Kamu! apa pantas Kamu mengatakan hal itu sekarang?! dasar gila! " geram Dimas mencoba menahan suara dalam amarahnya karena tak ingin terdengar oleh orang lain.


" Aku masih mencintai Kamu Dimas! untuk itu Aku melakukan hal itu! " tegas Kiara meski masih tak menginginkan Aulia hingga saat ini, bahkan tak ingin melepas karirnya.


" Cukup! " singkat Dimas, berlalu pergi menarik istrinya.


" Dimas! " teriak Kiara melihat mantan suaminya pergi begitu saja.


" Cukup mba! atau Aku laporkan mba ke polisi karena sudah mendalangi penjebakan mas Dimas! jika mba masih mengganggu keluarga mas Dimas, maka Aku engga segan buat mba mendekam di dalan penjara! " tegas Tyo penuh ancaman dan mengajak Ana serta Andre masuk ke dalam meninggalkan sendiri Kiara tanpa mendengar ucapannya lagi.


Tyo secepatnya menghubungi Rian untuk kembali membuka kasus Kakaknya, dan membuat Kiara bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri. Sementara Dimas dalam perjalanan hanya diam di samping istrinya, membiarkan Pak Adi membawa mereka berdua kembali pulang dan akan menemui Ana esok hari bersama Rena.


Dalam diam, Ia menyandarkan kepala pada pundak istrinya sambil mengusap lembut berut besar perempuan yang sangat Ia cintai itu. Tendangan dari calon buah hatinya, mampu menenangkan hati Dimas. Walaupun Ia akan memilik 3 orang anak, namun baru sekarang Ia merasa benar benar menjadi seorang calon Ayah. Tendangan janin yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya, kini begitu dinikmati setiap hari.

__ADS_1


Karena ketika Aulia di dalam perut, Kiara yang tak pernah mengharapkan anak tak mengijinkan Dimas merasakan tendangan dalam perutnya, bahkan ketika Brian di dalam kandungan Ia juga melewatkan masa masa bahagia sebagai calon Ayah. Rena tak berani menegur lelaki yang kini mencium lembut bibirnya, karena tak ingin membahas apapun yang akan membuat suaminya teringat masa menyakitkan dalam hidupnya, Ia hanya membelai lembut rambut suaminya dan menenangkan amarah lelaki tersebut dengan senyum.


__ADS_2