
"Katakan di mana tempatnya, aku akan ke sana sekarang," ucap Chasyn.
"Kamu jangan terlalu percaya diri, dia sangat kuat," ucap Nenek itu khawatir.
"Sekuat apa pun dia, aku akan mengalahkannya," ucap Chasyn serius.
"Kau sudah mengatakannya, tapi jika kamu nekat ke sana ya sudah aku tidak bisa melarang mu. Tempatnya ada di jalan panda, di belakang sana ada bukit mandul, di sanalah tempat tinggalnya," jawab Nenek itu.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang," ucap Chasyn bergegas menuju tempat yang di sebutkan tadi.
Chasyn menginjak pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi dan melintasi jalanan seperti bayangan.
Sesampainya di tempat tersebut, tempat itu terlihat angker, gelap gulita tanpa penerangan. Chasyn mengambil ponselnya dan menghidupkan senter ponselnya.
Hanya ada jalan setapak untuk melewati ke arah bukit mandul itu. Chasyn pun mengikuti jalan itu dengan berjalan kaki karena mobilnya tidak bisa masuk.
Di bukit itu ada sebuah pondok, Chasyn menyenter pondok itu dan tiba-tiba saja ada seorang kakek tua berdiri di depannya, Chasyn sangat terkejut karena ia menyenter wajah kakek tua itu.
__ADS_1
"Jika kau berniat tidak baik seharusnya kau tidak datang ke sini anak muda," ucap kakek itu.
"Kenapa kau mengatakan itu, aku justru datang dengan niat baik untuk melepaskan seseorang dari ilmu hitam, dia punya kehidupannya sendiri dan siapa pun tidak boleh mengurungnya," ucap Chasyn.
"Kurang ajar! Kau tidak perlu mengajariku, aku tau apa yang harus aku lakukan, kamu lebih baik tidak ikut campur!" terima kakek itu marah.
Ia mengeluarkan senjata celuritnya lalu menyerang Chasyn. Chasyn menangkap celuritnya lalu merampasnya dan kemudian mematahkannya.
Kakek tua itu sangat terkejut dan saat melihat celuritnya di patahkan dan di buang begitu saja oleh pemuda di depannya.
"Kamu… kamu… Tunggu saja kamu ya," ucap kakek itu geram dan ia berlari ke dalam pondok ya dan mengambil senjatanya dan kemudian ia pun keluar.
Ia pun membawa 2 samurai kiri dan kanan, ia pun maju ke depan lalu mengibaskan kedua samurai itu ke arah Chasyn.
Chasyn menghindarinya lalu memegang pergelangan tangan kakek itu dan menendangnya. Kakek itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Kakek berlari maju ke depan dan menyerang Chasyn. Dengan sigap Chasyn menangkap kedua samurai itu dan mematahkannya lagi.
__ADS_1
Krak!
"Apa! Dia bahkan bisa mematahkan samurai yang sudah ku mantrakan!" ucap Kakek itu sangat terkejut.
Chasyn tiba-tiba merasa sakit, ia melihat kedua telapak tangannya mengeluarkan darah, tapi darah itu bukan merah, namun hitam pekat seperti tinta cumi.
Kakek itu kembali ingin masuk ke dalam gubuknya untuk mengambil senjatanya.
"Aku harus menyelesaikan ini," ucap Chasyn. Ia pun berlari mengejar kakek tuan itu lalu menangkap baju kakek tua itu lalu menendangnya. Kakek itu terjatuh dan terpental, Chasyn menarik baju bagian belakangnya lalu menghantamnya tanpa ampun dan hanya tidak membiarkan kakek itu menyerangnya dan hanya menyisakan satu nafasnya untuk ia menjawab pertanyaannya.
"Katakan di mana kunci untuk membuka pembatas itu?" tanya Chasyn.
"Aku tidak akan mengatakan meskipun aku mati," ucap kakek tua itu dengan mulut berdarah-darah tapi ia masih bisa tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
__ADS_1
Terima kasih