
"Ha-ha-ha, jika kita terus begini kau akan terbiasa nanti," ucap Chasyn tertawa.
Benar saja, tak lama mereka sampai di wisata hiburan. "Bagaimana kau akan masuk ke dalam rumah hantu itu kalau begini saja takut," ejek Chasyn.
"Ayolah, Ini beda, jika tertabrak bakal mati, di rumah hantu paling sakit jantung masuk rumah sakit," ucap Iyan.
"Iya, kalo jantungnya lemah juga mati, kalau mati kecelakaan kan setidaknya nggak ngerasain sakit, langsung KO, ya udah kita keluar, aku belikan tiketnya dulu," ucap Chasyn keluar dari mobilnya yang di ikuti oleh Iyan.
Mereka harus mengantri karena banyak orang yang mendaftar.
"Mau berapa tiket?" tanya penjual tiket itu.
"2 tiket," jawab Chasyn setelah gilirannya.
"40 ribu," ucap penjual itu.
Chasyn mengeluarkan dompetnya lalu mengambil uang dan menyerahkannya kepada penjual tiket.
"Sisa uang di dompetku tinggal sedikit, aku harus mengambilnya lagi," ucap Chasyn dalam hati.
"Ini kembaliannya," ucap penjual tiket menyerahkan sisa uang Chasyn.
"Terima kasih," ucap Chasyn menerimanya dan ia pun pergi.
"Kamu tunggu di sini sebenar, aku mau ke toilet dulu," ucap Chasyn menyerahkan sisa uangnya tadi ke tangan Iyan dan ia pun berlari ke toilet.
__ADS_1
Ding Ding
Hadiah Anda di potong 100.000
Sisa hadiah Anda [216.200.000]
Chasyn langsung masuk toilet yang tidak berpenghuni itu.
[Klik di sini untuk membuka]
Klik
Layar monitor itu muncul di hadapan Chasyn. Chasyn mengambilnya lalu memasukkan ke dalam dompetnya dan ia pun meninggalkan toilet tersebut.
"Ayo kita masuk," ajak Chasyn.
Chasyn menatapnya manyun karena selain berkomat-Kamit seperti baca mantra, dan itu sangat lama, Chasyn langsung menarik baju Iyan tanpa harus menunggunya selesai berdoa.
"Hey! aku sedang berdoa, nggak sopan kamu!" sungut Iyan.
"Doa malam apa itu berkomat-Kamit, aku melihatmu malah seperti membaca cerita," jawab Chasyn.
"Itu bukan baca buku, tapi itu adalah doa dari leluhurku," ujar Iyan membenarkan.
"Terserah kamu saja, lebih baik kamu lihat di sana itu," ucap Chasyn menunjuk ke arah wanita baju putih, rambut panjang menjuntai dan wajahnya penuh darah.
__ADS_1
"Alamakkk! Kenapa serem amat sih," ucap Iyan merangkul lengan Chasyn.
"Hm… aku rasa ini baru permulaan, mungkin di dalam sana lebih menyeramkan," ucap Chasyn.
"Aku rasa juga begitu, kamu tolong donk jangan lepasin tanganku," ucap Iyan.
"Aku tidak tertarik memegang tangan laki-laki," ucap Chasyn.
"Ayolah Chasyn, ini bukan masalah wanita atau pria, ini masalah takut," ucap Iyan.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya di rumah hantu.
"Chasyn, kenapa aku merasa ada sesuatu?" tanya Iyan memegang pundaknya dan menggosok-gosoknya.
"Wajar saja, ini kan di rumah hantu," jawab Chasyn santai.
"Tapi ini beda lho," ucap Iyan.
"Hm yang namanya takut mana ada bedanya," jawab Chasyn yang asik melihat hantu-hantu yang menakuti mereka.
Iyan melihat kebelakang. "Chasyn, apa hantu di sini kakinya ada yang nggak jejak?" tanya Iyan melihat sosok putih yang hanya tulang belulang itu terbang.
"Mereka hanya mengunakan tali di atasnya agar terlihat melayang," jawab Chasyn.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih.