
PLAGIAT? INGAT TUHAN ITU ADA. LEBIH BAIK SUSAH DI DUNIA DARIPADA DI AKHIRAT. NAUDZUBILLAHIMINDZALIK.
Menguatkan kaki untuk melangkah pergi dari pusara orang terkasih. Air mata tak henti membasahi, dada penuh sesak akan duka mendalam, semua dirasakan bersamaan oleh keluarga Almarhum kakek Dedrick. Semua nasehat, semua canda tawa, semua kasih sayang, semua perhatian, akan selalu ada dalam diri mereka. Tersimpan dalam, dan begitu dalam di hati keluarga.
Kepergian mendadak yang tak pernah di sangka, tanpa adanya sakit ataupun tanda lainnya. Dimas yang semalam masih sempat berbicara dengan kakeknya, tetap tak mempercayai apa yang terjadi. Begitu cepat, bahkan sangat cepat untuk pergi selamanya.
Kehidupan memang tak bisa kita tahu kedepannya, jangankan untuk satu hari bahkan satun detik kedepan pun kita takkan mengetahuia pa yang terjadi. Mungkin saat ini kita masih bisa bersama orang yang kita sayangi, tapi beberapa waktu lagi, bisa saja tangan yang selalu kita genggam, senyum yang selalu kita lihat, suara yang selal kita dengar, takkan lagi ada.
Begitu besar kuasa Tuhan, begitu indah mengatur kehidupan, begitu banyak rahasia yang tak bisa dipahami manusia. Waktu tak mungkin bisa kembali mengulang semua masa, mencoba menjadi yang terbaik di saat ini tanpa menunggu detik kemudian, itulah yang ajarkan Almarhum pada semua keluarganya.
Tak ada harta yang berguna, selain kebersamaan keluarga. Tak ada harta yang terbawa, sama seperti saat kita datang ke dunia ini, kitapun akan pergi tanpa membawa satupun harta. Untuk apa semua kesombongan karena sebuah hal yang tak pernah benar benar menjadi milik kita, untuk apa harus membanggakan diri akan jabatan juga kemewahan yang hanya di titpkan.
Jangan pernah menunda suatu kebaikan, jangan pernah menunda waktu untuk bisa membahagiakan siapapun, dan jangan pernah menunda kebersamaan dengan keluarga juga orang terkasih, jika bisa tinggalkanlah sejenak pekerjaan juga kesibukan untuk bisa menemani keluarga, orangtua juga orang orang terkasih. Karena semua takkan pernah bisa kembali walau kita menangis hingga darah bercucuran, saat kita sudah kehilangan.
__ADS_1
Banyak, sangat banyak petuah dari Almarhum yang terngiang jelas pada telinga Dimas dan menjadikannya sadar jika segala yang ia miliki, harta yang selalu bergelimang dalam hidupnya takkan pernah ada artinya tanpa adanya keluarga serta tawa mereka menemani.
Dimas tetap termangu dalam ruang sunyi kamar Almarhum kakeknya, mengingat semua yang pernah di ajarkan, mengenang semua kasuh sayang. ranjang tempat kakeknya menghembuskan napas terakhir, dirabawa lembut mencoba merasakan kehadirannya di ranjang beralas putih itu. Air matanya menetes begitu saja tanpa perintah ataupun ijin darinya. Telinganya terus terngiang jelas segala nasehat seta canda tawa juga godaan padanya.
"Mas" terdengar suara Rena memasuki kamar dan memecahkan seketika lamunan Dimas.
Wanita dengan hijab juga gamis putih itu menghampiri suaminya, memegang pundah lelaki tetap dengan peci membalut rambutnya. Matanya tetap mengeluarkan bulir air mata walau bibirnya mencoba tersenyum ke arah istrinya. Langsung Dimas meraih pinggang Rena dan meletakkan wajah pada perut wanita mendekap kepalanya erat, membiarkan suaminya meluapkan segala kesedihan juga air mata.
"Berat sayang, baru kemarin aku ngobrol sama kakek dan janji mau pulang minggu depan buat mancing bareng. Kenapa begitu cepat semua terjadi, aku belum siap" tangis Dimas berucap dalam kelemahan.
Walaupun tahu jika menyesal takkan pernah bisa merubah apapun, namun tak bisa menjalankan kewajiban membimbing ketika napas terakhir kakeknya terhembus, amat kuat menghampiri Dimas. Ia terisak dalam dekapan wanita yang juga tak bisa menahan air mata itu.
"Mas harus kuat ya, kita semua kehilangan tapi air mata hanya akan membuat langkah kakek sangat berat. Lebih baik mas wudhu dan mengaji untuk kakek" ucap Rena mengusap lembut rambut suaminya.
__ADS_1
"Tyo dimana?" tanya Dimas mengangkat kepala menghapus semua air mata.
"Dia sendirian engga mau di ganggu di kamar mas" jawab Rena mengetahui dari Siska.
"Aku lihat Tyo dulu ya sayang, habis itu ngaji bareng sama dia" lirih Dimas di angguki istrinya.
Sebelum menemui adiknya, Dimas lebih dulu mencuci muka agar tak terlihat wajahnya usai menangis. Ia harus bisa kuat demi menenangkan adiknya. Dimas tahu seberapa rapuh sebenarnya Tyo selama ini, ia tak bisa menunjukkan air mata pada adiknya yang akan membuat adiknya semakin bersedih.Usai menyegarkan wajah, Dimas melangkah menghampiri Tyo di kamarnya, Tyo akan selalu memilih sendiri ketika bersedih sama seperti yang selalu dilakukannya dari kecil, dan hanya Dimas yang mampu menguatkan adik tersayang nya.
"Dek" panggil Dimas melihat Tyo duduk di lantai bersandar pada ranjang, menekuk lutut menyembunyikan wajah dengan air matanya.
Tyo langsung memeluk Dimas, menyusupkan wajah pada dada kakaknya dan terisak di sana. Walaupun seorang laki laki, Dimas tak pernah melarang adiknya bersandar dan menggunakan dada ataupun bahunya sebagai tempat sanadaran dari mereka kecil. Tyo pun tak lagi terpikir akan dirinya yang juga laki laki, menangis dan meletakkan kepala pada dada ataupun pundak kakaknya, adalah hal ternyaman yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan beban hatinya.
"Nangis dek, luapin semuanya tapi mas minta ini untuk yang terakhir kamu nangis untuk kakek, kita harus bisa kuat mengikhlaskan" ucap Dimas mendekap erat adiknya yang meraung seperti anak kecil.
__ADS_1
Bagi Tyo hanya Dimas dan kakeknya yang selalu menjadi tempatnya bersandar selama ini. Walaupun ada Papanya, Tyo tak pernah bisa selepas dengan kakak juga kakeknya pada Teddi.
Puas meluapkan segala kesedihan hatinya, Dimas mengajak adiknya untuk mengambil wudhu yang mengaji bersama. Air mata membasahi wajah adiknya, di usap lembut oleh jari jemari seorang kakak dengan penuh kasih terhadap adiknya. Meski sudah dewasa, keduanya tidak pernah malu menunjukkan kasih sayang satu sama lain.