Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 199


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Setibanya di kediaman Tyo, sudah ada Sandra berlari menghampiri begitu mendengar suara mobil dimas memasuki halaman rumah. Walau banyak mobil dengan suara sama, namun Sandra selalu dapat mengenali mobil pribadi dari lelaki yang selalu berdebat dengannya itu.


Sandra melambaikan tangan gembira melihat wajah cantik rena tersenyum di balik kaca mobil sudah terbuka setengah. Melihat Sandra kegirangan seraya melompat di teras rumah, Dimas masih di balik kemudi memarkirkan mobil itu mulai membuang napas kasar seraya menggelengkan kepala melirik ke arah keponakannya.


" Kayak nya salah rumah nih, bukan selesai masalah yang ada nambah masalah " gerutu Dimas lirih dengan memarkirkan mobil, ditertawakan oleh Aulia dan Rena yang mendengar.


" Papi, itu tuh fans fanatiknya Rendi loh " seru Aulia dalam tawa.


" Iya, idolanya dingin terus fans nya panas kaya gitu, di gabungin jadi dispenser. Lah yang tengahnya Mami tuh, dingin engga, panas juga engga " celetuk Dimas mendapat tepukan lirih di atas pundak oleh istrinya.


" Enak gitu dong Pi, panas engga dingin juga engga jadinya hangat. lah yang hangta itu selalu bikin kangen " celetuk Aulia memainkan alis pada spion tengah dimana papinya sudah tersenyum.


" Kaya gorengan dong Mami " celetuk Rena tersenyum.


Sandar sudah berlari mendekat dan mencoba membuka pintu mobil masih terkunci dari dalam. Sengaja Dimas tak membuka dan melarang istri juga anaknya membuak, agar membuat Sandra lebih dulu jengkel. Dan benar saja Sandra langsung jengkel karena tak bisa membuka pintu mobil, dan di bukakan oleh Dimas dari arah kemudi karena sudah kasihan.


" Mas, seneng banget kerjain anak Aku " protes Tyo begitu Kakaknya turun dengan menahan tawa.


" Iya nih Papi, Akiu hampir aja jatuh. Kan hilang nanti hidung Akiu " ucap Sandra berlebihan.


" Salah siapa orang pintu belum di buka main tarik tarik aja, kalau rusak mau ganti Kamu ?" seru Dimas berdiri meraih tubuh keno dari gendongan adiknya.


" Kurang kali mas, kalau mau kerjain Dia tuh total aja sekalian biar nyungsep gitu " celetuk Tyo menggoda putrinya yang sudah jengkel.


" Mami,,,,,, " rengek Sandra ditinggalkan oleh Tyo, Dimas, Keno juga Aulia.

__ADS_1


" Sayang... " lembut rena bertumpu pada lutut di atas lantai memeluk tubuh Sandra yang memang sangat manja padanya.


Ketiganya lebih dulu masuk, dengan Dimas menggendong serta menciumi keno. Sisa sudah menyambut mereka dan meminta pelayan membuatkan minum sambil menunggu kedatangan Ryan yang masih dalam perjalanan.


" Eh, dari mana ?" tanya Dimas melihat Sandra masuk rumah bersama Rena.


" Lah Papi, kan Akiu dari depan tadi jemput Papi kembarannya Kak Brian " jawab Sandra dengan ekspresi bingung.


" Engga nanya Kamu, Papi nanya Mami " sahut Dimas di tertawakan Aulia, Tyo juga Siska melihat ekspresi ingin menangis dari Sandra.


" Akiu sakit hati, inces bersedih saat ini Mami " seru Sandra memeluk Rena yang tersenyum mengusap punggungnya.


Melihat Sandra memulai drama, seketika Tyo, Dimas, Siska dan Aulia langsung berganti enatap Keno dan mengajak bercanda bocah kecil dalam pangkuan Dimas tersebut, makin membuat Sandra mendengus kesal.


Sandra mengajak Mami kesayangannya masuk dan menikmati acar TV, mengembangkan tawa semua orang yang ada di ruang tamu. Semua memang sangat hobi untuk mengerjai gadis kecil dengan banyak mimik wajah tersebut hingga membuatnya kesal dan kadang menangis. Terlebih Dimas dan Tyo yang selalu kesal melihat tingkah Sandra.


Ketika tengah asik menertawakan Sandra, mobil Rian tiba tiba muncul dan cepat Tyo kmenyusul ke depan. Lelaki dengan kaos marun itu pun turun dari mobil lengkap dengan topi serta jaket kulit seperti biasa. Tubuh tegap rian menghampiri Aulia, Dimas juga Siska di ruang tamu, menyalami mereka bergantian. Rena mendengar kedatangan Ryan ikut menyapa sejenak dan kembali menemani Sandra agar bocah kecil ceplas ceplos itu tak mendengar pembicaraan di ruang tamu.


Dimas mengungkapkan semua niatnya dan meminta tolong Rian mencari tahu dimana Kiara tinggal, karena putrinya ingin bertemu. Namun belum sampai Dimas menjelaskan segalanya, lebih dulu Rian menyela karena sudah mendapatkan alamat Kiara dari pembicaraannya bersama Dimas beberapa waktu lalu.


Memang sengaja Dimas meminta Rian mencari tahu dulu sebelum mengatakan pada Aulia, namun Papi empat orang anak itu belum kembali mendapat kabar dari Rian tentang permintaan tolongnya pad Rian sebulan lalu itu. Tangan Aulia sedikit gemetar meraih alamat yang sudah tertulis jelas dalam kertas yang di sodorkan oleh Ryan, terlihat jelas mata keraguan Aulia dan langsung di usap lembut punggungnya oleh Siska.


" Kamu yakin sayang ?" tanya Siska lembut pada Aulia yang menganggung tetap mengamati alamat dalam kertas tersebut.


" Auli yakin Tante, Auli cuma mau tahu aja setelah itu ya udah, Aulia engga akan pernah mau ganggu ketenangan hidupnya " ucap Aulia dengan mata masih tertuju pada kertas di tangannya.


" Rencana kapan kesana ?" tanya Rian.

__ADS_1


" Secepatnya,  mumpung Auli juga masih liburan sekolah " jawab Dimas penuh keyakinan.


" Lusa aja ya Pi " pinta Aulia cepat.


" Iya sayang, papi cari tiket buat semuanya ya " sahut Dimas langsung di peluk oleh putrinya, namun Tyo dan Siska saling tatap tak tega pada keponakan mereka berdua.


" Siapa aja mas ? bukannya Auli sama mba rena aja ya ?" tanya Tyo ingin tahu.


" Mama sama Papa juga mau ikut Dek, sekalian anak anak juga biar liburan di sana. sayang banget tiket udah mahal mahal engga sekalian liburan " jawab Dimas.


" Ampun mas, semenjak punya anak empat itungan banget sih " celetuk Tyo di samping Kakaknya.


" Itungan, itungan. Itu bukan itungan tapi menyelam sambil minum air " celetuk Dimas melirik Adiknya.


" Awas tersedak tapi Pi " sahut Aulia cengengesan.


" Sayang, nambah anak satu lagi yuk! " teriak Dimas kesal selalu saja bisa di jawab oleh keempat anaknya.


" Kurang mulu, udah empat kali " gumam lirih tyo, di tertawakan oleh Siska juga Ryan dan Aulia.


Masih saja selalu jengkel tiap kali harus di celetuk oleh keempat anak juga istriya ketika bicara, Dimas selalu mengatakan ingin memiliki satu anak lagi yang menjadi jurus jitu membuat anak anaknya diam, karena tak mau lagi memiliki Adik. Adanya empat orang sudah cukup ramai bagi keempatnya ketika berkumpul dan berdebat bersama.


Watak campuran dari keempat anaknya, terkadang membuat Dimas tak tahu bagaimana harus menghadapi. Rendi yang dingin, Brian dan Aulia yang konyol, juga Dinda yang manja. Namun perbedaan itu bisa membuat kehidupan Dimas lebih berwarna dan selalu merindukan untuk bisa berkumpul setiap hari ketika Ia tengah bekerja. Bahkan selalu mencari jika salah satu anaknya tak terlihat.


Aulia sendiri dengan sikap konyol namun dewasa, sudah begitu matang mempersiapkan diri untuk menemui Kiara. tak ada niat lain dalam diri ataupun benak Aulia selain ingin melihat sendiri bagaimana wajah Ibu kandungnya. Wanita yang begitu tega menolak kehadirannya dan membuatnya tak percaya hingga sekarang.


BAtin dan pikiran Aulia bertentangan membandingkan antara Kiara juga Rena. Ia tak bisa percaya jika ada manusia seperti Kiara di dunia ini. Pasalnya Ia selalu menganggap seorang Ibu itu seperti Mami juga Tante nya yang selalu baik dan penuh kasih sayang terhadap anak anak mereka. bahkan Ia pun melihat Natalie yang selalu memperlakukan Papi juga Om nya seperti seorang anak kecil, makin membuat Aulia tak bisa memahami seperti apa Kiara sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2