
Makan malam pun tiba, Daniel ikut makan malam bersama dengan mereka begitu juga dengan Aqila.
Mereka berdua disambut dengan sangat ramah oleh kakek dan nenek Khanza.
Saat makan malam Aqila terus melayani Daniel dengan baik, layaknya seorang istri yang melayani suami. Khanza hanya melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
"Kalian ini suami istri, ya?" tanya kakek yang membuat Daniel yang sedang makan tersedak dan terbatuk-batuk.
Aqila refleks langsung memberikan air minum dan mengusap punggung Daniel, memberikan pukul pelan disana.
Khanza menahan tawa melihat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
"Amin, Kek! Doain aja, kami cepat menjadi pasangan seperti yang kakek ucapkan tadi," ucap Aqila menjawab cepat pertanyaan kakek di saat Daniel masih berusaha meredakan batuknya.
Farah menyembunyikan ketawanya melihat ekspresi Daniel saat Aqila menjawab pertanyaan kakek.
"Kakek kalau aku bisa memilih doa, aku ingin kau mendoakanku agar bisa bersatu dengan cucumu," batin Daniel melihat kearah Khanza kemudian melihat kearah Aqila yang memasang senyum manisnya.
"Kakek doakan kalian berdua berjodoh, kalau memang kalian sudah saling suka saling menerima, kenapa kalian tak meresmikannya dengan menikah segera mungkin, tak baik menjalin hubungan tanpa ikatan yang sah," ucap kakek yang mengira hubungan mereka berdua adalah sepasang kekasih.
"Iya, Kek. Semoga saja ya kami cepat menyusul Khanza punya anak yang lucu seperti Aziel," ucap Aqila bercanda.
"Nikah dulu dong, baru punya bayi, tapi nggak mungkin kalian akan memiliki anak seperti Aziel, Aziel anak aku dan kak Abi," ucap Khanza tak terima.
"Iya, tahu," sahut Aqila memasukkan makanan ke mulutnya dan mengunyahnya dengan cepat menatap Khanza tak terima, ia telah membuyarkan khayalannya dengan Daniel.
"Sudah Ayo kita makan," ucap nenek tertawa melihat kedua sahabat itu yang sedari tadi terus bercanda.
Daniel bisa merasakan kehangatan di keluarga kakek, baru sehari ia berada di sini, ia sudah sangat nyaman, walau ia merasa tak enak di saat merasa jika Farah terus saja membatasi ruang geraknya,
Dia bahkan kesulitan untuk menyapa Khanza.
Setelah makan malam mereka semua berbincang-bincang di teras rumah, menikmati udara malam dan bunyi jangkrik yang bersahut-sahutan. Tak lama kemudian mobil yang pernah dibeli Abizar untuk Kakek dan keluarga besar Khanza memasuki halaman.
Semua mata melihat ke arah mobil tersebut dan keluarga Pak Hendra, semua tahu jika mobil tersebut adalah mobil kakek mereka berpikir yang datang hanyalah Hendra. Namun, tak lama kemudian Abizar juga keluar dari mobil membuatkan Khanza terkejut karena Daniel saat ini duduk di sampingnya walau berbeda tempat duduk dan ada Aqila di antara mereka.
Begitu turun Khanza bisa melihat jika Abizar langsung menatap ke arahnya dengan tatapan memperingatkan.
Khanza melihat kepada Farah seolah bertanya itu beneran kak Abi yang datang.
Farah langsung berdiri dan menyambut Abizar, tak lupa ia menarik Khanza ikut bersamanya.
__ADS_1
Aku sudah menelepon mas Abi Kalau Pak Daniel ada di sini, makanya dia langsung kembali," bisik Farah.
Khanza menelan ludahnya dengan susah.
"Kok, Mbak nggak bilang sih kalau mas Abi mau datang?"
"Maaf Mbak lupa," ucap Farah tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah madunya itu, membuat ia mendapat pukulan di lengannya dari Khanza, mereka berjalan beriringan menghampiri Abizar yang masih mengeluarkan barang-barangnya.
Jika ada yang melihat mereka berdua bersama mungkin tak ada yang mengira jika mereka memiliki suami yang sama. Mereka pasti mengira jika mereka adalah kakak dan adik.
Mereka berdua langsung menghampiri Abizar.
"Apa Daniel nggak ada kerjaan sehingga datang ke sini?" tanya langsung saat mereka berdua menghampiri.
"Udahlah Mas, jangan bahas dia dulu. Mas pasti capek, masuk dulu." ucap Farah.
Abizar menetap Khanza dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bukan aku yang manggil Aqila, dia datang sendiri," ucap Khanza seolah menjawab arti dari tatapan Abizar.
"Aziel mana?" tanyanya mengalihkan pembahasan mereka.
"Udah tidur, Kak. Tadi dia terus main dan kelelahan."
Mereka berdua saling tatap, Farah dan Khanza tak ada yang menjawab karena siang tadi Aziel terus saja bermain dengan Daniel bahkan Daniel membawa Aziel berkeliling-keliling dengan motor butut kakek.
"Jangan biarkan Aziel dekat dengan Daniel," ucap Abizar memperingati mereka berdua yang dijawab anggukan oleh kedua.
Hendra yang mendengar percakapan dan tingkat mereka hanya menggeleng tak mengerti bagaimana bisa membuat kedua istrinya itu terlihat sangat akur.
"Sepertinya aku harus banyak belajar dengan Abizar," batin Hendra kemudian tertawa.
"Paman Kenapa tertawa?" tanya Khanza mendengar tawa Pak Hendra, pamannya yang ada di dekat mereka.
"Aku mau menjadi murid suamimu," ucapnya masih tertawa.
Abizar ikut tertawa mendengar jawaban dari Paman istrinya itu, dia mengerti apa yang dipikirkan oleh pak Hendra.
Khanza memiringkan kepalanya menatap Abizar yang masih tertawa.
"Apa, Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Abizar menyentil jidat Khanza.
__ADS_1
"Awww," pekik Khanza mengusap keningnya.
"Kakak, suka sekali sih menyentil jidat ku, sakit tau," protes Khanza memukul tangan Abizar dan mengerucutkan bibirnya.
Abizar mengacak-acak rambut Khanza, istrinya itu terlihat semakin menggemaskan.
"Ayo kita masuk aku sudah sangat merindukan Aziel," ucapnya.
Mereka bertiga berjalan menghampiri kakek dan nenek yang ada di teras.
Abizar langsung mencium punggung tangan mamanya yang juga ada di sana kemudian nenek dengan ragu ia berjalan menghampiri kakek dan memberi salam. Abizar masih sedikit canggung dengan kakek mengingat apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
Sampai sekarang Abizar belum mendengar langsung kata maaf dari kakek walau ia sudah sering meminta maaf.
Abizar juga menyapa Daniel walau dia tak mau, ia harus melakukannya melihat ada kakek dan nenek di sekitar mereka.
"Aqila kamu tak bekerja?" tanya Abizar pada Aqila.
"Aku ambil cuti tiga hari, pak!" jawabnya.
"Apa boleh aku memindahkan Aqila ke perusahaanku ?" ucap Daniel yang langsung mendapat tatapan tajam dari Abizar.
"Ada apa, aku hanya meminta satu karyawan mu, aku tidak meminta istrimu," ucap Daniel dengan nada bercanda. Namun, dengan tatapan serius saat mengucapkannya, membuat Pak Hendra langsung tertawa menganggap apa yang Daniel ucapkan adalah sebuah lelucon.
Daniel tersenyum tipis melihat raut kemarahan di wajah Abizar. Namun, ia yakin Abizar tak akan macam-macam padanya selagi ia berada di rumah kakek dari Khanza.
Daniel tau jika Abizar masih belum dimaafkan sepenuhnya oleh keluarga besar Khanza, dia sudah mencari informasi sedalam mungkin informasi tentang mereka.
"Mas, sebaiknya Mas mandi dulu dan istirahat," ucap Farah mencoba mengalihkan situasi.
"Aku siapkan airnya," ucap Khanza berjalan masuk lebih dulu ia mengerti situasi yang terjadi.
"Pak Daniel berani banget sih sama kak Abi. Sengaja banget buat kak Abi marah," gerutu Khanza berjalan masuk ke kamarnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
MAKASIH KAAAAAAKAAAK.
Up besok lagi ya,
Semoga kalian suka❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖