
"Ayo ikut aku sekarang," ajak Chasyn.
"Kemana?" tanya Grizzly dengan mata yang sayup.
"Ayo saja," ucap Chasyn.
Grizzly mengikutinya dan tidak ingin bertanya lagi, mereka pun masuk mobil dan Chasyn langsung melajukan mobilnya dan melaju.
Chasyn menginjak pedal gas mobil dengan menambah kecepatannya karena pria itu sudah cukup jauh.
Ini yang sudah kesekian kalinya Chasyn melajukan mobilnya saat bersama Grizzly, Meskipun sudah sering juga Grizzly tetap belum terbiasa, bahkan ponselnya berbunyi pun tidak ia gubris, keselamatan jantungnya lebih penting.
Mobil Chasyn mereacing dan berhenti di sebuah pelabuhan.
Tepat itu hanya di terangi beberapa lampu remang-remang dan tempat itu sangat sepi, hanya sebuah kapal yang sedang berlabuh.
"Ayo cepat turun," ajak Chasyn.
"Apa di sini tempatnya?" tanya Grizzly.
"Iya," jawab Chasyn membuka pintu mobil.
"Jika begitu aku akan jawab panggilan dari komandan," ucap Grizzly. Chasyn melihat seorang pria dan beberapa pria lainnya naik ke dalam kapal dan perlahan-lahan kapan iti bergerak.
__ADS_1
"Sepertinya Kapa itu akan berangkat, pria itu pasti ada di dalam," ucap Chasyn berlari ke arah kapan tersebut berlari dengan kecepatan tinggi, sedangkan kapal perlahan sudah menjauh.
"Chasyn!" teriak Grizzly dan ikut berlari. Tak sempat lagi, kapal sudah menjauh. Untungnya Chasyn masih sempat bergelantungan di pinggir kapal.
Chasyn berusaha naik ke kapal dan menyelinap masuk ke dapur kapal.
"Sepertinya di sini tidak ada orang," ucap Chasyn dalam hati dan ia pun pergi kembali ke ruang tidur mereka.
"Kamu kenapa tiba-tiba ingin pergi jauh?" tanya Seorang pria dari sebuah ruangan.
"Aku harus pergi jauh pokoknya," jawab pria itu.
"Iya kenapa? Apa ada masalah? Dan kenapa juga harus pergi malam-malam seperti ini?" tanya temannya itu.
"Katakan saja, aku akan membantu sebisa ku," jawab temannya.
"Kau sudah berjanji sudah membantu ku kan? Jadi bantu aku sampai akhir," ucap pria itu.
"Iya, aku akan membantumu," jawab temannya itu.
"Aku lari karena sudah… sudah membunuh seseorang," jawab pria itu menundukkan kepala.
"Apa! Kau membunuh seseorang! Siapa yang kau bunuh!" teriak temannya itu dengan membelalakkan matanya dan memegang erat bahu pria itu.
__ADS_1
"Reni," jawab pria itu pelan.
"Reni? Kenapa kau membunuhnya? Apa terjadi sesuatu pada kalian?" tanya Temannya lemas dan kembali duduk.
"Iya, kami bertengkar hebat, dia ingin putus denganku dan ingin pergi dengan pria pilihannya," ucap Pria itu.
"Kau… kau tidak seharusnya melakukan itu padanya Soni, biarkan dia pergi dan kau bisa mencari wanita mana pun," ucap temannya itu menyayangkan.
"Tapi aku cinta mati dengannya, aku tak ingin dia di miliki oleh pria mana pun, aku tak rela," ucap pria yang bernama Soni itu dengan mata berkaca-kaca sambil mengeluhkan kepala.
Temannya mengangkat kepalanya mendongakkan ke atas, menahan air matanya.
"Jika kau mencintainya maka kau harus bisa melihat ia bahagia meskipun ia bahagia tidak bersamamu itulah arti kebahagiaan sesungguhnya, mencintai tak harus memiliki. Kali ini kau sudah membuat kesalahan fatal Soni," ucap Temannya berdiri.
"Tapi kau sudah berjanji akan membantuku," ucap Soni memohon.
"Aku memang temanmu, tapi bukan berarti aku membantumu dalam kejahatan, jika aku menyembunyikan mu sama saja aku menyiksamu, meskipun fisikmu bebas tapi tidak dengan hatimu, kau akan terus merenungi nasib mu itu dan hidup di kejar oleh kesalahan," ucap temannya.
Bersambung
jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih
__ADS_1