Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 200


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Tepat dimana Aulia beserta keluarganya tiba di Bali untuk menemui Kiara. Tak ada Tyo ataupun Siska yang ikut, karena Keno tak diijinkan Natalie untuk di ajak mengingat usianya baru hitungan bulan. Hanya Sandra yang di ajak Natalie untuk ikut bersama.


Dari berangkat hingga tiba di penginapan, tak sekalipun Aulia melepaskan diri dari Rena. Wajah yang beberapa hari terlihat meyakinkan itu, berubah seketika menjadi keraguan. Rena terus menemani dan menenangkan putrinya itu, dengan menasehati agar tak menghadapi semuanya dalam amarah.


Rena meminta putri cantiknya agar selalu bisa memaafkan segala perbuatan orang lain, dan membalas segala keburukan dengan kebaikan. Walaupun Mami cantik tersebut juga memahami perasaan Aulia saat ini. Rasa kecewa dan sakit hati jelas dirasa kuat dalam batin Aulia. Namun perlahan perempuan yang tak ingin putrinya menyimpan dendam itu, terus mencoba menasehatinya.


Tutur kata lembut dengan perasaan tulus, mudah dipahami oleh Aulia yang tdngah risau. Tak mengerti harus apa dan bagaimana saat dirinya bertemu dengan Kiara nanti.


Janji sudah di buat Dimas dengan suami Kiara untuk bertemu di sebuah tempat makan khas Bali. Ia sengaja menghubungi suami Kiara daripada Kiara sendiri, karena terlalu malas untuk berhubungan dengan mantan istri yang telah banyak meninggalkan luka dalam hidupnya juga putri mereka.


Tepat pukul 19.30 , Dimas dan keluarga tiba di sebuah restoran khas Bali. Dilihatnya Kiara sudah duduk bersama seorang pria sedikit lebih tua dari usianya, bahkan mungkin tak terlihat seperti seorang suami istri.


Lelaki gagah dengan celana pendek serta kaos hitam berlapis jaket abu abu itu, mengajak keluarganya duduk di meja menjauh dari Kiara. Agar keempat anak yang ijut bersamanya tak tahu masalah yang tengah di hadapai Kakak mereka.


Rena dan Aulia sengaja menghampiri Kiara dengan suaminua hanya berdua. Dengan Dimas, Natalie juga Teddy tak sekalipun melepas perhatian mereka. Aulia menggandeng erat tangan Maminya, tak mau melepas walau hanya sejenak.


" Malam mba " sapa lembut Rena pada perempuan dengan dress hitan tali spagheti yang tengah duduk angkuh.


" Langsung saja " singkat Kiara tanpa menatap ke arah Rena juga Aulia.


" Silahlan duduk " sopan lelaki dengan kemeja hitam kombinasi marun itu menarik kursi untuk Rena dan Aulia yang masih berdiri.


" Terimakasih " ucap Rena dan Aulia bersamaan.

__ADS_1


Terukir jelas aura tak suka dari Kiara akan kedatangan Istri baru mantan suaminya juga putri kandungnya itu. Bahkan tak sekalipun Kiara menatap wajah kedua orang di hadapannya, dan tetap duduk dengan angkuh melipa tangan di depan dada.


" Sombong, Dia terlalu jauh dari Mami Rena " batin Aulia mengamati Mami kandungnya.


Batin Aulia terus berucap akan perbandingan sikap Mami kandung juga Mami tirinya. Senyum tiba tiba mengembang dari wajah cantik Aulia, beruntung tak pernah di rawat oleh Mami kandungnya sendiri dan mendapat kasih sayang tulus dari Rena.


" Mba, Aku cuma mau antar Aulia ketemu sama Mba. Dia cuma mau tahu siapa Mami kandungnya " lembut Rena mengatakan dengan memegang tangan putrinya.


" Terus mau apa? apa kalian mau mengganggu ketenangan juga kebahagiaanku sekarang? lupakan itu, karena Aku engga akan biarkan hal itu " angkuh Kiara menatap ke arah samping.


" Maaf, Saya tidak ingin mengganggu hidup Anda. Cukup dengan Saya tahu seperti apa wajah Anda, itu sudah membuat Saya puas. Terimakasih banyak Anda sudah bersedia mengandung Saya dan melahirkan Saya ke dunia ini. Hanya itu yang mau Saya sampaikan " ucap sopan Aulia tulus.


" Sudah? kalian bisa pergi " usir Kiara tanpa ingin melihat putri kandungnya.


" Kiara! itu anak kandung Kamu " ucap suami Kiara yang duduk di sampingnya.


" Mba, jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga, Aulia sudah jauh jauh datang kemari buat temui mbak. Paling tidak mbak bisa melihat seberapa besar Aulia sekarang, Dia tetap menganggap Mba sebagai Mami kandungnya " lembut Rena tak tega pada putrinya.


" Kamu sudah jelas merebut semuanya Rena! jadi jangan sok mengajari disini! Aku tahu apa yang Aku lakukan! " tegas Kiara menatap tajam ke arah Rena yang membalasnya dengan senyuman.


" Mami tidak merebut apapun dari Anda, justru Anda yang melepas semuanya dengan tangan Anda sendiri. Saya beruntung bisa dirawat dengan Mami Rena dan bukan Anda " ucap Aulia masih dengan nada lembut layaknya Rena, namun menusuk untuk Kiara.


" Terimakasih banyak, sudah memberikan waktu Anda untuk Saya " tambah kembali Aulia sopan dan beranjak dari duduk.


Aulia melangkah menuju Kiara hendak mencium tangan, namun tangan masih melekat di depan dada tak mau di buka sedikitpun oleh Kiara. Wajahnya terus di buang ke arah lain, namun Aulia tetap mencium tangan yang masih melipat itu.

__ADS_1


Mata Rena berkaca kaca namun tetap mencoba kuat melihat putri yang di sayanginya, kembali mendapat penolakan sama seperti dulu. Dimas terlihat geram dan ingin marah menghampiri, tapi cepat di tahan oleh Teddy karena tak mau adanya keributan.


" Permisi Mami, Om " pamit Aulia tersenyum.


" Permisi mba, Pak dan terimakasih banyak waktunya " pamit Rena juga tersenyum sopan.


" Baik, sama sama " sopan suami Kiara, namun tidak dengan Kiara yang berusaha mengusap tangan telah di cium putri kandungnya itu dengan tisu.


Meski terluka akan penolakan juga sikap buruk Ibu kandungnya, Aulia tetap bahagia karena tak sampai tumbuh dalam asuhan Ibu kandung yang di anggapnya tak memiliki perasaan itu.


Aulia benar benar yakin jika dirinya memng seorang anak yang beruntung, karena bisa di rawat oleh Rena. Perbandingan bagai bumi dan langit antara Kiara dan Rena, membuat Aulia semakin mengagumi Mami tirinya itu.


Masih dengan menggandeng tangan dan melempar senyum pada masing masing, Rena dan Aulia berjalan menghampiri keluarga mereka yang masih menunggu. Sedangkan Kiara dan suaminya memilih untuk pergi, atas keinginan Kiara.


Dimas langsung berdiri memeluk tubuh putrinya haru, Ia tak menyangka sikap tegar Aulia dalam menghadapi Kiara. Dimas bangga akan sikap putrinya, yang kini menunjukkan senyum padanya.


" Papi sayang Kamu nak " tulus Dimas berkaca kaca memeluk tubuh outrinya.


" Terimaksih Papi, udah jadi Papi terbaik buat Aku. Aku bahagia bisa jadi anak Papi dan Mami Rena, kalian orang tua Aku sesungguhnya " tulus Aulia tersenyum di atas dada bidang Papinya.


" Sayang, dada Papi lebar kok kalau Kamu mau nangis. Mami juga pasti masih mau cuci baju Papi " ucap Dimas memecahkan haru, mengembangkan tawa putri juga istrinya.


" Aku cuma mau nangis karena bahagia bukan untuk sedih Pi, lagipula kasihan Mami harus cuci baju Papi terus nanti tangannya kasar. Papi sih pelit banget pakai pelayan aja engga mau " gida kembali Aulia membuat Dimas tersenyum.


" Bukan pelit, tapi Mami yang engga mau. Papi sih kuat mau bayar berapapun pelayan di rumah " bangga Dimas mencubit gemas pipi putrinya.

__ADS_1


" Engga boleh sombong " senyum Aulia membalas untuk mencubit sisi kanan wajah papi nya.


Dimas kembali memeluk putri juga meraih tubuh istrinya. Keempat anak di meja tengah menikmati makan itu, hanya menatap tak tahu apa yang terjadi Natalie dan Teddy mendekatkan sisi kepala mereka dengan tersenyum bangga. Mereka bahagia bisa melihat Dimas bis bahagia bersama istri juga anak anak mereka, tanoa terpengaruh sedikitpun masalah Kiara juga sikap buruknya.


__ADS_2