
Khanza terus mencoba menerima kenyataan hidup pernikahannya.Inilah kenyataan yang dipilihnya. Menjadi istri kedua dari suaminya dan mencoba untuk menjalani kehidupan pernikahannya. Ikhlas itulah satu kata yang ia pilih.
Khanza mencoba menghibur hatinya dengan tersenyum dan tertawa bersama Aziel putra, tak ingin nenek merasa khawatir.
Disaat ia kembali merasa terpuruk, Aziel seolah menjadi obat yang menghilang rasa sakitnya. Tawa putranya mampu menghapus rasa sakit nya, Khanza bersikap seolah tak terjadi apa-apa pada hatinya.
Khanza ingin mencari masalah dengan mertua suaminya itu, ia memilih mengalah, ia tak ingin terlihat bersedih di hadapan kakek dan neneknya, mereka juga sudah ikhlas menerimanya hubungan poligaminya. Khanza selalu menghindari kemanapun Santi pergi.
Jika Santi masuk ia akan keluar, jika Santi keluar ia akan masuk. Itulah yang ia lakukan selama menunggu hari dimana Ia akan keluar dari rumah itu.
Khanza terus menghitung waktu, kapan ia akan keluar dari istana yang telah yang membuatnya merasa sesak, walau tinggal di rumah mewah. Ia merasa waktu berjalan begitu lambat, tetapi ia setia menunggu hari itu tiba.
Menjelang kepindahannya beberapa keluarga dari kampung sudah berdatangan, Khanza sengaja mengarahkan mereka semua langsung ke salah satu rumah yang dekat dengan rumah barunya, sehingga tak menyusahkan mereka saat pindahan nantinya, Khanza sengaja meminta Abizar untuk menyewakan salah satu rumah yang ada di sana untuk semua keluarganya.
Bukan Khanza tak ingin seluruh keluarganya tinggal di rumahnya sekarang, tapi ia tak ingin jika kedatangan mereka semua mengganggu Santi di rumah itu. Ia tak ingin ada kejadian yang bisa membuatnya semakin terluka.
Khanza sadar keluarganya berasal dari kampung dan mungkin akan bersikap tak seperti yang diharapkan oleh Santi.
Khanza sudah tidak sabar menanti hari esok Dimana besok ia akan keluar dari rumah itu. saking senangnya Khansa tak bisa memejamkan matanya.
"Kau belum tidur?" tanya Abizar yang merasa jika Khanza sedari tadi terus gelisah.
Khanza yang membelakangi Abizar membalikkan badannya melihat suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Aku hanya terlalu senang sehingga tak bisa tidur, aku sudah tidak sabar untuk pindah ke rumah baru kita," ucapnya.
Abizar mengusap lembut rambut Khanza, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Apa kamu sangat ingin pindah? Apakah ada yang membuatku tak nyaman di rumah ini?" tanya Abizar menatap mata indah Khanza. Mata berwarna coklat yang dihiasi bulu mata yang lentik.
Khanza menggelang kemudian masuk ke dalam pelukan Abizar.
"Aku hanya ingin memiliki rumah sendiri, dengan begitu …." Khanza menghentikan ucapannya.
"Begitu apa?" tanya abidzar semakin mengeratkan pelukannya, menghirup aroma tubuh Khanza yang sudah menjadi candu baginya.
"Dengan begitu tak ada yang akan menghinaku," batin Khanza.
Khanza yang merasa nyaman di dekapan suaminya langsung terlelap.
__ADS_1
Abizar mengecup kening Khanza kemudian menatap wajah tenang istri mudanya itu, memberi kecupan lembut di bibir Khanza dan Abizar pun ikut tertidur sambil memeluk Khanza.
Malam ini Abizar tidur bersama dengan Khanza, sedangkan Farah tidur bersama Aziel.
Keesokan harinya semua sudah berkumpul, dan siap di depan rumah baru Khanza, Farah sudah mengatur semuanya. Mulai dari dari catering hingga acara doa bersama untuk memasuki rumah baru. Abizar mengundang beberapa anak-anak panti asuhan untuk mendoakan keberkahan rumah baru mereka.
Semua keluarga Khanza juga sudah bersiap, begitu juga dengan keluarga Abizar. Mereka semua sudah berkumpul di depan pintu gerbang.
Khanza menghirup udara perlahan dan menghembuskannya, jantungnya berdegup kencang. Inilah awal dari kehidupan rumah tangganya. Semoga dia jauh lebih bahagia setelah berada di rumahnya sendiri. Khanza terus doa dalam hati.
"Bukalah," ucap Abizar mempersilahkan Khanza untuk membuka pintu gerbang.
"Aku," ucap Khanza menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, Bukankah. Ini rumahmu," Ucap Abizar yang menggendong Aziel.
Khanza tersenyum dan mengangguk. terlihat begitu cantik.
Ia pun berjalan dan bersiap untuk membuka gerbang.
Nenek bisa melihat kebahagiaan di wajah cucunya.
Keluarga Khanza sedari tadi mengagumi rumah itu walau mereka baru melihatnya dari luar.
"Bismillah, semoga ini adalah awal dari kebahagiaan ku, semoga rumah menjadi tempat ternyaman ku dan Aziel," ucap khanza perlahan mendorong gerbang dan membukanya.
Mereka semua masuk dan merasa takjub dengan rumah yang ada di hadapan mereka.
Khanza sengaja tidak mengundang tamu lain, ia hanya mengundang keluarga besarnya, keluarga Abizar dan beberapa anak panti asuhan. Khanza ingin hidup lebih tenang di rumah barunya.
Tak lupa ia juga mengundang Aqila sehabat nya.
Setelah menyiapkan Segalanya,
Doa bersama pun dimulai, mereka mendoakan agar rumah itu bisa memberikan kebahagiaan kepada Khanza dan keluarganya.
Dilanjutkan dengan acara makan bersama.
Abizar yang tak ingin Khanza merasa kesepian di rumah barunya sengaja memindahkan beberapa asisten rumah tangga yang sudah saling mengenal satu sama lainnya.
__ADS_1
"Makasih ya, Kak. Khanza sangat senang hari ini," ucap Khanza merangkul lengan suaminya.
"Aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia," jawab Abizar mengecup punggung tangan Khanza.
Mereka semua menikmati jamuan yang sudah disiapkan oleh Farah. Disaat semua bahagia larut dalam kebersamaan sambil menikmati hidangan yang ada.
Hanya Santi seorang yang sedari tadi terus saja memasang wajah tak suka.
Tadinya ia tak mau datang, tapi Farah manaksanya dan menjadi Abizar sebagai alasan agar mamanya mau ikut.
"Farah, Mama pulang dulu ya," ucap Santi menghampiri Farah yang sedang sibuk membagikan makanan untuk anak-anak panti.
"Ada apa, Mah? Mama baik-baik saja?" tanya Farah khawatir.
"Mama nggak apa-apa, Mama hanya ga suka di sini, bau kampung, Mama pulang saja," ucap Santi menutup hidupnya. "Mama tunggu saja kalian di rumah," ucapnya berjalan keluar.
Farah meminta sopir pribadi Abizar, pak Tarno untuk mengantar mamanya.
Pak Tarno juga salah satu yang akan bertugas di rumah Khanza, ia akan menjadi sopir Khanza nantinya.
Farah melihat mamanya, yang sudah keluar dari gerbang.
"Kenapa Mama jadi berubah seperti ini, aku seperti tak mengenali mama," batin Farah kemudian melanjutkan menjamu para anak panti asuhan yang ikut menghadiri acara tersebut.
Begitu mobil Pak Tarno yang mengantar mamanya keluar, masuklah sebuah mobil lagi dan Farah tahu jika mobil itu adalah milik Daniel.
"Daniel, Siapa yang mengundang Daniel." Farah terus memperhatikan siapa orang datang bersama dengan Daniel.
"Sudah kuduga, pasti Aqila." batin Fatah.
"Halo, Mbak. Maaf ya aku terlambat." ucap Aqila. "Khanza nya mana ya, Mbak?" tanya Aqila menghampiri Farah dan mengedarkan pandangannya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖