
Seorang pegawai restoran cepat saji itu datang menghampiri mereka
"Mau pesan apa Nyonya, Tuan, Nona ucap pegawai itu ramah.
"Berikan kami makanan cepat saji 6 porsi dan nasi bubur satu porsi," ucap Chasyn.
"Baik Tuan," angguk pegawai itu pergi kembali ke dapur.
"Bubur untuk siapa?" tanya Chelsea heran melihat ke arah Chasyn.
"Untuk pamanmu lah," jawab Chasyn.
"Dia? Kalau aku sih mending nggak usah di kasih makan," ucap Chelsea kesal, tapi dia hanya berbicara pelan takut kedengaran Papanya.
Chasyn menatap Chelsea. Wajar saja jika dia sangat membencinya, orang yang ingin melenyapkan nyawa keluarganya dan malah tinggal satu rumah dengannya, itu pasti sangat menyebalkan.
"Ssstttttt," ucap Chasyn meletakkan jari telunjuknya di bibir Chelsea. Chelsea terdiam dan ia menghindar.
"Kau boleh menjahilinya, tapi jangan sering-sering," bisik Chasyn tersenyum.
"Ughhhh! Aku sangat tidak ingin melihat dia," Jawab Chelsea manyun.
Tak lama kemudian para pegawai mengantar makanannya dan meletakkan di atas meja.
__ADS_1
"Silakan Tuan, Nona, Nyonya," ucap pegawai itu tersenyum ramah, pegawai itu mengidipkan matanya sebelah ke arah Chasyn.
Chasyn langsung tertegun, Chelsea menatap Chasyn dengan tatapan membunuh.
"Eh itu … aku tidak ngapa-ngapain," jawab Chasyn mengerakkan tangannya ke kiri dan kanan dengan cepat.
"Ya aku tau bukan kau yang menggodanya, tapi itu salah wajahmu yang terlalu tampan sehingga mengundang bunga untuk mendekat," jawab Chasyn 2x lipat kesal.
"Nah betul, aku memang sangat tampan," ucap Chasyn mengelus rambut kebelakang.
"Huh!" denggus Chelsea ia duduk di kursi dan mengambil bagiannya.
Baru makan beberapa suap, mobil Tuan George datang mendekat, ia tahu jika Chasyn makan di restoran cepat saji tersebut karena pilot memberi tahunya.
Tuan George keluar dari mobilnya dan masuk ke restoran cepat saji itu.
"Tuan? Mungkin kah dia Tuan George," ucap Chasyn dalam hati.
Chasyn mendekati pria itu dan menyalaminya. "Chasyn," ucap Chasyn memperkenalkan diri.
Tuan George mengangguk dan membalas jabatan tangan Chasyn. "Aku George, senang bertemu dengan mu anak muda," ucap Tua George tersenyum.
"Mari duduk, Anda mau pesan apa?" tanya Chasyn.
__ADS_1
"Aku sudah makan, aku hanya ingin kopi saja," jawab Tuan George.
"Mbak, kopi 2," pesan Chasyn.
"Baik," jawab pegawai itu mengangguk.
"Ayo duduk di sana, biar bicaranya lebih leluasa," ajak Tuan George.
"Baik Tuan," angguk Chasyn. Chasyn menghampiri Chelsea dan berbisik.
"Aku pergi ngobrol dulu Sama Tuan George, tidak apa-apa kan?" tanya Chasyn.
"Iya," angguk Chelsea. Chasyn pun menyusul Tuan George dan duduk di kursi dekat jendela.
"Oh ya, masalah jendela pesawat aku minta maaf sudah memecahkannya, aku akan bertanggung jawab membayar berapa kerugiannya, atau mungkin Tuan ingin menukarkan pesawat ku saja?" tawar Chasyn.
"Jadi kalau kau menukar dengan pesawat mu dengan pesawat ku? Apa tidak masalah?" tanya Tuan George menatap Chasyn.
"Hm … tidak, karena aku 2 pesawat, ku berikan satu itu tidak merugikan ku kok," ucap Chasyn.
"Kau mau pamer kekayaanmu?" tanya Tuan George.
"Aku tidak pamer, hanya saja itu bentuk ketulusan hatiku ingin meminta maaf, bagaimana?" Chasyn balik bertanya.
__ADS_1
"Baiklah, tapi apa yang kau lakukan dengan pesawat rusak itu?"
"Hm … bagiku tidak ada gunanya juga, di jadikan koleksi juga akan memakan tempat," ucap Chasyn.