Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 127


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Rena, Tyo juga Siska terus saja mengobrol dengan pertanyaan seputar kehamilan hingga sore hari Dimas juga anak anaknya serta Bi Lastri kembali yang terpaksa Rena harus memaksakan senyum ke arah lelaki yang menyapa Tyo tersebut.


" Kasih salam sama Tante dong " ucap Rena pada kedua anaknya yang langsung duduk di antara Tante juga Maminya itu.


Brian juga Aulia mencium tangan tante serta om nya tersebut dengan cubitan gemas dari Siska untuk mereka. Dimas yang masih berdiri dengan menatap Rena mengembangkan senyumnya kecil karena bisa melihat istrinya tersenyum meski bukan untuknya.


" Oh ya, Tante punya oleh oleh buat kalian loh " ucap Siska meminta suaminya untuk mengambil beberapa oleh oleh yang lupa mereka bawa masuk tadi.


" Tuh Pi, Tante aja bawa oleh oleh masa Papi engga sih " celetuk Aulia tertawa kecil ke arah Papinya.


" Oh iya Papi lupa, Papi punya kok oleh oleh buat kalian sama Mami " sahut Dimas namun tak di hiraukan oleh Rena yang menundukkan pandangannya.


" Iya? mana Pi? " tanya Aulia kegirangan.


" Nanti ya, Papi belum sempat bongkar koper. Nanti Auli sama Brian bantu Papi ya" sahut Dimas yang masih membiarkan kopernya tergeletak di kamar tanpa membukanya sama sekali karena masalah dengan istrinya.


" Oke Pi " sahut Aulia tersenyum.


Tyo yang kembali membawa banyak barang di tangannya di sambut girang oleh Aulia dan Brian yang langsung mengambil oleh oleh yang di berikan oleh Om nya.


" Itu ada dari Kakek Teddy, Kakek Erwin sama Kakek buyut. Ini dari Nenek buat Auli " ucap Tyo menunjuk beberapa barang yang di kemas berbeda.


" Nenek kok engga kasih Adik juga? " tanya Aulia polos melihat hadiahnya hanya satu.


" Nenek kan engga tahu kalau Adik di sini sayang" ucap Rena tersenyum.

__ADS_1


" Iya ya, ya udah ini nanti Kita bagi ya Dek " sahut Aulia menunjukkan bungkusan dari Natalie ke arah Brian.


Rena merasa bangga dengan putrinya yang begitu menyayangi Brian bahkan mau berbagi segala hal dan selalu mengalah pada Adiknya meski tanpa di suruh.


" Mbak maaf ya, itu pelipis mba kenapa? " tanya Siska yang penasaran dari tadi.


" Oh ini mba engga hati hati waktu di kamar mandi jadinya jatuh " kilah Rena lembut seraya mengembangkan senyum.


" Udah ke Dokter mba? bareng Kita yuk habis ini Aku juga mau ke Dokter udah janjian " ajak Siska.


" Engga usah udah mau sembuh kok " sahut Rena.


Dimas yang tak tahu jika luka di pelipis istrinya adalah akibat dari perbuatannya ketika mendorong tubuh Rena menyingkir dari pintu tak langsung mempercayai ucapan Rena begitu saja. Lelaki yang duduk di sandaran tangan sofa sebelah Adiknya itu terus menatap Rena tanpa henti hingga Siska dan Tyo pamit untuk pergi hendak ke rumah sakit memeriksakan kandungan Siska. Rena beserta Dimas dan kedua anaknya mengantarkan pasangan yang tengah berbahagia akan kehadiran calon buah hati mereka ke teras rumah menunggu hingga mobil yang mereka naiki keluar dari area rumah Dimas.


" Mandi yuk, anak anak Mami bau " seru Rena mengajak kedua anaknya pergi meninggalkan Dimas yang kembali ke mobil mengambil laptop Rena yang sengaja Ia belikan waktu perjalanan pulang untuk mengganti laptop istrinya yang rusak.


Rena membantu Aulia serta Brian untuk mandi dan bersiap lalu membiarkan mereka bermain bersama Bi Lastri di bawah sambil nonton Tv sementara Ia pergi untuk membersihkan diri di kamar.


" Lagi mandi di kamar Pi " sahut Aulia melanjutkan kembali acara nonton tv bersama Adiknya dengan duduk di karpet sembari bermain.


Dimas yang masih berdiri di depan ruang kerjanya itu kembali masuk untuk mengambil laptop Rena yang baru dan membawanya ke kamar untuk Ia berikan pada istri yang masih diam tanpa ingin berbicara apapun meski selalu menyiapkan segala kebutuhannya setiap hari.


Langkah lelaki dengan laptop di tangan tersebut terhenti ketika sudah mulai memasuki kamar dan menatap seorang perempuan dengan balutan kimono handuk putih mencoba meraih punggung lebam untuk di oleskan obat di depan cermin almari. Bergegas Ia meletakkan laptop dan menghampiri Rena yang dengan cepat mengenakan kembali kimono yang telah Ia buka di satu sisi untuk mengobati luka akibat benturan keras saat kemarahan Dimas beberapa hari lalu.


" Rena, punggung Kamu.... " seru Dimas membuka kimono yang tengah berusaha di kenakan kembali oleh Rena. Matanya membulat tak percaya jika punggung istrinya juga mengalami memar karena Rena tak pernah menunjukkan luka tersebut.


" Engga apa-apa " ucap Rena yang berusaha menarik kimono untuk Ia kenakan kembali.

__ADS_1


" Aku bantu kasih obat " sahut Dimas meraih salep di tangan istrinya dengan nada lirih dan tatapan mata bersalah.


" Engga usah, Aku bisa sendiri " seru Rena.


Dengan menarik lembut tangan istrinya duduk di tempat tidur, Dimas duduk di belakang Rena dan mulai membuka kimono yang membuat istrinya sedikit risih karena tak ada lagi yang membaluti tubuhnya selain kimono handuk yang Ia kenakan usai mandi. Perempuan yang masih terbayang akan kasarnya Dimas, tak berani menolak yang mungkin akan kembali menyakiti tubuhnya lagi nanti.


" Maafin Aku, Aku udah sakiti Kamu sampai kaya gini " seru Dimas tulus menyesali perbuatan yang meninggalkan banyak luka untuk istrinya hanya karena amarah akan rasa trauma yang tiba tiba muncul.


" Iya " singkat Rena menutupi bagian depan tubuhnya dengan meraih selimut yang masih terlipat.


Dengan lembut, Dimas mengoleskan salep di punggung istrinya menggunakan cotton bud yang tadi di kenakan Rena untuk mengobati sendiri memar yang ada pada punggungnya. Ia mencium lembut tengkuk istrinya yang mulai memejamkan mata akan sentuhan bibir Dimas dengan memeluk tubuh yang sudah kembali ditutupi oleh kimono oleh suami yang benar benar merasa bersalah juga masih sangat merindukan istrinya.


" Terimakasih " ucap Rena berdiri usai melepaskan pelukan yang melingkar di perutnya.


" Rena, sampai kapan Kita seperti ini? " tanya Dimas mengangkat wajahnya menghadap Rena dengan tangan menahan istrinya untuk pergi.


" Aku minta maaf sama Kamu, Aku tahu Aku salah tapi kalau Kita kaya gini terus kasihan anak anak Ren. Aku janji engga akan lakukan hal itu lagi tapi tolong maafkan Aku kali ini " tambah Dimas.


" Aku udah maafin Kamu, Aku juga salah disini harusnya Aku engga sentuh pekerjaan saat Kamu dirumah " sahut Rena.


" Aku yang engga bisa ngertiin Kamu, Aku cuma terlalu kangen sama Kamu sampai hilang akal dan perlakukan Kamu kasar, Aku menyesal Rena " ucap Dimas dengan tulus.


" Aku juga kangen sama Kamu, Aku harap Kita engga bertengkar lagi dan bicarakan semua dengan baik " sahut Rena


" Iya Aku janji, makasih sayang " ucap lelaki yang bangkit dari duduk dan memeluk istrinya


" Aku cinta sama Kamu " ucap Dimas memegang sisi wajah Rena yang menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


" Aku juga " sahut perempuan yang dengan tulus memaafkan suaminya tanpa menyimpan sedikitpun dendam dalam hati.


Kebahagiaan terukir jelas di dalam mata yang saling memandang tanpa sedikitpun kehilangan senyum yang mereka tunjukkan sebagai rasa bahagia karena bisa kembali berdamai.


__ADS_2