
Selama 2 minggu berturut turut Rena setiap pagi nya selalu saja merasa mual membuat Dimas sangat khawatir dengan keadaan istrinya namun Rena selalu saja menolak untuk pergi ke rumah sakit karena memang masa magang yang tinggal sebentar lagi harus secepat nya ia selesaikan agar bisa cepat lulus dari kuliah dan bisa fokus dengan keluarga kecil nya.
Malam hari nya ketika sedang makan malam, Rena yang kembali mual karena bau uap sayur di meja makan langsung berlari menuju wastafel dapur dengan Dimas yang mengikuti di belakang nya.
" Kita ke dokter aja ya, aku khawatir sama kamu" pinta Dimas dengan wajah khawatir nya.
" Engga usah mas, ini palingan juga kecapekan aja" jawab Rena yang masih merasa perut nya tidak enak lalu di tuntun oleh Dimas ke meja makan untuk melanjutkan makan mereka dan lagi lagi Rena mual ketika mencium aroma masakan di sana.
" Kaya nya ibu hamil deh pak" seru bi Ijah di samping Dimas yang menggosok punggung Rena berusaha memuntahkan isi perut nya namun tak ada yang keluar.
" Apa mungkin ya bi, waktu itu juga bibi ngomong gitu tapi karena ada masalah aku jadi lupa bawa ke dokter" jawab Dimas mengingat kejadian pagi hari ketika mantan istri nya datang hingga ia lupa ke dokter kandungan.
" Bapak coba belikan alat tes saja dulu pak" saran bi Ijah pelan
" Iya ya bi, makasih ya bi" seru Dimas dengan harapan memang istri nya tengah hamil saat ini.
Dimas meminta tolong bi Ijah untuk memasak makanan yang di inginkan Rena, dan minta agar bi Lastri menemani Aulia makan sedangkan ia bergegas menuju ke apotik membeli alat tes kehamilan untuk Rena setelah membantu Rena duduk di teras agar mendapat udara segar.
Hanya butuh 20 menit Dimas sudah kembali membawa kantong plastik berwarna putih di tangan nya karena jarak apotik yang tak begitu jauh. Ia langsung menghampiri Rena yang memakan nasi dengan sambal mangga dan ikan asin di teras.
" Makan apa sih ini sayang" tanya Dimas heran melihat Rena memakan makanan seperti itu dengan lahap nya.
__ADS_1
" Enak loh mas, kamu mau? aku suapin ya" tawar Rena sambil mengambil satu suap nasi berisi sambal mangga dan ikan asin lalu di suap kan tanpa sendok ke mulut Dimas.
" Enak kan? " tanya Rena melihat ekspresi Dimas aneh.
" Aneh sayang tapi enak" ucap Dimas sambil mengunyah makanan nya.
" Mau lagi? " tanya Rena dengan mengambil satu suap untuk dirinya.
" Boleh, tapi suapin ya. Aku engga bisa makan tanpa sendok" seru Dimas yang duduk di hadapan Rena terbatas sebuah meja kecil di tengah kursi teras tersebut.
Rena menyuapi suami nya bergantian dengan diri nya sampai nasi nya habis namun Dimas masih mau lagi dan berteriak minta tolong bi Ijah untuk mengambilkan satu piring nasi hangat lagi. Bi Ijah dengan cepat membawakan satu piring nasi hangat menuju teras yang langsung di ambil oleh Rena.
" Bapak makan ini? " tanya bi Ijah heran melihat majikan nya mulai di suapi Rena hanya dengan sambal mangga dan ikan asin.
" Bibi heran ya? " seru Rena tersenyum melihat ekspresi bi Ijah keheranan melihat Dimas yang sangat lahap, meski Dimas tak pernah protes dengan semua makanan yang di masak pembantu nya namun baru kali ini Dimas memakan sambal dan ikan asin.
" Iya bu" jawab bi Ijah tersenyum
" Enak lo bi, coba aja" seru Dimas dengan mulut penuh nya membuat bi Ijah semakin heran dan melontarkan senyum heran nya.
" Iya pak, kalau begitu bibi permisi ya Pak, Bu" pamit bi Ijah meninggalkan majikan nya melanjutkan makan mereka.
__ADS_1
Dimas tak membiarkan mulut nya kosong sekalipun sampai sampai ia menarik tangan Rena yang hendak memasukkan makanan ke mulut Rena agar ia masukkan ke mulut Dimas saja membuat Rena tersenyum geli. " Gitu katanya aneh, tapi habis banyak" goda Rena tersenyum dan di balas cengengesan oleh Dimas.
Usai makanan mereka habis, Rena membawa semua wadah kosong nya ke dapur dibantu dengan Dimas di belakang nya lalu menghampiri Aulia yang sudah selesai dengan makan malam nya bersama bi Lastri sedang menonton acara kartun di ruang tv. Rena dan Dimas lalu duduk mengapit putri cantik nya yang tertawa terbahak melihat film kartun di hadapan nya.
" Oh ya sayang aku lupa, sebentar ya" pamit Dimas meninggalkan anak dan istri nya keluar mengambil kantong yang ia bawa dari apotek tadi lalu kembali menghampiri anak dan istri nya lagi.
" Nih, besok pagi kamu pakai" seru Dimas menyodorkan satu kantung berisi 5 alat tes kehamilan.
" Semua mas?" tanya Rena heran
" Ya engga dong sayang, satu aja yang di pakai, lain nya di simpan kalau masih butuh" jelas Dimas tertawa mendengar pertanyaan polos istri nya.
" Cara nya gimana mas? " Tanya Rena yang memang tak mengerti cara penggunaan alat tersebut lalu perlahan Dimas menjelaskan hingga Rena mengerti.
" Terus tau hasil nya gimana? " tanya Rena lagu yang memang sengaja Dimas tak memberitahu agar Dimas yang tahu lebih dulu hasil tes itu.
"Ya nanti kalau udah kamu kasih aku ya biar aku lihat, percuma aku jelasin kepanjangan nanti kamu pakai tidur hilang lagi, lupa lagi" ledek Dimas pada Rena hingga membuat Rena menatap jengah suami nya.
" Bercanda sayang" tambah Dimas mencubit lembut pipi Rena.
Mereka kembali fokus menemani Aulia menonton tv dengan Dimas yang meraih tubuh putri nya untuk ia pangku dan kepala Rena ia sandarkan di bahu nya menonton tv bersama sambil sesekali bercanda dan menggoda putri mereka yang semakin hari semakin bertambah berat semenjak kehadiran Rena, karena Rena yang selalu meminta putri nya selalu menambah makanan setiap hari.
__ADS_1