
STOP PLAGIAT!
Terlalu lama menunggu suaminya menjemput, akhirnya Rena berangkat bersama Dedrick yang sengaja menghampiri untuk bersama ke rumah sakit. Dua kali mencoba menghubungi suaminya untuk berpamitan namun tak terjawab, Rena memilih untuk mengirim pesan saja mengatakan jika dirinya akan menyusul ke rumah sakit bersama Dedrick dan dua anak mereka.
" Papa Kamu belum datang nak? " tanya Dedrick memangku Brian di samping supir dalam perjalanan.
" Belum Kek, katanya masih mau selesaikan pesanan klien dulu baru kemari " senyum sopan perempuan dengan balutan dress salem tersebut menemani putrinya di jok belakang.
" Papa Kamu memang pekerja keras " senyum Dedrick di balas senyuman oleh Rena.
Erwin yang berencana memberikan usaha desain pada Aulia, sengaja mengembangkan bisnisnya seluas mungkin agar kelak cucunya tak perlu terlalu berusaha keras. Walaupun memang Aulia bukanlah cucu dari rahim putrinya, namun Ia sudah mempersiapkan sebuah masa depan terbaik untuk Aulia.
Sementara Brian dan calon anak Dimas sudah mendapatkan sendiri bagian mereka, yang sama sama terus di kembangkan oleh seorang Kakek yang tak ingin melihat cucu cucunya mengalami kepahitan dalam hidup akan keuangan.
Meskipun Dimas juga mempersiapkan sendiri untuk masa depan anak anaknya, namun Ia tak bisa menolak keinginan Papa mertuanya. Yang bahkan tak pernah membedakan antara Aulia dan Brian juga calon anaknya.
Sesampainya di rumah sakit, Rena membantu Dedrick berjalan dengan Aulia yang menuntun Adiknya di depan. Seorang pekerja rumah sakit juga membantu untuk menuntun Aulia, karena Brian menolak bersama orang tak di kenal.
" Nak, kok kesini engga tunggu suami Kamu? Kamu kan lagi hamil besar? " lembut Natalie menghampiri menantunya begitu melihat dari kejauhan.
" Iya Ma, udah engga sabar mau lihat keponakan. Lagian mas Dimas Aku telpon juga engga di angkat Ma " sahut sopan Rena usai dikecup lembut keningnya oleh Natalie.
" Jelas engga jawab, orang suami Kamu tidur sama Tyo " celetuk Natalie mengembangkan senyum Rena walau sedikit terkejut.
" Itu di situ suami Kamu, mau Mama antar? " tambah kembali wanita masih mengenakan piyama tidur tersebut menunjuk ke arah ruangan rawat dimana Tyo dibawa ketika pingsan.
" Aku lihat sendiri saja Ma " lembut Rena.
__ADS_1
Aulia, Brian dan Dedrick menemui Siska di ruang rawat karena sudah dipindahkan setelah melahirkan normal. Sementara Rena mencoba melihat suaminya yang masih tertidur pulas dalam satu ranjang pasien bersama Tyo.
Senyum serta gelengan kepala ditunjukkan Rena melihat suami dan Adik iparnya bisa tertidur dalam satu ranjang kecil, saling beradu punggung karena tubuh mereka yang besar. Tangan mulai membelai lembut rambut suami yang sedikit memanjang di bagian atas, lalu mengusap lembut brewok dimana selalu Ia mainkan ketika bangun tidur dan suaminya masih lelap.
" Love you " lirih Rena tersenyum mencium lembut bibir suaminya yang masih pulas dan beranjak untuk pergi meninggalkan.
Serasa seperti mimpi sebuah kecupan mendarat pada bibirnya, Dimas pun tersenyum lalu mengatupkan bibir dan mengubah posisi namun tak bisa. Ranjang pasien teramat sempit ditempati keduanya, hingga tak ada satupun dari mereka mampu mengubah posisi dari empat jam lalu tidur bersama.
" Dek, minggir sana " dorong Dimas merasa lelah dalam satu posisi dan ingin melentangkan tubuh.
" Mas Dimas badannya kebesaran, mas aja yang pergi " sahut Tyo tak ingin membuka mata, seakan lupa jika istrinya baru saja melahirkan putri pertama mereka.
" Udah ah mas mau pulang, gak enak tidur sama Kamu mending tidur sama Rena!" jengkel Dimas beranjak duduk dan meraih ponsel untuk melihat jam, karena tak sempat mengenakan arloji.
Melihat pesan dan panggilan istrinya, cepat Dimas menghubungi istrinya dan menanyakan keberadaannya. Tanpa berlama lama Ia langsung berjalan ke arah Siska di rawat, dan sudah banyak keluarga berkumpul di sana.
" Papi bau, mandi sana jangan cium cium Mami dulu nanti mual loh " celetuk Aulia menirukan Papinya selalu berkata sama ketika Aulia bangun tidur langsung mencium Maminya.
" Kami tuh bau, Papi biarpun bangun tidur tetap aja wangi orang kalau mau tidur pakai parfum dulu " sahut tak mau kalah Dimas menatap ke arah putrinya.
" Kamu tuh, mau punya anak sepuluh juga bakal tetap sama Dim " seru Dedrick tersenyum tak henti melihat cucu dan cicitnya berdebat setiap waktu.
" Auli duluan Kek, masa Aku yang kena sih " cemberut Dimas manja meletakkan kepala pada pundak istrinya.
" Hmmm" seru semua keluarga menggelengkan kepala melihat tingkah Dimas suka mencuri kesempatan untuk menempel.
Melihat hanya ada Kakak iparnya sendirian, Siska pun mulai celingukan mencari keberadaan suami yang setelah pingsan sudah tak terlihat lagi.
__ADS_1
" Mas Tyo dimana mas? " lirih Siska masih terbaring di atas tempat tidur.
" Udah engga usah diharapkan lagi suami seperti itu, mas carikan jodoh baru buat Kamu ya " celetuk Dimas mendapat cubitan pedas pada perutnya oleh Rena.
" Aduh, sakit sayang " refleks Dimas mengusap perutnya.
" Enak aja!" tegas Tyo berjalan menghampiri masih dengan wajah bantal.
" Lah ini, yang kaya gini apanya yang bisa di andalkan coba? istri lahiran malah ngorok, udah gitu pingsan lagi di ruang bersalin " ledek Dimas melihat kehadiran Adiknya.
Dedrick dan Aulia sama sama menertawakan lelaki yang sudah duduk di ranjang bersama istrinya. Mendengar ucapan Dimas terasa begitu menggelitik tak bisa terbayangkan apa yang sudah terjadi, bahkan bisa tertidur pulas ketika istrinya masih mencoba menenangkan lelah usai berjuang melahirkan putri pertama mereka.
" Om pingsan? aduh, aduh, aduh " seru Aulia menggoda sambil menggelengkan kepala menatap Tyo.
" Diam Kamu, om engga pingsan cuma ngantuk makanya ketiduran " kilah Tyo merasa malu.
" Kamu pingsan sayang, sampai perawat sama Dokter panik " cerita Siska mengingat dimana suaminya langsung tersungkur di lantai, menggelakkan tawa satu ruangan.
" Sayang, Aku engga pingsan... " bela Tyo terpotong oleh Kakaknya.
" Iya cuma ketiduran di lantai " celetuk Dimas memliki kesempatan membalas Adik yang selalu tak henti menggoda dirinya.
" Lihat nanti mas, paling juga mas Dimas bakal kejang kejang lihat darah bukan pingsan lagi " tawa terbahak Tyo membayangkan, langsung ditimpuk kepalanya dengan tangan Dimas.
" Udah sama aja engga usah berantem, masa kalah sama Brian Aulia sih? mereka aja engga pernah berantem " celetuk Natalie memang selalu melihat kedua cucunya rukun dan saling membela walau Brian belum mengerti apapun, namun tak pernah henti menghalangi Papinya ketika mulai mengejar putrinya dengan jengkel.
Watak sama, juga rasa takut sama dari Dimas dan Tyo seakan mereka adalah saudara kembar. Bahkan dari kecil keduanya takkan pernah bisa terpisah, dan akan saling merindukan jika tak bertemu hanya beberapa waktu saja, hingga salah satu pasti sakit saat satu hari tak bertemu.
__ADS_1
Walaupun selalu bertengkar sedari kecil, namun keduanya mampu untuk sama sama menjaga dan saling menghibur. Seperti ketika Dimas terjatuh dalam kehancuran pernikahan, tak putus Tyo memberikan dukungan walau saat itu Ia tengah berada di Paris dan hanya kembali untuk sebentar. Namun sedikit dukungan, mampu menguatkan masing masing dalam menjalani semua masalah kehidupan. Dan itu masih terjalin hingga saat ini meski sudah sama sama memiliki keluarga kecil sendiri.