
STOP PLAGIAT!! HARGAI SAYA JUGA KISAH KELUARGA SAYA!!
"Berapa lama lagi aku harus nunggu kamu? pulang, aku mohon. Kita bisa bicarakan semua sama keluarga, dan karir kamu juga bisa dilakukan dari sini." Dimas berucap pada seseorang di ujung panggilan.
"Bukan masalah karir, tapi kamu dan semua juga mau aku jadi orang yang memiliki pendidikan. Kita udah pernah bahas ini, dan kamu udah setuju. Jadi tolong," jawab seseorang di ujung panggilan.
"Auli nyuruh aku nikah sama orang lain, dia butuh Mami!" tegas Dimas bernada sedikit emosi akan penolakan berulang diterima.
"Nikah aja, belajar cintai orang lain. Aku yakin kamu juga akan bahagia sama Aulia, jangan nunggu lagi. Aku harus bisa nyelesein pendidikan dan jadi orang," sengaja seseorang di ujung panggilan berucap.
Dimas tidak melanjutkan pembicaraan dengan kekecewaan dirasakan. Ia memilih menutup panggilan sepihak, melempar ponsel ke atas ranjang di sampingnya. Semua seakan percuma seperti apapun ia memohon, tetap saja tak akan pernah terjadi seperti diharapkan.
Perkataan orang berarti dalam hidupnya itu, kini menjadi sebuah beban pikiran baru dan bercampur bersama permintaan putrinya. Dimas memutuskan cepat semua yang memang meminta dirinya segera mengambil keputusan.
Keputusan dalam emosi memang takkan pernah baik untuk di ambil, Dimas pun terus mencoba berpikir hingga dirinya mampu memantapkan hati. tentunya dengan keyakinan diberikan atas sebuah hubungan terlalu sulit dijalani, hubungan yang tak mampu di ungkapkan pada keluarga meski sudah terjalin cukup lama.
Hanya satu orang dalam keluarga yang mengetahui hubungan tersebut, dan sering diajak Dimas berbicara. Berusaha menjadi penengah diantara dua hati ingin bersatu namun ketakutan akan penentangan keluarga menjadi dilema tersendiri hingga membuat seseorang jauh disana semakin menjauh tiap hari dan menggores luka lebih dalam di atas luka sebuah perceraian.
__ADS_1
***
Suatu malam Dimas pun menjemput Rena dari tempat kost, mengajaknya untuk makan malam berdua di sebuah Cafe di Kota tempat mereka tinggal. Dimas mulai melajukan mobil Nisaan warna putih miliknya menuju Cafe tersebut. Tercipta keheningan diantara mereka berdua sampai tiba di sebuah Cafe dan memarkirkan mobil lalu masuk bersama.
Dimas menarik kyrsi untuk mempersilahkan Rena duduk, dan meninggalkan begitu saja menuju tempat piano. Sebuah lagu dimaninkan dengan suara memanjakan telinga, sengaja diberikan pada Rena dengan sebuah panggilan terhubung dalam saku celana lelaki di balik piano tersebut.
Merasa terkejut akan apa diucapkan lelaki membawanya makan malam mendadak, Rena melambungkan tanya dalam hati juga angannya. Hingga Dimas turun menghampiri dengan hati terus dibuatnya yakin, meski seseorang mungkin hancur saat ini akan apa yang dilakukan juga hendak di ucapkan.
"Saya memang bukan lelaki terbaik di dunia, tapi mungkin Saya bisa mencoba menjadi terbaik buat Kamu kelak. Will you marry me?" tanya Dimas berjongkok di samping tempat duduk seseorang menutup mulut menggunakan kedua tangan karena terkejut tak percaya.
Semua mata orang di dalam Cafe tertuju pada Dimas yang tengah menanti sebuah jawaban, begitu juga orang di ujung panggilan telpon masih tersambung untuk menjadi saksi malam ini.
"Saya serius dengan apa yang Saya katakan, mungkin memang Saya belum bisa untuk mencintai kamu dan semua ini atas permintaan dari Aulia. Tapi semoga dengan berjalannya waktu, Saya dapat mencintai Kamu hingga maut memisahkan. Bisakah Kamu memberikan kesempatan itu?" jujur Dimas.
"Iya, Saya mau." Rena mengangguk cepat.
Mendengar jawaban diberikan, seketika orang di ujung telpon mematikan panggilan. Ia tersenyum di kejauhan mendengar seseorang juga berarti dalam hidupnya telah memutuskan sebuah hal besar dalam hidup, dan berharap jika semua akan baik baik saja sampai kapanpun.
__ADS_1
Dimas mulai memasangkan cincin dalam jari manis Rena diiringi tepuk tangan pengunjung cafe. Rena mengiyakan ajakan itu, karena memang sudah lebih dulu memiliki perasaan pada Dimas semenjak melihatnya bermain piano dulu.
Antara terkejut dan bahagia ketika mendengar jika Dimas adalah seorang dudda, tapi dia tidak menyangka jika laki laki itu justru melamar dirinya malam ini. Semua bagaikan mimpi menjadi nyata, meski tanpa diketahui ada hati yang terluka namun tetap tertawa di tempat lain.
****
Tepat satu minggu usai lamaran di utarakan, pernikahan pun di adakan di sebuah hotel berbintang. Tak lain itu adalah salah satu aset dari keluarga Dimas yang tak pernah diketahui oleh Rena. Perempuan kini menyandang sebagai seorang istri itu hanya tahu jika Dimas seorang pianis terkenal yang terkadang mengisi di sebuah kafe untuk mengisi waktu luang.
Terlukis kebahagiaan di wajah Aulia akan sebuah pernikahan digelar meski tanpa kehadiran keluarga. Hanya beberapa rekan bisnis saja yang menghadiri acara tersebut. Mengetahui kebahagiaan putrinya, Dimas pun merasakan hal yang sama meski dengan adanya seseorang bahkan tak menyapanya.
Dimas sempat melihat sosok berarti itu menghadiri pernikahan, namun tak mendekat untuk menyapa. Hanya sebuah senyuman cantik diberikan dari kejauhan, membuat Dimas hancur akan senyum diberikan. Ingin sekali menghampiri, namun perjanjian diantara mereka membuatnya menghentikan langkah..
Setelah acara pernikahan tersebut, semua kembali kerumah dan membersihkan diri masing masing. Dimas masih menangkap senyuman yang jelas juga menyakiti hati seseorang masih mampu datang dan memberikan senyum ketulusan padanya.
Ia menyusul Rena yang sudah merebahkan diri di atas ranjang, mulai naik dan menyelimuti diri memunggungi Rena. Ia tak tahu harus melakukan apa karena hati masih saja bertentangan dengan akal sehat atas apa dilakukan. Menuruti permintaan putrinya mungkin keharusan, tapi untuk pernikahan ia belum begitu ingin melakukan.
"Maaf, aku tidak bisa melakukan kewajibanku sebagai suami. Kamu tau kan kenapa aku menikahimu? kamu juga tau kalau aku belum benar benar siap menjalin hubungan, karena pernah gagal dalam pernikahan pertama." Dimas berkilah tanpa mau mengutarakan kejujuran sebenarnya, meski memang kekecewaan karena pernikahan pertama juga menjadi sebab.
__ADS_1
"Iya, Pak. Saya mengerti semuanya. Perlahan Saya akan buka pintu hati Bapak untuk bisa masuk kesana," sahut Rena menahan air mata.
Kenyataan tak mungkin diungkapkan Dimas sepenuhnya atas permintaan seseorang melalui sambungan telpon, agar tak melukai Rena lebih dalam lagi. Keduanya mulai memejamkan mata untuk mengarungi mimpi masing masing dengan posisi saling memunggungi.