Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 126


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Berhari hari Rena menutupi luka pada tubuhnya dengan terus mengenakan pakaian lengan panjang supaya semua orang di rumahnya tak mengetahui akan luka lebam yang menghiasi sekujur tubuhnya itu. Pelipis dengan balutan perban membuat Rena harus berbohong pada putrinya jika Ia terjatuh di kamar mandi, meski kedua asisten rumah tangganya sudah mengira jika itu adalah hasil dari pertengkaran hebat antara kedua majikannya, mereka mempercayai ucapan Rena karena tak memiliki hak apapun untuk bertanya.


Meski harus menahan sakit ketika putranya minta gendong sera Aulia yang kadang menyandarkan kepala pada lengan sakit Rena ketika menonton TV, Ia tetap membiarkan anak anaknya melakukan hal seperti biasanya dan terus memberikan perhatian serta kasih sayangnya kepada Brian juga Aulia tanpa membedakan antara anak kandung juga anak tiri sama sekali.


Sebisa mungkin, perempuan dengan trauma di dalam dirinya itu mencoba menghindari Dimas karena tak ingin mendapat perlakuan yang sama. Ia selalu bangun pukul setengah tiga dan pergi ke kamar Aulia setelah membersihkan diri dan melakukan ibadah, lalu mengerjakan semua kewajibannya tanpa Ia lupa untuk selalu menyiapkan makan juga pakaian suaminya meski tanpa ingin melihatnya.


Dimas merasakan jika Rena tengah menghindari dirinya, selalu berangkat ke kantor pagi hari dan kembali saat malam ketika istri juga anak anaknya sudah tertidur pulas. Perasaan bersalah yang menyakiti hatinya sendiri saat melihat tubuh lebam yang belum pulih dari tubuh Rena begitu menyiksa batinnya. Ia ingin berbicara pada istrinya untuk meminta maaf tapi tak tahu harus memulai darimana karena Rena terus menghindar dan semakin membuatnya sangat tersiksa sendiri. Hari harinya Ia lewati hanya dengan bekerja dan bermain musik di kafe miliknya tanpa sedikitpun ingin pulang lebih awal meski putrinya terus menghubungi dirinya menanyakan tentang keberadaan Papi yang tak pernah bisa Ia lihat lagi.


Ibu dari dua anak itu tahu jika kedua anaknya begitu merindukan Papinya, dan Ia harus bisa melupakan semua rasa traumanya pada Dimas agar bisa berbicara pada suaminya meminta agar Dimas mau memberikan sedikit waktu bagi kedua anak mereka yang selalu menanyakan tentang Papinya setiap hari. Lima hari sudah Ia menghindari suaminya, dan memutuskan untuk menunggu suaminya pulang kerja agar bisa mengutarakan semua perasaan anak anaknya. Dimas selalu pulang tengah malam dan memaksa Rena terjaga demi Brian juga Aulia untuk mencoba mengembalikan kasih sayang dan perhatian juga waktu Papinya pada mereka.


Dimas yang mendapati Rena masih duduk di atas tempat tidur dengan membaca buku tebal berwarna hitam tersebut menghentikan langkahnya sesaat dan bergegas ingin kembali ke bawah untuk tidur di kamar tamu saja karena tahu jika Rena tak ingin melihat wajahnya.


" Tunggu, Kita harus bicara soal anak anak " seru Rena beranjak dari posisi nyamannya menghentikan langkah Dimas yang menutup pintu dan duduk di sofa.


" Kenapa anak anak? " tanya Dimas menundukkan pandangannya.

__ADS_1


" Mereka kangen sama Kamu, tolong Kamu luangkan waktu buat mereka. Permasalahan ini cuma antara Kita jadi jangan buat mereka juga menderita " ucap Rena duduk di tepi tempat tidur begitu jauh dari Dimas.


" Iya, Aku akan usahakan untuk itu. Apa ada lagi? " sahut Dimas masih tak menatap Rena karena perasaan bersalah dan tak ingin istrinya takut saat menatap wajah yang mengingatkannya pada pertengkaran hebat mereka.


" Engga ada " singkat Rena lalu tidur dengan memiringkan tubuh dan menyelimuti dirinya. sampai atas.


Dimas menatap tubuh istri yang memunggunginya dengan pilu serta sesak dalam dadanya. Ia menyandarkan diri di sandaran sofa seraya memijat keningnya dengan mata masih tertuju pada Rena.


" Sampai kapan Kita kaya gini Ren? " tanya Dimas dalam hati.


Esok harinya Dimas sengaja diam di rumah karena hari libur, Ia ingin mengajak kedua anaknya jalan jalan dan langsung membuat keduanya senang saat Dimas mengatakan hal itu. Dimas mengajak Bi Lastri agar bisa membantu menjaga Brian dan Aulia karena Ia tak berani untuk mengajak Rena.


Ketika mereka akan berangkat, Aulia bertanya kepada Maminya yang tak ikut namun Rena menjelaskan jika Andin dan Sonya akan datang dan meminta mereka pergi bersama Bibi dan Papinya. Dimas yang tahu jika Sonya juga Andin tengah ada di Paris bekerja bersama Papa mertuanya hanya diam saja mendengar istrinya berbohong dari dalam mobil. Meski mobilnya telah melaju untuk keluar halaman rumah, mata Dimas tak henti menatap istrinya yang masih berdiri dengan memakai daster yang Ia lapisi dengan kardigan putih untuk menutupi lukanya. Tak ada senyum ataupun lambaian tangan seperti dulu ketika istrinya mengantar dirinya hingga depan rumah dan menunggu sampai mobilnya keluar. Dimas benar benar merindukan semua dari diri Rena yang tak bisa Ia dapatkan entah sampai kapan karena kebodohannya sendiri.


Siska juga Tyo yang baru kembali langsung menemui Rena di rumahnya ketika perempuan tersebut tengah membersihkan kamar bermain anak anaknya yang kini semakin banyak mainan di dalamnya.


" Mbak, lagi ngapain? " tegur Siska mengejutkan Rena dan langsung menghentikan kegiatannya begitu melihat adik ipar yang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


" Sis, kapan balik? sebentar mbak cuci tangan dulu ya " sahut Rena bahagia melihat adik iparnya datang.


Rena meninggalkan Siska untuk membersihkan tangannya lalu kembali dan memberikan salam pada Siska dengan pelukan serta ciuman pipi kanan kiri.


" Mas keluar mbak? " tanya Tyo yang baru menyusul masuk ke dalam usai memarkirkan kendaraan.


" Iya Dek sama anak anak. Kalian kapan balik? gimana kabar Kalian? " sahut Rena mengajak mereka duduk di ruang tengah dengan meminta Bi Ijah membuatkan minum serta membawakan kue untuk mereka.


" Semalam mbak, mbak kok engga ikut keluar " ucap Tyo.


" Engga, mba mau bersihkan tempat main anak anak biar ganti suasana aja Dek " jelas Rena.


" Oh ya mba, Aku mau tanya tanya soal kehamilan sih sama mba makanya langsung ajak mas Tyo kesini " ucap Siska mengejutkan Rena dengan ekspresi bahagia.


" Kamu hamil Dek? " seru Rena bahagia di balas senyuman oleh Tyo juga Siska dengan anggukan kepala mereka bersamaan.


Rena memberikan selamat pada Adik serta Adik iparnya atas kehamilan pertamanya. Ia begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Siska karena yang Rena tahu jika Adik ipar nya itu belum siap menjadi seorang Ibu karena kesibukannya.

__ADS_1


__ADS_2