Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 105


__ADS_3

STOP PLAGIAT


Dering alarm pada ponsel Dimas mengejutkan Rena hingga Ia terbangun dari meraih ponsel yang ada di samping kepala suaminya dan melihat jam pada ponsel tersebut usai Ia mematikan alarmnya karena takut anak anaknya akan terbangun. Rena beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah. Usai melakukan semua itu, Rena membangunkan Dimas yang masih terlelap bahkan tak mendengar suara alarm yang Ia pasang sendiri.


" Mas, ayo bangun " seru Rena membangunkan suaminya lembut.


Rena yang masih sabar membangunkan Dimas hingga 5 menit berlalu dan suaminya mulai terbangun dengan mata yang berat untuk Ia buka.


" Jam berapa sayang " tanya Dimas dengan mengucek matanya.


" Udah hampir setengah empat mas, ayo buruan mandi " ucap Rena yang masih berdiri di samping kursi tempat Dimas meletakkan kakinya semalaman.


Dimas mengarahkan ke dua tangannya ke arah Rena menandakan untuk Rena agar naik ke atas tempat tidur agar Ia dapat memeluk istrinya. Perempuan yang tengah mengenakan daster batik tersebut tersenyum kecil dan menuruti keinginan suaminya untuk naik ke atas tempat tidur yang dengan cepat diraih oleh Dimas tepat ke atas tubuhnya untuk mulai dipeluknya erat.


" Hm, istri aku harum banget pagi pagi " gumam Dimas mencium aroma sabun di pundak Rena.


" Mas, mandi dulu nanti Tyo keburu datang loh " seru Rena karena suami yang mulai manja.


" Engga mau, mau gini dulu aja " ucap Dimas tak ingin melepaskan tubuh istrinya.


Rena mengangkat wajahnya dan menatap suaminya dengan tersenyum sembari tangan menekan kedua pipi Dimas yang melingkarkan tangan di pinggang Rena.


" Mandi " ucap Rena tersenyum dengan menekan kedua sisi pipi suaminya hingga tampak bibir yang monyong milik Dimas.


" Mandiin " manja Dimas setelah membuka tangan istrinya yang terus menekan wajahnya.


" Emangnya kamu anak kecil apa " gumam Rena mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Dimas pelan.

__ADS_1


Rena mengambilkan segelas air putih untuk suaminya seperti setiap pagi ia lakukan ketika mereka tinggal bersama. Satu gelass air putih yang sudah terteguk habis menyadarkan semua mata dan tubuh Dimas yang masih berusaha mengumpulkan nyawa. Lelaki yang tidur tanpa mengenakan kaos tersebut mememluk tubuh istrinya dari belakang membimbingnya masuk ke dalam kamar mandi.


" Udah udah mandi mas " seru Rena yang terus terdorong tubuh Dimas dari belakang.


" Mandiin aku sayang " seru Dimas dengan senyum genitnya.


Rena menghela napasnya sambil memegang tangan suami yang masih melingkar di perutnya dengan kepala bersandar pada pundak. Begitu memasuki kamar mandi, Dimas menguncinya dari dalam agar tak dapat dibuka oleh Aulia atau Brian ketika mereka tiba tiba terbangun. Usai memastikan pintunya terkunci rapat, Dimas mulai menyibakkan rok daster istrinya untuk melakukan hasrat paginya yang selalu melonjak saat bersama Rena.


Acara mandi berhasrat yang mereka lakukan selama setengah jam karena Dimas mempercepat waktu permainannya mengingat Tyo yang akan segera datang menjemputnya. Dua orang yang mulai di mabuk cinta ketika mereka kembali bersama tersebut mulai mengenakan pakaian yang seperti biasa Dimas selalu membantu istrinya.


" Aku buatin minum dulu ya mas " pamit Rena meninggalkan suaminya yang masih berusaha mengenakan pakaiannya.


" Iya sayang, jangan lama lama ya " sahut Dimas tersenyum.


Rena meninggalkan suaminya untk bersiap dan membuatkannya teh herbal agar tubuh suaminya terasa lebih hagat di udara dingin desa tempat Rena tinggal. Usai mengganti pakaian, Dimas menciumi kedua anaknya serta memotret wajah pulas keduanya yang akan Ia pandangi ketika jauh dari buah hati yang sangat Ia sayangi. Meski selalu merasa kuwalahan ketika menangani kedua anaknya saat bersama sama dengan canda dan keaktifan keduanya, Dimas selalu ingin berada dekat dengan mereka karena menganggap tingkah mereka adalah kelucuan yang memberikannya semangat tersendiri.


" Mereka pasti kangen papinya nanti " seru Rena meletakkan cangkir minum di atas meja.


Dimas tersenyum lalu bangkin dari posisinya berjalan menghampiri Rena. Ia menarik tubuh istrinya duduk di atas pangkuannya sambil menikmati teh hangat buatan Rena.


" Emang mami nya engga bakal kangen sama papi ?" tanya Dimas melingkarkan tagan di pinggang Rena yang duduk menyamping diatas pangkuannya.


" Kangen, banget " manja Rena memeluk suaminya membuat Dimas tersenyum bahagia.


" Tapi kamu balik kan mas ?" tambah Rena melepaskan pelukannya dan menatap wajah suami yang terlihat segar dan tampan.


" Iya dong sayang, kan mobil aku ditinggal di sini jadi aku harus balik buat ambil mobil " celetuk Dimas menggoda Rena.

__ADS_1


" Kok mobil sih ? kamu engga jemput aku sama anak anak ? " tanya Rena jengah ke arah suaminya yang tersenyum.


" Jemput dong sayang, kalau engga aku jemput kamu kabur lagi " seru Dimas kembali menggoda Rena.


Candaan serta luapan perasaan yang mereka lontarkan terhenti ketika Erwin mengetuk pintu kamar Rena memanggil Dimas dan memberitahukan jika Tyo sudah menunggunya.


" Dia ini kalau di tunggu telat, tapi kalau engga di tunggu tepat waktu banget " gerutu Dimas.


" Ya udah ayo aku antar ke depan " ucap Rena yang tersenyum mendengar gerutuan Dimas.


Rena mengambil koper milik suaminya serta jaket yang ia minta untuk langsung dipakai Dimas karena udara yang sangat dingin di luar. Suami yang tak ingin meninggalkan istrinya tersebut terus menghela napasnya dengan perasaan berat berpisah dengan Rena yang baru ia jumpai setelah dua tahun terpisah. Dimas menyempatkan untuk menikmati bibir istrinya berulang kali sebelum mereka keluar kamar. Dengan memeluk pundak Rena yang juga melingkarkan tangan di pinggang suaminya, mereka menghampiri Tyo yang sudah duduk bersama Erwin menunggu kehadiran Dimas.


" Udah mas ? masih mau berduaan lagi gak ?" goda Tyo tersenyum melihat kakaknya tak melepaskan kakak ipasrnya walau hanya sebentar.


" Sebentar lagi ketemu lagi kok " goda Erwin menambahkan karena menantu yang terlihat begitu manja pada putrinya.


Dimas dan Rena hanya tersenyum tanpa sedikitpun melepaskan pelukan merka sembari berjalan menuju mobil milik Dimas untuk segera menuju ke bandara.


" Aku berangkat ya sayang " pamit Dimas meghadap istrinya dengan kedua tangan memegangi pundak Rena dan menariknya untuk di peluk sebelum ia menaiki mobil.


" Hati hati ya mas, jangan lupa telfon kalau udah sampai " pesan Rena dengan sisi wajah di atas dada suaminya.


Erwin dan Tyo yang tersenyum melihat du sejoli yang begitu berat untuk saling berpisah mulai menyadarkan mereka jika masih ada orang lain di sana. Dimas tersenyum lalu mencium lembut dan lama kening Rena lalu mencium tangan Erwin dan berpamitan.


" Titip istri aku ya pa " pesan Dimas pada mertuanya yang di balas dengan anggukan dan acungan jempol.


Usai Tyo dan Dimas berpamitan, mereka kemudian menaikki mobil yang masih ada Rena dan Erwin setia menunggu hingga mereka melaju. Mata Dimas tak henti memandang wajah istrinya yang akan sangat Ia rindukan. Ketika mobil sudah melaju dengan Tyo yang menegemudi, Rena melambaikan tangan mengantar kepergian suami yang masih terus menatapnya dari kaca spion hingga mobil berlalu dan tak bisa lagi melihat wajah istri yang telah ia poteret semalam sebelum tidur untk mengamati wajah lelap untuk bisa ia pandangi nanti.

__ADS_1


__ADS_2