Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 103


__ADS_3

STOP PLAGIAT


Usai menikmati rujak buatan Rena, mereka mulai mempersiapkan semuanya untuk acara doa nenek Rena dan membereskan semua tempat yang mereka gunakan untuk acara makan rujak bersama. Aulia dan Brian yang mengantuk karena melewatkan tidur siang mereka demi bermain pasir di rumah Dedrick dibantu Dimas dan Rena untuk tidur di dalam kamar dengan Rena yang menemani mereka berdua.


" Aku bantu di depan ya sayang" ucap Dimas usai meletakkan Brian yang sudah sangat mengantuk ke atas ranjang bersama Aulia juga Rena.


" Iya mas " singkat Rena sambil menemani anak anaknya tidur.


Dimas keluar kamar dan membantu keluarganya yang mulai menggelar tikar di ruang tamu hingga selesai dan menurunkan beberapa barang yang di bawa Erwin dari kantor Desa bersama dengan Tyo.


" Mas, besok pesawatnya jam 7 jadi kita berangkat dari sini jam 4 ya soalnya agak jauh " tegur Tyo yang memesankan tiket penerbangan untuk Dimas.


" Kenapa pagi banget sih dek? sengaja kamu ya " dengus Dimas dengan mengeluarkan beberapa barang dari mobil miliknya.


" Kakek bilang suruh cari penerbangan awal mas biar cepat selesai masalahnya " jelas Tyo yang memang hanya menuruti perintah Dedrick.


Dimas menghela napasnya panjang dan menghembuskan kasar karena waktunya bersama Rena hanya tinggal malam ini saja yang mungkin Dedrivk tak akan mengijinkannya kembali menjemput Rena sebelum masalah di kantor teratasi. Dimas menitipkan mobil kesayangannya pada Tyo dan meminta adiknya untuk mengantar kemanapun istrinya pergi karena tak ingin jika sampai istrinya harus naik angkutan umum yang mungkin akan banyak mata yang menatapnya. Usai melakukan semua pekerjaannya, Dimas kembali ke kamar untuk bersiap karena sudah hampir pukul 6 dan meninggalkan kakek dan juga papanya ngobrol di depan sementara Erwin bersiap di kamarnya dan Tyo mengantar Siska untuk bersiap di rumah Dedrick.


" Ketiduran? " seru Dimas melihat Rena yang tertidur bersama anak anaknya.


" Sayang, kamu engga ikut kirim doa nenek? " sambung Dimas mencoba membangunkan Rena dengan duduk di belakang tubuh istri yang masih melingkarkan tangan pada Brian dan Aulia.


" Sayang? " tambah Dimas membelai lembut rambut Rena yang membangunkan istrinya tersebut.


" Kenapa mas? " tanya Rena mencoba membuka mata.


" Kamu engga ikut acara kirim doa nenek? " tanya Dimas ketika istrinya terbangun karena sentuhan tangannya yang lembut di belakang telinga istrinya membuat Rena geli.


" Ikut mas " sahut Rena mencoba bangun dan meraih guling untuk menghadang anak anaknya di kedua sisi.

__ADS_1


" Kamu mandi dulu ya mas, aku mau keluar sebentar " ucap Rena ingin membuatkan teh suaminya.


" Oke " singkat Dimas usai mencium lembut kening Rena ketika istrinya tengah berusaha menggulung rambut ke atas.


Dimas memulai acara mandinya setelah Rena lebih dulu keluar dari kamar. Rena membuatkan teh suami serta papa, papa mertua juga kakeknya yang duduk di atas tikar sebagai penghangat badan karena udara di tempat Rena yang mulai dingin ketika gelap. Usai membuatkan minum dan memberikan nya pada keluarganya, Rena membawa satu cangkir untuk suaminya yang ia letakkan di meja kamar. Melihat suaminya belum selesai mandi, Rena menyiapkan lebih dulu pakaian untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri lalu duduk di samping Brian membalas pesan dari asisten papanya yang membantu Rena di kantor milik Nesa di Paris.


" Aku lupa desain nya klien belum aku selesaikan " gumam Rena ketika mendapat pesat mengingatkan tentang deadline desain klien mereka karena akan segera di kerjakan.


Rena membuka kopernya dan mencari peralatan kerjanya di sana yang akan ia kerjakan seusai acara kirim doa nanti.


" Ngapain? " tegur Dimas mengejutkan Rena yang berjongkok di dekat koper.


" Oh ini mas ada kerjaan yang harus aku selesaikan nanti malam biar bisa langsung aku kirim malam ini juga " jelas Rena menyiapkan semua alatnya untuk bekerja di atas meja agar nanti bisa cepat mengerjakan tanpa harus mencarinya lagi.


" Malam ini harus kerja? kan aku besok pagi balik " sahut Dimas dengan mengeringkan rambutnya.


Dimas mengganti pakaiannya memunggungi Rena sambil menggerutu karena mam yang ingin ia habiskan bersama Rena harus terganggu dengan pekerjaan istrinya, apalagi harus berangkat sangat pagi esok hari membuatnya kehilangan banyak waktu bersama istrinya.


" Kamu marah? " tanya Rena menghampiri Dimas yang mengganti pakaian.


" Engga sayang, tapi aku engga mau kamu kerja lagi setelah ini " ucap Dimas membalikkan badan menghadap istrinya.


" Iya mas, setelah semua tanggung jawab aku selesai, aku engga kerja lagi. Aku masih ada beberapa yang harus di selesaikan " jelas Rena karena pekerjaannya yang memang menumpuk namun harus tetep tinggal demi suami dan anak anak nya.


" Apa kamu mau balik buat selesaikan semuanya? " tanya Dimas menatap Rena.


" Engga mas, aku kerjakan di sini aja sama nemenin kamu " sahut Rena tersenyum meski harus sedikit repot karena tak adanya asisten yang membantunya.


" Kalau memang harus pergi engga masalah kok sayang, tapi setelah kita nikah lagi ya dan engga boleh lama lama" ucap Dimas mencoba mengerti tanggung jawab istrinya sebagai pemimpin perusahaan seperti dirinya dengan segudang tanggungjawab.

__ADS_1


" Engga mas, aku sama kamu aja " sahut Rena memeluk suaminya.


" Makasih sayang" ucap Dimas yang juga memeluk Rena.


" Iya mas, aku mandi dulu ya " ucap Rena melepaskan pelukan dari suaminya.


" Love you " ucap Dimas mencium kening Rena lembut dan beralih ke bibir Rena.


Rena membalas suaminya dengan senyuman dan tatapan bahagia lalu pergi meninggalkan suaminya. Dimas dan Rena masih belum bisa mempercayai jika mereka berdua telah kembali bersama setelah terpisah cukup lama. Dimas tak ingin kembali terpisah dengan istrinya begitu juga Rena yang selalu ingin mendampingi Dimas untuk membesarkan anak anak mereka bersama dalam sebuah rumah yang akan selalu di hiasi dengan tawa canda anak anak serta kebahagiaan hingga maut memisahkan mereka.


Usai mengenakan semua pakaiannya, Dimas meminum teh yang dibuatkan oleh Rena untuknya.


" Masih sama " gumam Dimas tersenyum merasakan teh buatan Rena yang selalu ia campur dengan beberapa rempah seperti biasa Rena buatkan untuk Dimas.


Ia menikmati teh buatan istrinya dengan senyum yang selalu terhias merasakan perasaan yang tumbuh semakin kuat untuk Rena hingga membuatnya merasa seperti anak kecil yang selalu menginginkan untuk di manja layaknya anak anak mereka yang selalu di perlakukan Rena dengan manja dan lembut.


" Kok udah ganti? " tegur Dimas begitu Rena keluar kamat sudah mengenakan pakaian.


" Iya mas biar cepat " sahut Rena mengeringkan rambut dengan handuk di depan kaca.


" Padahal aku nungguin buat bantuin " gerutu Dimas dengan nada sangat pelan hingga tak mampu di dengar oleh Rena.


" Udah yuk " ajak Rena usai mengeringkan sedikit rambutnya dan berjalan menghampiri Dimas.


" Kamu kalau ganti jangan di kamar mandi " ucap Dimas dan membuat istrinya tersenyum.


" Mas, kamu beneran tambah genit ya " seru Rena tersenyum lalu menarik tangan Dimas agar bangkit dari duduknya.


Rena mencium bibir suaminya yang masih monyong karena jengah tersebut lalu keluar meninggalkan kamar yang ada anak anaknya tidur di sana. Rena meminta Sonya agar menjaga anak anak nya di kamar setelah mendapat persetujuan suaminya, karena tak enak jika dia yang termasuk tuan rumah tak ikut membantu.

__ADS_1


__ADS_2