
Iyan pun di periksa dengan alat Rontgen tersebut.
Beberapa menit kemudian, pemeriksan selesai.
"Sudah selesai, silakan duduk kembali," ucap dokter cantik itu. Iyan pun kembali duduk di hadapan dokter cantik itu.
Dokter itu melihat di sebuah layar. "Hm… Tidak ada masalah, tidak ada keretakan tulang atau tulang geser, coba sini saya lihat lenganmu," pinta dokter cantik itu.
Iyan tersenyum saat dokter itu memegang lengannya. "Ini sepertinya bagian otot mu yang memar, sepertinya terkena benda keras," ucap dokter cantik itu menekan-nekan lengan Iyan untuk merasakan sesuatu di lengan Iyan.
"Iya, tadi di pukul oleh beberapa orang dan untungnya teman saya menyelamatkan saya," ucap Iyan.
"Oh…," ujar buk doker mengangguk-angguk.
"Nama kamu siapa?" tanya buk dokter mencatat di buku laporan.
"Iyan buk," jawab Iyan.
"Alamat."
"Jalan hang Jebat nomor 10."
"Baiklah, ini adalah hasil dari Rontgen tadi, jadi tidak apa ada apa-apa ya, cukup di kompres saja dengan air hangat," ucap dokter cantik.
"Terima kasih buk dokter," ucap Iyan.
"Ya sama-sama," angguk buk dokter.
"Berapa buk?" tanya Chasyn mendekati Iyan.
"Hm… 3 juta," jawab buk dokter.
__ADS_1
Chasyn mengeluarkan uang dari dompetnya lalu menyerahkan kepada buk dokter.
"Ini buk," ucap Chasyn.
"Kok kamu yang bayar?" tanya dokter cantik itu melihat ke arah Chasyn sambil menerima uangnya.
"Iya, yang bawa dia ke sini adalah saya, jadi saya," jawab Chasyn.
"Ooh," angguk buk dokter cantik sambil menghitung uangnya.
"Ini sudah pas, terima kasih ya," ucap buk dokter.
"Iya sama-sama buk," angguk Chasyn.
"Buk dokter, udah nikah belum?" tanya Iyan memberanikan diri.
"Belum, kenapa?" Buk dokter balik bertanya sambil tersenyum manis.
"Hm… jawab nggak ya," Jawab ibu dokter mengulumkan senyumnya.
"Ya udahlah buk kalau nggak mau jawab, tapi nama ibu siapa?" tanya Iyan penasaran.
"Rosnita," jawabnya lagi.
"Boleh minta nomor ponselnya buk?" goda Iyan.
"Idih... kalian masih SMA, untuk apa nomor saya," jawab ibuk dokter tertawa renyah.
"Kan buat konsultasi lho buk," jawab Iyan.
"Itu nomor saya," jawab Buk dokter menunjuk ke sebuah dinding yang bertulisan nomornya. "Tapi cuma buat konsultasi tentang penyakit ya, jangan tanya tentang cinta, saya nggak tau jawabannya," ucap buk dokter mengingatkan.
__ADS_1
"Siap buk, terima kasih," jawab Iyan yang sudah mencatat nomornya.
"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya buk dokter kepada Chasyn.
"Chasyn," jawab Chasyn singkat.
"Cool sekali kamu," ujar buk dokter. Chasyn hanya menyengir.
"Ya udah kami permisi dulu buk," ucap Iyan berpamitan, Chasyn menundukkan kepala memberi hormat.
Mereka pun keluar dari rumah sakit tesebut dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Ha-ha-ha, aku dapet nomor buk dokter cantik, lumayan buat nambah kontak," ucap Iya. senang.
"Hm, Karen kamu tidak apa-apa, ya udah kita lanjutkan perjalanannya," ucap Chasyn.
"Oke let's go!" terima Iyan.
Mobil pun meluncur di jalanan menuju ke titik merah di layar monitor milik Chasyn.
"Ini tempatnya lumayan jauh," ucap Chasyn.
"Berapa jam?" tanya Iyan.
"Perkiraan 1 jam perjalanan," jawab Chasyn.
"Tidak terlalu jauh kok, Ya sambil jalan-jalan nggak terasa nanti sampai di tujuan," ucap Iyan.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih