
Persiapan pernikahan Khanza sudah mulai dilakukan, Khazan tak ingin mengadakan pesta yang terlalu mewah, cukup mengadakan akad nikah di kediamannya saja, begitupun dengan Damar dia juga akan melakukan resepsi di kediamannya.
Pernikahan mereka akan diadakan dua bulan lagi, berhubung masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantornya, belum lagi persiapan yang lainnya.
Hari ini Khanza sedang sibuk di kantor semua harus dikerjakannya sendiri. Tak seperti biasanya ada Aqila, biasanya ada Aqila yang membantunya. Namun, Aqila meminta cuti 1 bulan untuk berbulan madu.
Belum lagi ada Aisyah yang tak mau lepas darinya, tak seperti biasanya ia akan mau bermain bersama bibi, membuat ia harus bekerja dan sambil mengasuh Aisyah meskipun sudah ada pengasuh yang mengawasi, Aisyah tetap menginginkan Khanza yang mengurusnya.
"Aisyah sama bibi dulu ya? Mama mau kerjain ini," bujukan pada putrinya.
Aisyah terus menggeleng dan menangis. Sudah beberapa hari ini Aisyah bertingkat seperti ini. Ia terus meminta Khanza menjauhkan laptopnya dan ingin mamanya menggendongnya.
"Ya udah, kita main sebentar saja! sudah itu mama kerja lagi ya?"ucapnya kemudian menggendong Aisyah keluar dari ruangannya.
Bibi terus mengikutinya dari belakang sambil membawa beberapa mainan Aisyah, terus membujuk Aisyah agar mau bermain dengannya. Namun, Aisyah terus memeluk erat leher mamanya.
"Bi, telepon Pak sopir ya suruh jemput Aziel dan suruh bawa ke sini. Aisyah lagi rewel aku nggak bisa nyetir," ucap Khanza yang merasa badan Aisyah hangat.
Bibi pun menelepon sopir. Namun, ternyata sopir sedang mengantar Bibi yang bekerja di dapur untuk berbelanja dan jaraknya dari pusat perbelanjaan tradisional dengan sekolahan Aziel cukup jauh dan biasanya akan macet di jam seperti itu.
"Ya udah Bi telpon papanya saja minta dia yang menjemput." Khanza takut jika menunggu supirnya, Aziel akan menunggu lama.
Bibi kembali menelpon Abizar, panggilan kedua Abizar baru mengangkat panggilan nya Abizar sedang rapat tapi saat melihat jika yang menelponnya adalah pengasuh anak-anaknya ia langsung mengangkatnya dan meminta rapatnya ditunda.
"Ada apa, Bi?" jawab Abizar.
"Begini Pak, Ibu sedang sibuk mengurus Aisyah di kantor dan sopir sedang mengantar Bibi ke pasar. Apa bapak bisa menjemput Aziel?" ucap bibi.
"Iya Bi, biar aku yang jemput." Abizar mematikan panggilannya.
"Fahri, lanjutan Rapatnya, aku ada urusan penting." Abizar meninggalkan ruang rapat dan Fahri langsung melanjut rapatnya.
Abizar berpamitan kepada rekan bisnisnya dengan alasa anak dan mereka semua mengerti. Beruntung rapatnya sudah hampir selesai dan Fahri bisa menghendelnya.
Begitu Abizar datang Aziel sudah duduk termenung di tempat parkiran ditemani oleh wali kelasnya.
"Maaf ya, Pak. Saya terlambat menjemputnya, terima kasih Sudah menemani anak saya," ucap Abizar kepada wali kelas Aziel.
"Iya nggak apa-apa, Pak. Aziel anak yang pintar dia tidak rewel jika jemputannya terlambat."
"Apa Aziel sering terlambat dijemput?" tanya Abizar.
"Belakangan ini mamanya suka terlambat menjemputnya, Pak."
"Makasih, kami permisi dulu," ucap Abizar kemudian Ia pun membawa Aziel kembali ke kantornya, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya."
"Mama suka jemput terlambat ya?" tanya Abizar pada putranya.
__ADS_1
"Iya, Pah. Soalnya adik Aisyah rewel terus, tante Aqila juga tidak ada jadi Mama sendiri. Kasihan ya, mama," ucap Aziel mengingat kesibukan mamanya.
"Ya udah, mulai sekarang Papa yang jemput ya?"
"Saat semua pekerjaannya sudah selesai, Abizar kemudian membawa Aziel ke kantor mamanya. Begitu masuk di ruang kerja Khanza Abizar bisa melihat Khanza sedang tertidur di sofa sambil menidurkan Aisyah di dadanya.
Mereka berdua sedang tertidur dengan begitu pulas sementara Bibi membereskan mainan Aisyah berserakan di mana-mana.
"Ziel Jangan ribut ya, Nak. Adiknya baru saja tidur," ucap bibi saat Aziel kembali menghamburkan mainan yang baru saja Bibi kumpulkan.
Aziel mengangguk dan mulai memainkan permainan tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan suara.
Abizar mendekati mereka melepas jasnya dan menyelimuti keduanya.
"Aziel mau ikut Papa atau mau main di sini sama Bibi?"
"Ziel mau jagain Mama saja, Pah," jawab Aziel.
"Ya udah Bi, saya titip anak-anak ya. Saya masih ada pekerjaan." Abizar kemudian keluar dari ruangan itu.
Abizar harus pergi menemui kliennya di sebuah restoran. Rapatnya kali ini tak bisa ditunda karena klien tersebut berasal dari luar negeri dan mereka harus kembali hari ini juga membuat Abizar harus meninggalkan mereka walaupun hatinya berat.
Sepanjang rapat Abizar terus memikirkan Khanza dan Aisyah ia bisa memegang badan Aisyah yang terasa hangat, sepertinya sedang sakit.
Rapat selesai dan rapat berikutnya akan dilaksanakan dua minggu lagi dan giliran pihak perusahaan Abizar yang menyambangi perusahaan mereka di luar negeri.
Kesepakatan pun mereka capai, begitu selesai Abizar langsung kembali ke perusahaan Khanza.
Khanza tahu itu adalah milik Abizar, dia masih sangat hafal dengan aroma mantan suaminya.
"Bi, kak Abi mana?" tanyanya.
"Pak Abi masih ada pekerjaan lain, Bu. Jadi tadi sehabis mengantar Aziel dia langsung pergi."
"Oh … mungkin dia ada rapat penting," ucap Khanza dengan hati-hati ia memindahkan Aisyah keranjang bayi yang ada di sudut ruangan itu.
Begitu berhasil memindahkan Aisyah Khanza kembali menyelesaikan tugasnya, ia harus secepatnya menyelesaikan semuanya mengingat tanggal pernikahannya sudah tak lama lagi.
Satu pesan masuk di ponselnya, itu adalah pesan dari Damar yang meminta waktu Khanza untuk melakukan fitting baju pengantin.
Khanza hanya membalas pesan Danar jika untuk minggu ini dia masih sangat sibuk, mungkin minggu depan baru akan ada kesempatan dan bersama lakukan fitting baju pengantin bersama.
Abizar mengetuk pintu dan masuk, begitu membuka pintu ia melihat Khanza sedang sibuk di meja kerjanya Aziel yang sedang bermain dengan Bibi sementara Aisyah yang masih tertidur di ranjangnya.
Abizar pun menghampiri putrinya itu mengecup keningnya yang terasa hangat.
"Apa kau sudah membawanya ke rumah sakit?" tanya Abizar melihat ke arah Khanza.
__ADS_1
"Belum, Kak. Panasnya baru saja, mungkin saat dia bangun nanti aku akan membawanya."
Abisar hanya mengangguk dan kembali mengusap pipi putrinya yang terlihat begitu pulas tertidur walau dengan badan yang terasa sangat hangat.
Abizar yang tadi bisa merasakan hangatnya tubuh Aisyah saat menyelimutinya, berinisiatif untuk membeli alat kompres saat menuju ke kantor Khazsa. Abizar mengusap lembut kening Aisyah dan menempelkannya di kening putrinya.
"Cepat sembuh ya, Princes Papa," ucap Abizar mengelus tangan putrinya yang memegang jari telunjuknya.
"Apakah tak ada yang bisa diminta untuk mengerjakan semua pekerjaan mu saat ini?"
"Ga Ada, kak. Aqila sedang cuti selama 1 bulan jadi mau tak mau Aku harus mengerjakan semuanya," jawab jawaban Khanza tanpa menoleh ke arah Abizar dan masih terus Fokus ke layar laptopnya.
Jika saat ini Khanza masih menjadi istrinya ia pasti akan melarang Khanza untuk bekerja dan fokus mengurus kedua anaknya, tapi lagi-lagi ia sudah tidak punya hak untuk mengatakan itu semua pada Khanza, Khanza bebas memilih jalan hidupnya sendiri.
Sepulang kantor mereka langsung membawa Aisyah ke rumah sakit, Dokter memeriksa dan memberinya resep obat dan mengatakan jika Aisyah terkena flu biasa.
Abizar mengantar mereka pulang ke rumah.
"Kamu pasti sangat sibuk mengurus Aisyah. Biar Aziel tinggal bersama aku sampai Aisyah benar-benar sembuh."
" Iya kak, Aku juga merasa sangat sibuk mengurus anak-anak, pekerjaan dan juga persiapan pesta pernikahanku," ucap Khanza memijat kepalanya yang terasa sangat berat Sepertinya dia juga sedang terserang flu.
"Kau juga harus menjaga kesehatanmu."
Hari terus berganti hari, selama seminggu Aziel diurus oleh Abizar sedangkan Khanza masih sibuk mengurus perusahaan dan juga mengurus Aisyah yang sedang sakit. Beruntung ada Damar yang selalu membantu memeriksa Aisyah sampai gadis kecil itu kembali aktif bermain.
Aqila yang merasa kasihan dengan Khanza akhirnya mengurangi waktu cutinya. 2 minggu cuti Aqila sudah mulai aktif kembali di kantor.
Semua urusan perusahaan Khanza juga sudah selesai.
Tiba saatnya fitting baju pengantin, Damar, Khanza, Aziel dan Aisyah menyambangi butik langganan mereka, selain membuat baju pengantin untuk mereka berdua Ia juga membuat sepasang untuk anak-anaknya.
Fitting baju sudah selesai sekarang tinggal mengambil beberapa foto, mungkin bisa disebut foto prewedding, tapi menyertakan kedua anak-anak Khanza sehingga lebih mirip seperti foto keluarga.
Aqila memposting foto mereka di sosmednya.
Khanza terlihat sangat cantik dengan gaunnya yang senada dengan gaun yang dikenakan oleh Aisyah dan juga Aziel yang mengenakan setelan jas yang mirip dengan yang dipakai Damar.
Mereka semua tersenyum ke arah kamera terlihat seperti foto keluarga.
Aqila mempostingnya dengan menandai Khanza.
Abizar hanya melihatnya sekilas kemudian kembali menutup aplikasi sosial medianya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha 🥰🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖