Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 167


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Keesokan harinya, Dimas memenuhi janji yang sudah Ia berikan pada wanita yang telah melahirkannya. Ia mengajak Aulia dan Brian untuk mampir ke rumah Tyo, sepulangnya menjemput Aulia di sekolah.


Mata penuh haru ditunjukkan wanita dengan pakaian celana jeans pendek serta kaos hijau tua tersebut ketika menyambut anak juga kedua cucunya. Tubuh Brian yang masih dalam gendongan Papinya langsung Ia raih dengan mata berkaca kaca.


"Ini nenek sayang," lirih Natalie di telinga bocah kecil yang ingin kembali pada dekapan Papinya.


"Belum kenal Ma, makanya engga mau," ucap lelaki yang sudah meraih kembali tubuh putra yang hendak menangis itu.


Aulia sudah mencium tangan neneknya dan langsung masuk ke dalam bersama Siska yang sudah mengajaknya untuk mengambil kue di dalam. Natalie sengaja menyiapkan kue, es krim juga puding coklat kesukaan Aulia begitu tahu jika cucunya akan datang.


Dimas, Natalie dan Brian duduk di ruang tamu untuk membujuk bocah kecil tersebut mau bersama Neneknya. Namun Brian yang tak pernah bertemu dengan Natalie sebelumnya, tetap tak ingin ikut dan malah memeluk Papinya erat tanpa ingin melihat nenek yang terus membujuknya.


"Papi, pulang.." rengek Brian tak ingin berada lama lama d km tempat Om nya.


"Baru juga datang nak, nanti dulu ya Papi masih capek. Itu di luar masih panas, lagian Mami juga engga ada di rumah nanti Kamu rewel lagi," jelas Dimas panjang lebar pada putranya, karena memang istrinya harus pergi bersama Papanya untuk bertemu dengan teman lama Erwin yang membantu pembukaan butik putrinya.


"Engga mau, Aku mau pulang," rengek Brian kembali seraya ingin menangis.


"Haduh kalau udah gini susah banget Kamu ya di atasi. Makan kue sama Kakak ya? atau mau lihat kura kura?" bujuk Dimas menepuk lembut punggung putra yang masih erat memeluknya.

__ADS_1


"Pulang," tetap Brian terus merengek sudah mulai menangis dan cepat di ajak berdiri oleh Papinya.


"Sini biar sama Mama," pinta Natalie melihat putranya kualahan mengatasi tangis Brian yang semakin kencang.


Ketika Natalie kembali mencoba meraih tubuh cucunya dari belakang, Brian semakin kencang menangis hingga membuat Papinya menjauhkan telinga. Sikap putranya tak pernah mampu di atasi Dimas saat sudah merengek dan keras kepala seperti dirinya. Ia pun mulai meraih ponsel yang Ia hubungkan pada istrinya agar bisa membujuk bocah kecil yang tak henti menangis ingin pulang.


Suara kalut Dimas dari ujung telpon juga tangis putranya, membuat Rena tersenyum dan meminta ijin untuk keluar sebentar demi bisa menenangkan putranya. Sambungan telpon yang sudah dimatikan dan menghubungkan kembali dengan video call, memudahkan seorang Mami yang penuh kelembutan dalam setiap ucapannya itu menenangkan Brian.


Beberapa kata lembut Rena, seketika mampu menenangkan putranya yang sudah membuat suaminya kualahan. Aulia dan Brian memang lebih mudah tenang dengan kasih sayang Rena, karena semua lebih dekat dengan perempuan penyabar itu daripada dengan Papinya.


Senyum dikembangkan Natalie mendengar setiap bujukan menantunya bisa cepat membuat cucunya menurut. Rasa kagum juga ditunjukkan di dalam binar mata yang menatap ke arah Dimas dengan memangku Brian di teras memegang ponsel yang masih terhubung dengan menantu lemah lembutnya.


"Tuh dengar kan kata Mami, engga boleh rewel kasihan Papi!" tegas Dimas pada putranya mengulang apa yang di katan Rena.


"Ya jangan ngomong gitu sayang, nangis lagi nanti. Kamu mau di jemput jam berapa nanti di rumah Kakek?" sahut Dimas masih memangku putranya.


"Nanti Aku kabari ya mas, ini belum selesai," jawab Rena sudah mendapat ijin suaminya untuk memiliki kesibukan di butik tanpa meninggalkan keluarga.


"Ya udah jangan lama lama, Aku udah kangen sama Kamu," manja Dimas diiringi senyum Natalie yang masih mendengarkan dari dalam ruang tamu.


"Iya mas, Aku juga udah kangen sama Kamu," jawab Rena tersenyum memperlihatkan wajah cantiknya di layar ponsel.

__ADS_1


"Ya udah hati hati ya, cepat selesai biar Aku bisa ketemu Kamu, udah ngidam mau peluk Kamu soalnya engga bisa di tahan lagi," alibi Dimas selalu menggunakan ngidamnya sebagai alasan untuk selalu bisa manja pada istrinya seperti anak kecil tanpa mau mengalah pada kedua anaknya.


"Alasan, ya udah Aku tutup ya mas? Brian ingat pesan Mami engga boleh rewel dan harus nurut sama Papi ya," ucap Rena lembut menatap putranya.


"Iya Mami, bye bye Mami.." seru lelaki dengan mengangkat tangan putranya melambai pada layar ponsel dimana perempuan cantik dengan rambut tergerai itu tersenyum.


Air mata seketika terurai dari kedua mata Wanita yang masih duduk mendengarkan dengan seksama pembicaraan putranya. Rasa bersalah karena telah memisahkan kedua orang yang saling mencintai dan sama sama membutuhkan itu kembali timbul begitu kuat dalam batin Natalie.


Melihat wajah Brian juga watak sama persis dengan Dimas waktu kecil, menambah rasa bersalah juga kesedihan seseorang dengan begitu kejam memisahkan istri yang tengah hamil dari suaminya.


Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika keduanya tak bisa bersama lagi, bagaimana keadaan putranya saat istrinya tak ada dulu. Melihat juga mendengar Dimas begitu manja dan sangat mencintai istrinya, mengingatkan kembali Natalie akan semua sikap buruknya pada Rena dan Dimas.


Andai saja dari dulu Ia mampu membuka pintu hatinya untuk Rena, mungkin tak akan ada kesedihan dan hanya kebahagiaan dalam rumah tangga mereka. Janji tulus Ia ucapkan dalam hati untuk tak pernah mengganggu hubungan anak juga menantunya lagi, doa pun Ia panjatkan penuh harapan besar agar kehidupan rumah tangga kedua anaknya bisa terus rukun dan bahagia.


"Mama kok nangis, Mama kenapa?" tanya Dimas sudah masuk dan duduk di samping Natalie mengusap lembut punggung wanita yang menyeka air matanya sendiri.


"Maafkan Mama Dimas, Mama sudah memisahkan Kamu dengan istri juga anak Kamu. Mama tahu kesalahan Mama mungkin berat untuk di maafkan, tapi Mama ingin kalian bisa memaafkan Mama agar hati ini bisa sedikit berkurang dari beban rasa bersalah," tangis Natalie kembali pecah mengatakan hal yang membuat putranya langsung memeluk dengan masih memegangi putranya.


"Jangan minta maaf Ma, lupakan semuanya dan Kita bisa memulai kehidupan baru bersama. Aku dan Rena sudah tidak ingin menoleh ke belakang lagi, Kami ingin menjalani hidup lebih baik ke depan bersama keluarga Kita. Terimakasih Mama sudah mau menerima istriku dan merestui Kami berdua," panjang lebar Dimas memeluk Mamanya dengan tulus.


"Seharusnya Aku berterimakasih sama Mama, karena perpisahan itu membuat Aku mengerti betapa berartinya Rena buat Aku, betapa Aku tidak bisa kehilangannya dan sangat mencintainya. Karena perpisahan itu juga membuat Kami yakin jika memang Kami sudah dijodohkan oleh yang di atas dan tidak akan pernah bisa untuk terpisahkan," tambah kembali Dimas merasakan besarnya cinta di antara keduanya usai perpisahan dua tahun itu.

__ADS_1


"Mama menyesal, sangat menyesal karena memperlakukan perempuan sebaik Rena seperti itu. Sekarang Mama sadar memang hanya Dia jodoh terbaik buat Kamu, Mama bahagia melihat Kamu seperti sekarang yang begitu sangat menyayangi keluarga Kamu," ucap tulus Natalie melihat perbedaan besar antara pernikahan pertama putranya dengan sekarang.


Dimas yang dulu gila kerja ketika menjalani pernikahan pertamanya bahkan tak pernah memiliki waktu untuk Aulia, kini malah mau menjaga kedua anaknya dengan tangan sendiri. Seorang laki laki yang pernah di sia siakan istrinya dulu demi sebuah pencapaian karir, kini bisa merasakan kebahagian utuh dalam hidupnya bersama orang orang yang Ia sayangi dan cintai. Bahkan rela mengorbankan semuanya demi kebahagiaan keluarga kecilnya. Sikap dingin dan acuh nya kini berubah 180 derajat menjadi sikap penuh cinta, perhatian bahkan tak segan menunjukkan kemanjaan juga keromantisannya di depan siapapun.


__ADS_2