
"Ayo ikut aku," ajak Chasyn buru-buru. Iyan mengikuti Chasyn dari belakang. Mereka pun masuk ke dalam mobil.
[Klik di sini untuk membuka]
Klik
Chasyn mencari ke 4 lokasi pria yang sudah membunuh wanita itu.
"Sudah ke temu, hanya satu saat ini yang paling jauh, namun itu tak masalah," ucap Chasyn melajukan mobilnya.
"Kita mau ke mana bos?" tanya Iyan.
pergi mencari orang-orang
Mobil pun terus melaju cepat karena ada jarak yang cukup jauh ditempuh, Chasyn menambah kecepatannya agar cepat sampai seperti biasa Iyan menjerit-jerit ketakutan.
Mobil pun sampai di tempat. Chasyn keluar dari mobil sambil melihat ke arah rumah yang berwarna Oren.
"Di sini bos?" tanya Iyan keluar dari mobil.
"Mungkin," jawab Chasyn singkat dan ia pun berjalan mendekati rumah itu. Iyan tak mau ketinggalan dan mengikuti Chasyn dari belakang sambil melihat sekelilingnya berharap ada seseorang yang di cari bosnya
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
Chasyn mengetuk pintu.
"Siapa?" tanya seseorang dari dalam rumah.
"Siapa ya?" tanya Chasyn sambil tersenyum melihat ke arah Iyan.
"Temannya," ucap Iyan punya ide.
"Oh sebentar," ucap suara wanita yang ada di dalam rumah membuka pintu.
Cklek!
"Kalian siapa?" tanya wanita itu melihat Chasyn, ia tak tak pernah bertemu dengan teman suaminya sebelumnya.
"Kami teman pemilik rumah ini," jawab Chasyn.
__ADS_1
"Teman? Kamu saja pakai seragam sekolah, bagaimana bisa di sebut teman, sedangkan suamiku sudah 7 tahun yang lalu tamat dari sekolah," ucap wanita itu.
"Katakan padanya jika aku dari SMA negeri 4 batu putih, nanti dia pasti akan mengerti," ucap Chasyn.
Wanita itu menatap Chasyn curiga namun ia kembali ke dalam rumahnya dan memanggil suaminya.
Tak lama, pria yang di maksudkan itu keluar, dia masih terlihat mengantuk.
"Hm … ada apa?" tanya pria itu. Karena nggak enak dengan istrinya, Chasyn membawa keluar pria itu.
"Kenapa? Kamu masih anak SMA kenapa kuat sekali," ucap Pria itu memegang tangannya yang sakit karena di genggam oleh Chasyn.
"Mana teman-teman mu yang 3 lagi?" tanya Chasyn tanpa basa basi.
"Teman? Apa maksud mu?" tanya pria itu tak mengerti melihat ke arah Chasyn dengan menekuk alisnya.
"Ya teman-teman mu yang melecehkan seorang siswi di sebuah toilet hingga ia meninggal di dalam toilet beberapa tahun yang lalu, kamu pasti masih ingat kan? Tidak lupa ingatan kan?" tanya Chasyn.
"Apa!" pria itu sangat terkejut. "Kamu, kamu bagaimana bisa mengetahuinya?" tanya pria itu dengan mata terbelalak.
"Dia yang mengatakannya sendiri, dia ingin mencari kalian berempat, dia minta kalian untuk bertanggung jawab atas kematiannya, sedangkan pada saat kematiannya kalian tidak ada yang mau mengakui kesalahan kalian, kalian membiarkan dia begitu saja, apa kalian benar laki-laki?" tanya Chasyn menatap pria itu tajam.
__ADS_1
"Itu …." pria itu menundukkan kepala, ia terlihat murung. "Aku tau itu memang kesalahan kami, tapi kami sangat takut di hukum, tapi sejak saat itu aku hampir gila jika mengingat kejadian itu, aku sudah mendapatkan hukuman ku sendiri, di mana aku benar-benar sudah berada di titik terendah," ucap pria itu.
"Hukuman macam apa itu? nyatanya sekarang kau malah sudah menikah dan hidup enak, jam segini baru bangun, sedangkan dia saat ini tidak bisa tidur di tempat nyaman sepertimu, sampai hari ini dia masih di awang-awang karena dendamnya," ucap Chasyn.