
Chasyn melihat di layar monitornya tempat mana saja yang ada bandara dan waktu penerbangannya.
“Hm… sepertinya di negara C tidak ada penerbangan, jadi bisa mendarat di sana dan juga tidak jauh dari sini,” ucap Chasyn dalam hati.
Chasyn pun mendaratkan pesawatnya di sana.
“He-he-he, mendarat begini apa tidak masalah kah?” tanya Chasyn dalam hati.
Pesawat Chasyn pun mendarat di sana. Karena hari ini tidak ada pendarat jadi tidak masalah jika ada yang mendarat.
Salah satu penjaga pesawat di sana menghampiri Chasyn yang saat itu sedang turun dari pesawat.
“Permisi, kenapa Anda mendarat di sini?” tanya penjaga di sana dengan menggunakan bahasa inggris.
“Maaf, tapi bukannya di negara ini sedang tidak ada pendaratan?” tanya Chasyn.
“Memang tidak ada, tapi Anda seharusnya konfirmasi dulu,” ucap penjaga itu.
“Maaf, lain kali jika aku ke sini aku akan konfirmasi dulu, bisakah Anda memberikan nomor ponselnya agar aku bisa menghubungi jika aku mendarat,” pinta Chasyn.
“Iya sebentar,” ucap petugas itu mengambil ponselnya lalu mencari nomor ponsel yang bertugas pengontrol pendaratan dan dan lepas landas pesawat dan juga menjadwalkan terbang pesawat.
“Ini nomornya,”ucap petugas itu.
Chasyn mencatat nomor ponselnya lalu menyimpannya.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Chasyn. “Tapi untuk hari ini tidak apa-apa kan jika kami mendarat di sini kan?” tanya Chasyn.
“Tidak apa-apa, apa pesawat pribadi?” tanya petugas itu.
“Eh iya,” angguk Chasyn malu-malu karena ia punya pesawat tapi tidak punya pendaratannya.
“Huh! Lain kali aku akan membuat bandara sendiri, he-he-he, tapi harus punya tanah sendiri,” ucap Chasyn dalam hati.
Mereka pun meninggalkan pesawatnya dan pergi jalan-jalan.
“Oh iya, apa petugas itu tidak menanyakan pasport ya? Apa dia lupa?” tanya Chasyn melihatnya kebelakang namun petugas itu cuek aja.
“Kemana nih kita akan pergi?” tanya Iyan.
“Kemana saja, asal tidak menyasar,” ucap Chasyn.
“Bos,aku lapar nih,” ucap Iyan.
“Ayo kita cicipi makanan di negara ini,” ucap Chasyn. Mereka pun menuju di salah satu penjual di kaki 5 dengan makanan khasnya.
“Pak aku mau makanan ini,” ucap Chasyn dengan bahasa inggris.
“Mau berapa Tuan?” tanya penjual itu.
“Berikan kami dua porsi,” pinta Chasyn.
__ADS_1
“Baiklah,” angguk penjual itu, dengan tangan sigapnya memasak makanan pesanan Chasyn.
Tak lama kemudian pesanan mereka selesai. “Silakan Tuan,” ucap penjual itu memberikan pesanan mereka.
"Terima kasih," ucap Chasyn menerimanya dan melahap makan itu sambil mengangguk-angguk karena makanan di kaki lima tidak kalah enaknya di restoran, hanya saja mereka tak punya modal untuk menyewa tempat.
Duuuaaaaaarrrrr!
terdengar hantaman keras yang sangat besar hingga mengetatkan tanah dan serpihan-serpihan tanah itu terlempar ke arah mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Chasyn dan Iyan terkejut.
"Apa sebelumnya ada terjadi seperti ini?" tanya Chasyn kepada penjual itu.
"Tidak, tidak pernah," jawab penjual itu menggeleng dan ia terlihat panik.
"Iyan, kamu tinggal di sini dulu, aku akan pergi melihatnya," ucap Chasyn.
"I-iya bos," angguk Iyan. Chasyn pun pergi meninggalkan Iyan dan berlari menuju tepat kejadian itu.
[System, apa yang terjadi?]
[Ada sebuah pengeboman di sebuah taman kota, jika di lihat dari datanya mereka punya musuh di negara ini]
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih