
STOP PLAGIAT!
Begitu memasuki kamar tamu, tanpa menunggu lagi Dimas melancarkan aksinya dengan begitu lembut. Namun suara memekik dari Rena membuat harus berhenti ketika Ia mulai menyusuri ujung benda kenyal istrinya dengan jari lembutnya.
" Kamu kenapa sayang? " khawatir Dimas melihat wajah Rena memercing menahan sakit.
" Nyeri mas " sahut Rena masih memercingkan mata, semakin membuat Dimas khawatir.
" Kita ke Dokter ya, Aku takut Kamu kenapa kenapa " ucap Lelaki yang masih membungkukkan badan di atas istrinya dengan amat khawatir.
" Engga usah mas, mungkin mau datang bulan. Biasanya emang gini kok " jelas Rena.
" Maaf ya mas " tambah Rena merasa bersalah harus menghentikan suaminya.
" Engga apa apa sayang, bisa lain waktu juga " senyum menghiasi wajah tampan dengan tangan mengusap lembut sisi wajah Istrinya.
Rasa khawatir tak bisa di sembunyikan oleh lelaki yang tengah membantu mengaitkan pakaian dalam itu. Pertama kalinya Ia melihat Rena begitu kesakitan, dan membuatnya takut akan sesuatu pada istrinya.
Genggaman pada tangan perempuan di samping nya terus Dimas lakukan agar membuat istrinya tenang, meski sudah tak merasakan nyeri lagi pada salah satu bagian sensitif nya.
Masih terus menggenggam tangan perempuan dalam dekapannya, Dimas meraih remot pendingin udara dan mulai menyalakannya. Seketika perut Dimas merasa di aduk dan terasa sangat mual begitu parfum yang tergantung pada pendingin udara mulai tercium hidung mancung nya.
Bergegas Ia berlari ke kamar mandi dengan terus menutup mulut menggunakan telapak tangan, tanpa henti mengeluarkan suara mual dan dengan cepat Rena mengejar suaminya ke kamar mandi dengan rasa khawatir seperti di tunjukkan oleh Dimas tadi.
Kedua tangan Dimas tumpukan pada meja marmer wastafel kamar mandi, sambil terus menunduk mencoba mengeluarkan semua isi perut. Sudah beberapa kali Ia mencoba hingga mengeluarkan air mata, namun tak ada satupun yang keluar dari mulut terus mengeluarkan suara mual itu.
__ADS_1
Tengkuk terus coba di pijat oleh Istrinya diiringi tatapan penuh khawatir juga kasihan, karena melihat suaminya begitu tersiksa oleh rasa mual begitu hebat. Keringat mulai membasahi wajah Dimas yang langsung Ia basuh dengan air sekalian berkumur. Tubuhnya seakan melemas dan bersandar pada meja wastafel terhias kaca oval di belakangnya.
" Mas, Kamu kenapa? " khawatir Rena melihat buliran keringat mulai membasahi lagi wajah suami yang memegangi perut dengan lemas.
" Engga tahu sayang, masuk angin kaya nya" lirih Dimas masih merasa begitu tak nyaman.
" Ya udah, mas rebahan dulu ya Aku buatkan minuman hangat " pinta perempuan dengan wajah masih begitu khawatir.
Perlahan Rena menuntun suami nya untuk kembali menuju tempat tidur agar lalaki yang masih memegangi perut itu bisa merebahkan diri dan beristirahat. Namun lagi lagi rasa mual mendera Dimas begitu melangkah keluar kamar mandi, dan memaksa dirinya harus kembali merasakan siksa untuk mencoba mengeluarkan lagi isi perut yang tak kunjung keluar. Tubuh semakin lemas di tunujkkan oleh lelaki yang menemoelkan dada pada meja wastafel, sembari wajah terus menunduk.
" Sayang, kamar tamu bau banget " lirih Dimas tak menyukai aroma pengharum ruangan yang sudah sangat menyebar di dalam kamar tamu.
" Aku cuma bau parfum aja mas, engga ada bau lain " bingung Rena sambil mengusap punggung suami nya.
" Ya udah Aku matiin dulu ya AC nya " tambah Rena lalu berjalan keluar kamar mandi, dan mematikan pendingin udara.
Ia merebahkan tubuh suami nya di atas sofa oanjang ruang tamu serta membuka lebar kedua pintu rumah nya, agar udara segar dapat masuk ke dalam rumah dan bisa menyegarkan hidung suaminya.
Dengan melangkah cepat, Rena menuju ke arah dapur membuatkan minuman hangat untuk lelaki yang kini meringkuk di atas sofa panjang ruang tamu.
Segelas lemon hangat sudah siap untuk membantu meringankan rasa mual Dimas, dan segera Rena bawa ke ruang tamu. Pelan pelan Ia membantu suaminya duduk dan membantunya untuk minum, dan kembali merbahkan tibuh suami nya lagi.
" Aku telpon Dokter Bram ya mas " ucap Rena masih duduk di samping oerut suaminya yang memegangi perut dengan begitu lemas.
Anggukan kepala di gunakan Dimas untuk memberi jawaban pada istrinya, dan segera Rena meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja dari tadi. Nomor Dokter pribadi Dimas langsung di tekan pada layar ponsel, yang tak perlu menunggu lama sudah terdengar suara serak dari ujung telpon.
__ADS_1
Rena menjelaskan tentang kondisi suaminya agar Dokter bisa membawakan obat yang sesuai tanpa perlu lagi untuk menebusnya di apotik. Dokter yang selalu sigap terhadap kesehatan cucu pemilik rumah sakit, langsung bergegas menuju kediaman Dimas segera setelah panggilan telpon terputus.
" Mas, sebentar sepertinya itu anak anak " pamit Rena mendengar suara pagar rumahnya terbuka dan Ia pun berjalan ke teras rumah melihat siapa yang datang.
Mobil audi hitam milik Dimas mulai memasuki rumah dan terlihat Auli sudah menampakkan senyum lebar dari jendela samping kemudi memanggil Maminya. Bergegas perempuan dengan senyum mengembang itu menuruni beberap anak tangga di teras untuk menghampiri anak anak nya.
Tangan lembut kini mulai membuka pintu mobil membantu putrinya turun dan langsung memeluk nya, di susul dengan Brian segera turun dari pangkuan Bi Lastri di jok belakang.
" Pak, habis ini Dokter Bram kesini nanti langsung suruh masuk aja ya " ucap Rena sudah menggendong Brian dan merangkul pundak putrinya begitu ketiga pekerja rumah nya turun dan menyapanya.
" Bapak sakit Bu? " tanya Bi Lastri sopan.
" Iya Bi, Bapak mua mual terus " sahut Rena langsung membulatkan mata putrinya.
" Papi sakit Mi? sakit apa? " khawatir Aulia langsung berlari kedalam tanpa menunggu jawaban dari Maminya yang menyusul di belakang.
" Papi sakit apa? " tanya Aulia khawatir dengan menjadikan lutut sebagai penopang tubuhnya, seraya mengusap lembut kening Papinya hingga rambut.
" Engga sayang, Papi baik baik aja cuma masuk angin " sahut lelaki yang mulai menyeka air mata di wajah cemas putrinya.
" Engga boleh nangis, Papi engga apa apa " tambah Dimas mengembangkan senyum dan cepat di peluk putrinya.
" Auli sayang Papi, Papi harus cepat sembuh engga boleh sakit " seru tulus Aulia dengan memeluk Papinya.
" Iya sayang, Papi juga sayang Kamu " sahut lelaki dengan senyum mengembang mengusap lembut punggung putrinya.
__ADS_1
Melihat Aulia begitu khawatir dan menunjukkan rasa sayangnya pada Dimas, membuat Rena menitikkan air mata haru melihat pemandangan di depannya.