Suamiku Seorang Duda

Suamiku Seorang Duda
Kisah Nyata 191


__ADS_3

STOP PLAGIAT!


Karena banyak yang minta dilanjutkan, jadi Kita lanjut ya. Maaf kalau berbelit belit, bertele tele atau apalah itu, tapi biar nyambung Kita buat engga langsung lompat ya. Jadi beberapa bab soal pertumbuhan terus baru ke dewasanya.Oke lanjut.........


****


Pukul 02.30 terdengar tangisan bayi cukup kuat memekik telinga Dimas dan Rena yang masih tertidur lelap. Masih tetap memeluk istrinya, Dimas seakan lupa jika suara tangisan tersebut adalah suara dari kedua anak yang baru saja dilahirkan istrinya.


Mata masih terpejam, namun tangan sudah menutup telinga karena suara tangis yang tak kunjung berhenti. Rena sudah terbangun dan perlahan menyingkirkan tangan suaminya, bergegas perempuan dengan setengah sadar tersebut beranjak ke arah dua box bayi milik kedua anaknya.


" Sayang, suara anak siapa sih ? berisik banget " parau Dimas dengan mata masih terpejam, membuat istrinya tersenyu menggelengkan kepala.


Rena sudah memberikan ASI untuk kedua buah hatinya bersamaan, dengan menggunakan bantal menyusui khusus bayi kembar yang sudah di belikan suaminya ketika menyambut kelahiran kedua buah hati mereka.


" Mas..." seru Rena mengejutkan suaminya yang tengah meregangkat otot dan mengenai kepala salah satu anaknya.


Seketika Dimas terperanjat dengan kesadaran langsung penuh, kembali mendengar suara tangisan karena kepala terlalu kuat terkena tangan berotot Papinya.


" Yah sayang, aduh maafin Papi nak. Papi lupa kalau Kamu udah lahir " ucap Dimas mengusap kepala putranya, langsung mendapat tatapan tak percaya perempuan yang kembali memberikan ASI.


" Bikinnya engga pernah lupa, tapi pas udah lahir bisa lupa ya mas ?" tak percaya Rena menatap suaminya yang cengengesan.

__ADS_1


" Bikinnya mah enak tinggal di buka di masukin, kalau kaya gitu sih engga bakal lupa " cengengesan Dimas menyangga tubuh kedua ananknya.


" Aduh enak banget pagi pagi langsung dapat jatah kalian ya " tambah kembali Dimas menggoda kedua anaknya yang meminum ASI.


" Papinya udah sering, sekarang Mami punya anaknya " ucap Rena tersenyum kembali menggoda suaminya.


" Tapi Mami lebih enak kalau Papi yang minum, dari pada anak nya " sahut Dimas mengembangkan tawa Rena yang tak ingin lagi meladeni godaan suaminya.


" Eh, pasti bayangin yang engga engga deh, tuh Mami lagi mikirin apa " goda Dimas melihat istrinya tersenyum sambil bergidik mengangkat kedua bahu.


" Udah ah sana mandi, udah jam tiga nih nanti kesiangan lagi ibadahnya " ucap Rena menghentikan bualan suaminya yang mungkin takkan bisa berhenti ketika sudah mulai menjurus ke hal hal aneh.


" Cum duyu " manja lelaki dengan bibir maju di hadapan istrinya.


" Biarin, orang suka kok " santai Dimas mencium lembut bibir istrinya dan beranjak pergi ke kamar mandi.


Sambil menggelengkan kepala juga senyum menghiasi wajahnya, Rena tak mengalihkan pandangan pada kedua anaknya yang tengah menikmati ASI.


Tak seperti saat memberikan ASI pada Brian yang hanya satu, kini Rena harus memberikan langsung kepada dua anaknya sesuai dengan arahan dari Dokter ketika dirinya berkonsultasi sebelum kembali ke rumah.


Setelah dua puluh menit, Dimas sudah kembali dan masih melingkarkan handuk di pinggang mencari pakaian untuknya melakukan ibadah sendiri. Sarung putih juga kokoh putih sudah dipilih Dimas dan siap membalut tubuhnya dini hari ini.

__ADS_1


Mata Rena tak pernah berhenti takjub ketika melihat suaminya mengenakan pakaian seperti itu. Dalam hati Ia selalu memuji suaminya sendiri ketika tengah melakukan ibadah. Ketampanan langsung meningkat drastis ketika Ayah empat orang anak itu sudah menutup rambut dengan peci.


Seakan tak terlihat sikap genit dan manja dari lelaki yang begitu khusyuk menjalankan ibadah. Hatinya terasa dingin dan tentram mempunyai suami yang mungkin menjadi idaman seluruh wanita di dunia ini. Penyayang, penuh cinta, tampan juga taat akan ibadah.


****


Pukul 05.30, Aulia dan Brian langsung mengetuk pintu kamar tamu dan memasuki begitu Papinya membuka pintu. Secepatnya Auli dan Brian naik ke atas ranjang untuk melihat kedua adik mereka.


Senyum tak lepas dari wajah Aulia yang sangat bahagia dengan kehadiran kedua bayi kembar yang sudah kembali terlelap dari pukul lima tadi. Dengan bantuan Dimas yang meletakkan kduanya perlahan dalam box bayi.


" Papi, jadi kasih nama Adik siapa ? duren apa siapa ?" celetuk Aulia masih mengintip kedalam box adiknya, mengembangkan senyum Rena juga tatapan jengkel Papinya.


" Duren, duren. Kamu tuh mulutnya kaya kulit duren tajam banget " jengkel Dimas menahan kedua tubuh anaknya agar tak terjatuh ke dalam box bayi.


" Ya kan Papi yang nulis sendiri, duren sama salak " tawa Aulia bersama Rena.


" Papi bilangin Nenek Kamu ya mau kasih nama Adik kaya gitu, biar Kamu di bawa tinggal di rumah Kakek buyut sana " ancam Dimas langsung.


" Engga mau, Aku mau di sini sama Mami kok, sama Adik adik juga. Sekarang Aku sudahjadi Ratu di sini terus Adik pengawal Aku, jadi enak kalau besar bisa di suruh suruh " tawa kembali mengembang dari Aulia langsung di cubit hidungnya oleh Dimas.


" Kamu yang di suruh suruh buat cuci popoknya Adik " jengkel Dimas mencubit seraya menarik hidung putrinya yang cerewet.

__ADS_1


" Engga kebayang besar nya Kamu kaya gimana " tambah Dimas menggerutu.


Selalu saja Dimas merasa takut akan putri pertamanya ketika dewasa, pasalnya ketika kecil saja Aulia sudah selalu cerewet dengan banyak hal kecil. Terlebih ketika Ia sudah memiliki Adik, Dimas makin tak bisa lagi membayangkan, karena Brian saja sudah setiap hario terkena omelan Kakaknya dan tak tahu lagi bagaimana nasib kedua bayi kembar ketika besar dan sudah passti mendapat nasib sama seperti Brian.


__ADS_2