
Lucia yang kesal tak lagi mengikuti Azriel dan juga Mentari, ia memilih untuk melajukan mobilnya ke tempat lain.
"Kak, kita ngapain ke sini?" tanya Aisyah saat Lucia membawa mobilnya ke klub malam.
"Ya mau apa lagi, kita senang-senang lah. Habisnya kakakmu nyebelin," ucap Lucia sambil membuka sabuk pengamannya, tak lupa ia menambahkan pewarna merah di bibirnya dan menyemprotkan farfum ke lehernya.
"Aku nggak mau, Kak. Aku dilarang datang ke tempat-tempat seperti ini, kita pulang aja yuk! Ini juga sudah jam berapa? Sudah malam, nanti ibu bisa marah," ucap gadis SMA itu.
"Kamu itu sudah dewasa, masa belum dibolehkan sih ke tempat seperti ini. Ayolah tenang saja, kita nggak minum-minum kok, cukup lihat-lihat saja," ucap Lucia menarik tangan Aisyah untuk ikut masuk bersamanya ke dalam klub tersebut.
"Enggak, Kak. Aku nggak berani, Kakak saja yang masuk," ucap Aisyah menolak, ia belum pernah ke tempat seperti itu dan ia sudah diwanti-wanti oleh ayah dan ibunya khususnya Azriel untuk tak mendekati tempat itu.
"Baiklah, gini aja kita masuk 30 menit saja, ok. Setelah 30 menit kita keluar dan kakak janji kamu akan baik-baik saja, kita tak akan menyentuh alkohol hanya melihat-lihat orang saja di dalam, Oke? Ayo," ucap Lucia kembali menarik tangan Aisyah. Namun, Aisyah kembali menepisnya dan menggeleng cepat. Kakinya tak bergerak tetap berpijak di tempatnya, ia tak ingin melangkah ke tempat yang sudah dilarang olehnya keluarganya.
"Aisyah, kamu itu nyebelin banget sih sama saja dengan kakakmu. Ya sudah kalau kamu tak mau masuk, tunggu saja di mobil," ucap Lucia yang langsung meninggalkan Aisyah di parkiran klub malam tersebut.
"Dasar kak Lucia! Semoga saja kak Azriel tak pernah memilih kakak," kesal Aisyah menghentakkan kakinya melihat Lucia masuk ke dalam tempat terlarang itu, ia melihat ke kiri dan ke kanannya. Lusia bisa melihat orang-orang yang menyeramkan menurutnya ada di sekitaran sana, belum lagi beberapa orang yang keluar dari klub malam tersebut terlihat mabuk. Ia pun dengan cepat masuk kembali ke dalam mobil dan menguncinya.
Dengan sabar Aisyah menunggu di mobil, sudah 30 menit berlalu. Namun, Lucia belum juga kembali, ia pun mencoba menghubungi Lucia. Namun, tetap saja ponselnya tak bisa dihubungi.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu mobil di mana Aisyah duduk, Aisyah tersentak kaget saat melihat 3 orang pria mengintip ke dalam mobilnya. Untung saja ia mengunci pintu mobil saat ia masuk tadi, terlihat jika ketiga pemuda itu mencoba membuka pintu mobil itu secara paksa.
__ADS_1
"Kamu di mana, Kak," ucap Aisyah yang sudah menangis ketakutan, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ketiga orang itu berhasil membuka pintu mobilnya pasti mereka akan melakukan hal-hal yang bisa menyakitinya.
Samar-samar dari dalam Aisyah mendengar percakapan mereka, sepertinya tadi mereka sempat melihatnya di dalam sana. Terlihat satu orang mencoba untuk membuka pintu tersebut menggunakan alat. Aisyah pun dengan cepat berusaha untuk menarik pintu itu agar tak terbuka, ia bisa mendengar suara kunci pintu yang dibuka secara paksa dan benar saja orang itu langsung menarik pintu dan pintunya terbuka, Aisyah menjerit ketakutan.
"Pergi kalian! Jangan dekat-dekat, pergi!" ucap Aisyah memukul-mukul tangan orang tersebut yang berusaha menariknya keluar.
Aisyah menjerit dan berontak. Namun, orang itu langsung membuka sabuk pengaman yang di pakai Aisyah dan menarik Aisyah keluar.
"Jangan takut, kami akan membuatmu merasa senang. Ayo ikut kami daripada kamu menunggu dengan bete di sini, orang yang bersamamu tadi masih asik di dalam, ia pasti akan masih lama bersenang-senang. Kita juga akan bersenang-senang bersama," ucap salah satu dari ketiga pria tersebut dan menyeret Aisyah menjauh dari mobilnya. Aisyah terus menjerit. Namun, orang-orang yang melihatnya tak ada yang berniat membantunya, mereka terus berjalan menuju ke tujuan mereka masing-masing, mengabaikan jeritannya yang minta tolong.
"Diamlah! Jika kamu terus menjerit seperti itu aku bisa menyakitimu," ucap orang tersebut mengancam untuk memukulnya, membuat Aisyah pun terdiam dengan lelehan air mata yang tak bisa berhenti menetes dari sudut matanya.
"Tolong, aku mohon jangan sakiti aku. Ini ambil ponselku, ini juga ambil semuanya," ucap Aisyah memberikan tasnya begitupun dengan ponsel yang sejak tadi dipegangnya yang dipakai untuk menghubungi Lucia.
Aisyah berusaha untuk mengambil kembali hijabnya. Namun, orang itu langsung merampasnya dan membuangnya ke sembarang tempat, Aisyah hanya bisa duduk menangis dan memeluk tubuhnya sendiri, ia menutupi rambutnya dengan jaket hoodie yang digunakannya.
"Kak Lucia, tolong aku!" jerit Aisyah dalam hati yang terus melihat ke arah di mana tadi ia diseret, menjerit saja pasti tak akan didengar apalagi hanya meneriakkan nama Lucia di dalam hatinya, ia tak berani membuka mulut karena ancaman orang-orang yang terlihat mendiskusikan sesuatu.
Aisyah mengumpulkan keberaninya dan ingin kabur dari sana. Namun, orang tersebut menarik jaketnya dan langsung menghempaskannya. Membuat tubuhnya terbentur di dinding, Aisyah meringis kesakitan karena apa yang dialaminya, ia hanya bisa menangis saat ketiga orang tersebut berjalan mendekatinya bahkan salah satu dari mereka telah membuka jaket yang digunakannya dan menatap Aisyah dengan seringainya.
"Kalian mau apa? Lepaskan aku! Biarkan aku pergi," mohon Aisyah. Namun, salah satu dari mereka langsung menariknya dan memeluknya, menciumnya secara paksa.
__ADS_1
Aisyah terus saja menutupi wajahnya dengan lengannya, berusaha untuk memberontak agar terlepas dari dekapan orang tersebut. Namun, kekuatannya tak seberapa, dua dari mereka kini ikut membantu memegangi tangan Aisyah dan satu lainnya menghimpitnya ke dinding.
"Ayolah manis jangan melawan, jika kamu melawan pasti sakit," ucap orang tersebut membuat kedua temannya yang memegang tangan Aisyah tertawa. Aisyah semakin ketakutan saat orang itu berusaha untuk membuka jaket hoodie yang digunakannya .
"Wah, tubuhmu cantik sekali," ucap salah satu dari mereka menepuk bagian belakang Aisyah, bahkan satu orang ingin memegang dada Aisyah yang memang menyembul saat kedua orang tadi memegang dan membawa tangan Aisyah menempel pada dinding.
Aisyah yang tak sanggup melihat apa yang akan mereka lakukan hanya bisa menutup matanya dengan erat. Namun, tiba-tiba ia bisa merasakan kedua pegangan orang tadi terlepas dan terdengar suara mengerang kesakitan.
Aisyah membuka mata, ternyata ketika orang tadi yang hampir saja melecehkannya kini tersungkur di tanah dan melihat seseorang yang terlihat berdiri di hadapan ketiganya.
Perkelahian kembali terjadi di antara mereka dan terlihat ketiga orang yang tadi membuatnya ketakutan berlari meninggalkannya dan juga orang yang ada bersamanya.
Orang itu terlihat menunduk dan mengambil hijabnya dan juga jaket hoodie yang dilemparkan orang tadi.
"Pakai ini," ucapnya memberikan hijab serta jaket hoodienya, dengan tangan bergetar Aisyah pun mengambil apa yang diberikan orang tadi. Ia dengan cepat memakai jaketnya dan dengan cepat memakai hijabnya walau secara asal-asalan karena tangannya sudah sangat bergetar, ia sangat bersyukur ada yang menolongnya, sepertinya orang yang menolongnya ini adalah orang yang baik.
"Ayo pergi dari sini, tempat ini sangat berbahaya untuk orang sepertimu," ucap orang tersebut membuat Aisyah pun mengangguk dan segera pergi dari sana.
Aisyah bisa melihat jika Lucia berdiri di samping mobilnya dan terlihat melihat ke kiri dan ke kanan, sepertinya Lucia mencarinya.
"Aisyah, kamu ke mana aja sih, merepotkan sekali!" ucap Lucia membentak Aisyah, Aisyah tak menjawab, ia hanya langsung masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya, ia menutupi hijabnya yang berantakan dengan jaket hoodie nya, ia memegang sabuk pengamannya dengan erat dan tak mau menoleh ke arah Lucia yang sejak tadi terus mengomel sambil mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
Begitu mereka sampai, Aisyah langsung berlari ke kamarnya, meninggalkan Lucia yang masih memarkirkan mobil mereka.
"Dasar menyebalkan! Mengapa sih aku harus terjebak di keluarga yang menyebalkan seperti ini, jika aku tak terlanjur menyukai Azriel. Aku juga tak mau tinggal di sini, lihat saja dalam satu tahun aku akan membawa Azriel kembali ke luar negeri, ia akqn ikut denganku. Aku tak mau tinggal di negara ini, semua serba membosankan," gerutunya kesal saat melihat Aisyah meninggalkannya.