
STOP PLAGIAT!
Di rumah, Tyo dan Siska menunggu kabar dengan cemas. Masih menggendong tubuh Keno, Tyo tak henti melihat berulang ponselnya. Siska bersama Sandra juga duduk bersama Tyo yang masih merasa cemas.
" Papa, itu HP mau di lihat seribu kali sama aja persegi panjang engga bakal jadi bulat " celetuk Sandra duduk menyandarkan kepala pada pada pangkuan Mamanya.
" Sayang diam dulu ya, nanti aja ngomong nya kalau Papa udah bisa napas lega " lembut Siska tersenyum ke arah putrinya.
" What? Papa engga bisa napas? aduh gimana ini Mama, Akiu harus telpon rumah sakit milik Kakek buyut " terperanjat Sandra mondar mandir di hadapan kedua orang tuanya.
" Kalau Kamu mondar mandir di depan Papa kaya gini, yang ada napas Papa langsung berhenti! jalan kok kaya angsa aja " jengkel Tyo, membuat Siska tersenyum menepuk lembut lengan suaminya.
" Papa pasti terpesona sama kecantikan Akiu sampai berhenti bernapas ya? tenang aja Papa inces memang super cantik jadi Papa biasa aja, oke? " celetuk Sandra memainkan kedua tangan di wajah juga tubuhnya geol geol.
" Hamil dulu, ngidam cacing Kamu kayaknya " ucap Tyo jijik sendiri dengan tingkah putrinya.
" Salah arah mungkin Kamu bikinnya dulu, makanya jadinya kaya begini deh " sahut tawa Siska.
" Karantina sana, orang lagi cemas gini Dia malah kaya gitu. Bukan anak Aku udah Aku kurung di kandang macan kali " ucap Tyo terdengar oleh putrinya dan langsung mulai dengan dramanya.
" Mengapa dirimu begitu tega padaku Papa? apa kesalahan yang sudah Akiu perbuat hingga dirimu selalu menyakiti hati dan perasaan Akiu?" drama Sandra memasang wajah memelas dan mengibaskan rambut berulang.
" Duh pengen banget Aku tendang nih anak, sana lihat TV atau belajar sana jangan di depan Papa terus. Buta lama lama lihat Kamu, nih telinga juga panas banget dengar Kamu ngomong " celetuk Tyo jengkel.
" Mama... " seru Sandra terpotong langsung di ajak Sandra ke dalam usai menertawakan kilas suami dan anaknya.
Tak ada bedanya dengan Dimas yang selalu berdebat dengan Aulia ketika putrinya kecil, Tyo pun mengalami hal sama bersama Sandra. Sikap genit juga berlebihan putrinya tak jarang membuat Tyo jengkel, tak mengerti sifat siapa yang dituruni putrinya. Pasalnya Siska sendiri memiliki sikap lembut selama ini.
Tak sabar lagi menunggu orang tua ataupun Kakaknya memberi kabar, Tyo menghubungi sendiri rumah Kakeknya. Natalie yang masih menjaga tiga cucunya bersama Teddy, langsung mengangkat telpon rumah yang berdering di ruang tengah.
__ADS_1
" Ma, gimana Auli? " langsung Tyo begitu mendengar suara Mamanya.
" Masih di kamar nak, nanti Mama hubungi Kamu kalau udah keluar ya " sahut lembut Natalie.
" Lihatin deh Ma, takutnya kenapa kenapa lagi " cemas Tyo di ujung telpon.
" Lima menit lagi kalau belum keluar Mama panggil ya, Keno sama Sandra mana? " ucap Natalie merindukan kedua cucunya.
" Keno ada sama Aku ini, kalau Sandra sama Mamanya lihat TV. Mama cepat kabari Aku dong, Aku cemas di sini " sahut Tyo menunjukkan kecemasan di balik suaranya.
" Iya, iya. Ya udah Mama tutup dulu, ribet kalau ngomong sama Kamu jadi ikutan cemas kan " celetuk Natalie menutup sambungan telpon langsung.
" Ampun Mama, kejam banget sama Aku " gerutu lelaki masih memangku putranya dengan menatap telpon sudah mati.
Beberapa menit usai Natalie menutup telpon, dilihatnya Dimas keluar bersama istri dan anaknya. Rena masih saja memeluk putrinya, dengan Dimas berjalan di depan.
Keempatnya menghampiri Teddy yang masih beradu catur dengan Rendi, sementara Brian asik bermain game musik dengan Dinda di ruang yang sama.
" Engga usah main catur sama Dia Pa, kalah terus " ucap Dimas duduk di samping Brian.
" Iya nih, diam aja engga ngomong tau tau udah mau menang " sahut Teddy masih mengamati bidak catur dengan tangan di bawah dagu.
" Dia sih emang kaya freezer Kek, ngomong sama senyumnya mahal " celetuk Aulia menyadarkan Teddy langsung menatap cucunya.
" Eh, Auli gimana? " celetuk Teddy menatap cucunya.
" Gimana apanya sih Kek? semua baik aja kok " senyum Aulia duduk di antara Nenek juga Maminya.
" Syukurlah, Kakek kira bakal ada drama kejar kejaran kaya film action gitu " celetuk Teddy, mengembangkan senyum Aulia.
__ADS_1
" Ya bagus dong Pa, berarti sikapnya Auli lebih mirip Maminya. Kalau mirip Papi sama Om nya sudah pasti kejar kejaran " sahut Natalie melirik putranya.
" Mama ih kalau ngomong udah kaya Kita ini bandel aja " protes lirih Dimas.
" Aku telpon Tyo dulu deh " tambah kembali Dimas.
Ponsel diraih Dimas dari kantong celananya dan menghubungi nomor ponsel Adiknya, untuk memberitahukan yang terjadi. Namun karena Tyo tengah meletakkan Keno di kamar, Ia berteriak agar putrinya yang mengangkat telponnya usai tahu jika Dimas yang menghubungi.
" Hay Papi, pasti cari Akiu kan? " ucap Sandra langsung membuat Dimas membuang napas kasar.
" Salah sambung " jawab Dimas mematikan ponsel.
" Kok bisa salah sambung sih telpon Adiknya sendiri? " seru Rena mengamati wajah suaminya.
" Engga salah sambung, tadi yang angkat Sandra makanya Aku matiin " santai Dimas di tertawakan keluarga karena paham betul jika Dimas suka stres sendiri ketika bicara dengan Sandra.
" Papi segitunya banget sama Sandra, Dinda mirip Sandra loh " celetuk Aulia, membulatkan mata Dimas.
" Amit amit jangan sampai. Anak Papi haris jadi kaya Maminya yang sabar dan lembut. engga kaya ulat bulu gitu " jawab Dimas bergidik.
" Mama kadang juga heran itu anak Tyo ikut ikutan siapa gitu jadi kaya sekarang, pusing kalau ngomong sama Dia belum lagi bibir rasanya mau kram kalau lihat Dia ngomong tuh " sahut Natalie juga sering stres karena cucunya.
" Tuh Dia, takut stroke tuh Ma " celetuk Dimas kembali memecahkan tawa keluarganya.
" Kebanyakan sinetron tuh " santai Brian masih bermain bersama Dinda.
Tyo yang mendengar putrinya menggerutu kesal masuk ke kamar, langsung meraih ponselnya dan menghubungi kembali Kakaknya. Dimas ragu untuk mengangkat dan meminta Aulia saja menerima panggilan dari nomor Om nya.
Mendengar suara Aulia, Tyo. merasa lega. Apalagi saat dirinya tahu kalau semua baik baik saja. Dari awal Ia yakin jika Aulia akan bisa menerima dengan baik, karena didikan yang di berikan Rena selama ini. Namun tak menepis jika dirinya juga khawatir akan pemberontakan Aulia ketika tahu sebenarnya. Karena bagaimanapun, Aulia anak kandung Kiara yang dikhawatirkan menuruni watak Kiara. Namun ternyata tidak sama sekali dan membuat semuanya lega, juga beruntung karena Rena yang telah mendidik Aulia dari kecil sehingga memiliki watak mirip Rena.
__ADS_1