Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 138


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Rasa lelah yang mendera keduanya mengantarkan mereka pada mimpi indah bersama dalam dekapan begitu hangat dari kedua insan yang memiliki perasaan semakin kuat akan cinta yang kembali mereka rasakan seperti ketika awal merek saling mencintai dan melakukan kewajiban pertama kalinya.


Karena permainan berhasrat yang mereka lakukan berulang kali membuat keduanya harus terbangun saat matahari sudah sangat terik yang seketika mengejutkan Rena dalam dekapan suami yang sudah terbangun lebih dulu menatap wajah lelap istrinya.


" Jam berapa mas? kok gak bangunin Aku sih? " tanya Rena berusaha bangun dan menggulung rambutnya ke atas tak menyadari jika Ia masih mengenakan gaun tidur seksi yang semalam Ia kenakan untuk mengembalikan kehangatan rumah tangganya.


" Jam 10 sayang " jawab Dimas mengejutkan Rena yang langsung turun dari tempat tidur namun merasakan sakit pada bagian pinggang ke bawah hingga membuatnya memekik kesakitan ketika kakinya mulai menapak di atas lantai membuat suaminya khawatir dan mengangkat tubuh polos yang berbalut selimut itu melihat ke arah istrinya yang kembali duduk sambil melihat ke arah bawah tubuhnya.


" Kenapa sayang? "tanya Dimas khawatir memegang lengan istrinya.


" Sakit mas, Kamu sih engga mau berhenti semalaman " sahut Rena mengembangkan senyum gemas Dimas.


" Bukan Aku sayang, tapi ini yang engga mau Aku berhenti " goda Dimas menarik karet pada gaun tidur belakang istrinya yang semakin tampak menggoda ketika kulit putih Rena terkena sinar yang mengintip masuk melalui jendela.


" Genit" singkat Rena tertawa kecil ke arah suaminya.

__ADS_1


Dimas meraih sebuah celana pendek santai yang ada di atas tempat tidur dan mengenakan untuk menutupi tubuh bagian bawahnya dadi dalam selimut sebelum membantu istrinya ke kamar mandi. Dengan lengan yang semakin memiliki otot karena rajinnya ke gym, Dimas mengangkat tubuh yang masih berbalut gaun tidur hitam itu menuju kamar mandi untuk mereka membersihkan diri bersama sebelum turun ke bawah.


" Maaf Pak, ada telpon dari Mba Ana " seru Bi Ijah yang langsung menghampiri majikannya di ruang makan.


Lelaki yang masih diam tak bergeming mendengar ucapan asisten rumah tangganya itu engga untuk menjawab telpon dari sekretarisnya meski Tyo juga keluarga yang menyelidiki kasus Dimas meminta agar Ayah dua anak tersebut bersikap biasa saja demi melancarkan penyelidikan.


" Siapa Bi? " tanya Rena yang baru dari dapur dan membawa satu piring tempe mendoan yang Ia buat sendiri untuk dinikmati bersama Brian juga asisten rumah tangganya.


" Ana " singkat Dimas menjawab dengan wajah masih menunduk menikmati makanan di piringnya.


" Kok tahu nomor rumah? " tanya perempuan yang dengan perlahan meletakkan piring berisi gorengan tersebut ke atas meja dan meraih telpon rumah dari Bi Ijah untuk diberikan pada Dimas.


Dengan menghela napasnya panjang, Rena meletakkan telpon rumah tepat di telinga suaminya karena takut jika ada masalah perusahaan yang penting mengingat saat ini kedua sekretarisnya tengah berada di luar Kota untuk menghadiri pertemuan dengan klien. Meski tak ingin menerima panggilan yang mungkin akan menyakiti hati istrinya, lelaki dalam ekspresi malas itu berbicara pada Ana seperlunya ketika sekretarisnya bertanya akan apa yang sudah dijelaskan oleh Dimas sebelum mereka berdua berangkat.


Ana sebenarnya tak memiliki perlu dan sudah paham akan apa yang harus dilakukannya pada klien sengaja menghubungi lelaki yang kini mulai membentaknya karena sudah menjelaskan semuanya di awal. Ia hanya ingin membuat bos super perfect dalam segala hal itu untuk menghadiri sendiri pertemuan dengan klien agar Ia bisa melihat langsung wajah lelaki yang kini tengah ditenangkan oleh istrinya agar tak perlu emosi.


Lelaki dalam balutan pakaian santai duduk dengan memeluk pinggang istrinya itu dapat membaca niat Ana dari gelagat bicara setengah merayu dari sekretaris yang langsung Ia tolak untuk datang menyusul ke luar Kota karena sudah menghubungi langsung kliennya mengatakan jika dirinya tengah ada urusan penting sehingga meminta sekretarisnya untuk datang.

__ADS_1


" Jangan marah marah mas, engga baik buat kesehatan Kamu " pinta istri yang terus mencoba menenangkan suami dengan memeluk pundaknya selama telpon dengan Ana berlangsung.


" Aku engga tahan lagi sayang, rasanya engga cukup cuma maki maki aja. Kamu dengar sendiri kan gimana caranya ngomong sama Aku? kurang ajar gitu " sahut Dimas sudah menutup sambungan telpon yang sengaja Ia nyalakan pengeras suara dari telpon rumahnya agar tak ada yang ditutupi lagi dari Rena.


" Aku tahu mas, tapi kalau Kamu marah kaya gini yang takut Aku sama Brian loh " ucap Rena melihat wajah putranya yang ketakutan di depan ruang TV bersama Bi Lastri ketika Dimas mulai berteriak dengan kasar pada Ana.


" Maaf sayang, tapi Kamu jangan dekat dekat gini dong pinggang Kamu kan masih sakit " ucap Dimas seraya menggoda istri yang langsung melepas pelukannya dengan tersenyum membalas senyuman genit suaminya.


" Apa sih ujungnya pasti mesum Kamu mas" gerutu Rena tersenyum mencubit gemas pipi suaminya.


" Bukan mesum sayang, ketagihan " sahut lelaki yang kembali menarik pinggang istrinya tak pernah ingin melepas perempuan cantik yang telah membuatnya menggila.


" Setiap kali di pegang perutnya kenapa gitu sih? " protes Dimas ketika Rena mulai merasa geli dan menjauhkan diri dari suami yang tak hentinya bertingkah nakal juga manja.


" Geli mas " sahut Rena duduk di kursi samping suaminya untuk menikmati mendoan yang sudah Ia buat.


***

__ADS_1


Meskipun Ana masih terus berusaha mendekati Dimas, tapi lelaki tersebut tak pernah sedikitpun tergoda terlebih istrinya yang begitu cantik selalu membuatnya melayang setiap saat dalam perasaan cinta semakin besar diantara keduanya. Kehangatan rumah tangga yang sudah kembali karena sikap berani Rena menunjukkan sisi lain seorang istri membuat suasana keluarga kecil mereka terlihat makin harmonis juga hangat yang tak jarang sesekali keduanya saling mendaratkan ciuman di pipi satu sama lain saat tengah bersama anak anak mereka. Sedetikpun tangan Dimas tak pernah lepas untuk bisa mencuri kesempatan menarik istrinya mendekat tanpa memperdulikan tatapan asisten rumah tangga yang tanpa sengaja melihat kemesraan dari kedua majikannya.


Aulia juga Brian makin sering merengek untuk memperebutkan Mami yang terus di miliki sendiri oleh Papinya setiap kali menonton TV ataupun menemani keduanya bermain dan belajar. Tak jarang Dimas juga Rena menutup mata kedua anaknya ketika suami yang lebih sering meluapkan perasaan melalui kata kata juga perbuatan itu menginginkan untuk mencium kilas bibir istrinya. Hari hari yang mereka lalui bersama tak pernah menghilangkan senyum di wajah keluarga kecil dengan penuh canda juga godaan yang menghiasi rumah yang kini terasa lebih nyaman berhias cinta dan kasih sayang di dalamnya.


__ADS_2