
"Tolong! Tolong aku!" Teriak wanita itu kepada notaris yang berdiri terpaku itu, namun notaris itu hanya diam di tempat dan tidak berbuat apa-apa.
"Maaf aku tidak bisa membantu, aku juga berharap kau juga pergi," ucap notaris itu.
Akhirnya kunci itu Chasyn dapatkan, namun itu bukan berupa kunci seperti rumah, melainkan besi berkarat seperti paku, namun bukan itu bukan paku.
"Katakan bagaimana membukanya?" Tanya Chasyn.
"Ha-ha-ha, aku tidak akan mengatakannya, sekalipun aku mati," ucap
Chasyn sangat geram dan ia pun mematahkan tangan dan kaki wanita itu.
krak!
"Aaaaaaaa!" Teriak wanita itu kesakitan.
__ADS_1
“Ini adalah sebagai pengajaran agar kau tidak melakukan hal buruk lagi, dan juga agar kau merasakan hidup pun tak mau lagi,” ucap Chasyn.
Chasyn mematahkan besi itu dan seketika pembatas itu terbuka. Bayangan itu langsung menyerbu masuk ke dalam rumah tersebut dan dan langsung masuk kamar.
Chasyn juga masuk ke dalam kamar itu.
“Ayah.” Terdengar suara lirihan seorang anak mendekati ayahnya.
“Siapa… siapa kamu?” tanya seorang pria paruh baya yang lumpuh dengan badan kurus keringnya yang tak terurus, padahal dia adalah orang kaya.
Bayangan itu berubah bentuk aslinya menjadi seorang gadis yang sangat cantik, karena semasa hidupnya ia memang sangat cantik yang sebagai putri tunggal yang kaya.
“Ayah aku sangat senang melihat ayah meskipun ini yang terakhir kalinya,” ucap bayang itu mencoba memegang pipi Ayahnya namun ia hanyalah bayangan transparan.
“Anakku, maafkan Ayah karena sudah menelantarkan kalian sehingga kalian seperti ini, Ayah sangat bersalah pada kalian, maafkan Ayah nak,” ucap bapak itu sambil menangis.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Ayah, aku tidak masalah asal bisa melihat ayah, aku sangat bahagia,” ucap bayangan itu meneteskan bulir bening namun ia tersenyum bahagia.
“Tidak anakku, ayah sangat bersalah dengan kalian jangan memaafkan Ayah, aku bahkan tidak akan memaafkan diriku sendiri atas perlakuan buruk ku, aku bahkan membuang kalian demi wanita simpanan itu, aku sungguh tak pantas menjadi keluarga kalian, aku tak pantas menjadi ayahmu," ucap ayahnya menangis tersedu-sedu.
"Perlakukan buruk apa pun ayah tetaplah ayah ku, selamanya akan tetap begitu, ayah tak tergantikan meskipun aku akan pergi dari dunia ini untuk selama-lamanya, terima kasih ayah karena sudah menjadi Ayah ku, ibu juga pasti sangat bahagia mempunyai suami seperti ayah, hanya saja ia tak sempat melihat Ayah untuk terakhir kalinya, ayah juga jaga kesehatan, makanlah yang banyak, jangan menangis dan tersenyumlah, jika ayah bersedih, aku juga ikut bersedih," ucap bayangan itu.
Namun perlahan-lahan bayang itu semakin transparan. "Ayah, waktuku sudah tak banyak lagi, aku harus pergi sekarang, Ayah baik-baik di sini teruslah hidup. Selamat tinggal Ayah, aku sayang ayah," ucap bayangan itu perlahan-lahan memudar sambil melambaikan tangan.
"Tidak anakku! Jangan pergi! Jangan tinggalkan Ayah! Biarkan Ayah ikut bersama kalian! Biarlah ayah bahagia bersama kalian!" Teriak sang Ayah berusaha berdiri dan ingin memeluk bayangan itu namun ia jatuh tersungkur sambil menangis terisak-isak.
Namun bayangan ini sudah hilang hanya tinggal sang Ayah menangis penuh penyesalan yang sangat dalam.
"Tuhan… kenapa… kenapa jadi seperti ini, kenapa aku sangat bodoh dan teramat bodoh, kenapa aku membuang mereka demi perempuan jahat itu dan pada akhirnya hidupku sengsara," ucap bapak itu menundukkan kepala air mata yang bercucuran.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote komen dan hadiah
Terima kasih