Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Aku Akan Menemukan Mu.


__ADS_3

Mata Abizar tertuju pada satu benda di atas nakas, terdapat sebuah cincin dan Ia sangat mengenal cincin itu. Itu adalah milik Khanza, wanita yang telah dijadikannya istri dalam sebuah ikatan yang sakral. 


Abizar berjalan mendekat dan mengambil cincin tersebut tangan yang bergetar. Ia menggenggam cincin itu dengan tangan bergetarnya perlahan ia mengambil secarik kertas yang ditinggalkan oleh Khanza.


Abizar duduk disisi tempat tidur, dengan ragu ingin membaca apa yang ditulis oleh istrinya itu, hingga membuat ia harus melepas cincin pernikahan mereka.


Abizar tertunduk memegang secarik kertas itu menyiapkan dirinya untuk membaca apa yang ditulis di sana.


Abidzar menghembuskan nafasnya kasar ia memiliki firasat buruk akan tulisan apa yang Khanza tuangkan di secarik kertas itu, dengan perlahan kemudian Abizar memberanikan diri membacanya.


Abizar mengusap wajahnya kasar sesaat setelah membaca apa yang Khanza tulis. Firasatnya benar, ia telah kehilangan istrinya.


Abizar kembali menunduk setelah membaca apa yang ditulis oleh istri keduanya itu, rasa sesak dan penyesalan menyeruak di hatinya. Ia menggenggam cincin Khanza dan satu tangannya memegang secarik kertas tersebut, masih terus menunduk.


Farah berjalan menghampiri Abizar dan mengambil apa yang dipegangnya


"Mas," lirik Farah memanggil Abizar setelah membacanya.


Abizar mendongakkan kepalanya menatap Farah dengan mata yang memerah.


"Apa ini mas?" tanya Farah.


Abizar menggeleng dan kembali menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Jangan bilang Khanza pergi dari kita, Mas?" ucap Farah dengan suara bergetar.


Abizar menutup telinganya, tak ingin mendengar apa yang baru saja Farah katakan.


Farah kemudian berjalan keluar meninggalkan Abizar dengan rasa frustasinya.


"Bibi … bibi …," panggil Farah berjalan ke luar kamar memanggil asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu.


Bibi yang ada di dapur merasa tegang saat Farah menghampirinya.


"Apa ini, kemana Khanza membawa Aziel?" tanya Farah memperlihatkan secarik kertas di tangannya dan Bibi tahu bahkan Bibi melihat sendiri Khanza yang nulis di kertas itu.


Bibi hanya diam.


"Bibi, jawab. Kemana Khanza?" 


Bibi hanya diam dan semakin menunduk.


"Bi, Farah mohon. Katakan dimana Khanza?" tanya Farah meminta Bibi untuk menatapnya.


"Maaf, Bu. Non Khanza sudah pergi," Menjawab sambil terisak. " Maafkan Bibi yang tidak memberitahu kalian, Bibi tidak bisa berbuat apa-apa. Bibi sudah berjanji kepada non Khanza tidak akan memberitahu kalian sampai kalian sendiri yang datang," jawab Bibi.


"Bi, kemana mereka pergi?" Mohon  Farah.


"Bibi nggak tahu, Bibi benar-benar nggak tahu, Bu!" ucap Bibi yang sudah meneteskan air mata, entah karena takut atau kasihan dengan kondisi rumah tangga majikan.


Farah dan Bibi tersentak saat mendengar keributan yang berasal dari kamar Abizar.


Ya, Abizar membanting semua barang-barang yang ada disana, sehingga membuat kegaduhan.


"Mas, kamu mau pergi kemana?" teriak Farah saat melihat Abizar berjalan cepat keluar rumah.

__ADS_1


"Aku akan mencari Khanza, aku tak akan membiarkannya pergi dari kita. Akan kupastikan akan menemukannya," ucap Abizar masuk kedalam mobilnya dan menancap gas meninggalkan kediaman Khanza.


Dengan tangan bergetar Farah mencoba menelpon Aqila, Farah yakin Khanza pasti menemui Aqila.


"Pak Tarno keluarkan mobil," teriak Farah pada Pak Tarno sambil terus menunggu panggilannya di jawab Aqila.


Pak Tarno yang sejak tadi mengintip mereka langsung dengan sigap mengambil kunci mobil dan mulai mengeluarkan mobil dari garasi.


"Cepat, kita ke rumah Aqila," ucap Farah.


"Pak Tarno langsung menjalankan mobilnya sesuai yang Farah katakan. Saat sampai disana, Farah sudah melihat mobil Abizar, ternyata suaminya juga itu memiliki pikiran yang sama.


"Bagaimana, Mas? Di mana Khanza?" tanya Farah menghampiri Abizar, sepertinya suaminya itu sudah mendobrak pintu kos-kosan Aqila.


"Khanza tidak ada di dalam. Telepon Aqila, tanyakan dimana dia?" 


"Tadi aku sudah menelponnya berkali-kali tapi Aqila tak menjawabnya."


Abizar langsung mengambil ponselnya dan menelpon Fahri.


"Fahri, coba kau lihat apakah Aqila ada di kantor?" tanya Abizar.


"Ya, sebentar." Fatih dengan cepat menuju ke ruangan Aqila.


Fatih sedikit berlari menuju ke ruangan Aqila.


"Iya, Aqila ada di sini, dia sedang bekerja. Sepertinya dia sedang ada meeting," jawab Fahri.


Tanpa menjawab lagi bisa langsung mematikan ponselnya dan kembali melajukan mobilnya menuju kantor


Pak Tarno hanya mengangguk dan menjalankan mobilnya.


Abizar Melajukan mobilnya menuju ke kantor dengan tujuannya adalah untuk menemui Aqila, Abizar tahu istrinya itu sangat dekat dengan Aqila sahabatnya.


"Aqila," panggil Abizar begitu masuk ke ruangan rapat dimana Aqila ada disana, mereka sedang mengadakan rapat.


Semua berdiri dan memberi hormat.


"Keluar," ucap Abizar menyuruh mereka semua keluar, semua keluar kecuali Aqila.


Mereka bertanya-tanya ada apa, mengapa Bosnya itu begitu marah pada Aqila. Apakah Aqila melakukan suatu kesalahan.


Bukan hanya para karyawan Fatih juga mengira jika Aqila melakukan kesalahan yang membuat Abizar marah.


"Apa yang harus aku katakan," batin Aqila bisa melihat kemarahan di wajah Bosnya.


"Aqila, katakan dimana Khanza?"


" Maksud bapak, apa?" tanya Aqila.


"Kamu jangan berpura-pura, Khanza pasti menemuimu 'kan, cepat  katakan dimana dia?" tanya Abizar dengan tatapan yang menyala membuat Aqila ketakutan dan tak berani menatap matanya.


"Aaaaaaku benar-benar tidak tahu pak," jawabnya lagi.


Abizar menggebrak meja yang ada di hadapan mereka, membuat Aqila tersentak. Aqila hanya bisa memegang dadanya dan terus menunduk.

__ADS_1


"Aqila, Jawab dengan jujur. Jangan buat aku marah?" tanya Abizar yang kini meninggikan suaranya.


"Aqila hanya bisa menggeleng dan menunduk.


"Walau bapak memarahiku bahkan memecat ku, aku tak akan memberitahu dimana Khanza," batin Aqila meremas ujung kemejanya karena ketakutan. 


"Aqila aku tanya sekali lagi dimana Khanza?" tanya Abizar penuh penekanan dan menaikkan nada suaranya.


"Aku benar-benar tak tahu, Pak." jawab Aqila dengan suara bergetar nyaris menangis.


Abizar langsung menepis laptop yang ada di depannya, begitu juga dengan beberapa berkas-berkas Rapat yang masih ada di atas meja. Membuat berkas dan laptop itu berserakan di lantai.


Aqila yang sejak tadi menahan tangisnya sudah mulai terisak, ia benar-benar merasa ketakutan.


Ponsel Aqila mendapat panggilan masuk, Aqila melihat panggilan itu dari khanza. Beruntung Aqila tak mengaktifkan nada dering ponselnya karena sedang rapat.


"Khanza berhenti memanggilku," batin Aqila menjerit saat Khanza terus menerus menelponnya. Ponsel Aqila hanya  berkedip-kedip menandakan ada panggilan.


Abizar menelpon seseorang, Sepertinya dia meminta orang itu untuk membantu mencari Khanza. Abizar menelpon lebih dari satu orang.


"Berapapun akan aku bayar jika kalian menemukannya," ucap Abizar mengakhiri panggilannya.


Di apartemen Khanza.


"Kenapa Aqila tak mengangkat panggilan Ku," gumam Khanza kembali memanggil Aqila.


Khanza ingin meminta bantuan Aqila untuk menjemput kakek dan neneknya di Bandara. Khanza sudah memberitahu dan menceritakan segalanya, apa yang dialaminya. Kakek dan neneknya yang merasa kasihan pada cucunya, memutuskan untuk menemaninya.


"Apa dia sedang rapat, ya!" batin Khanza kemudian memutuskan untuk menghentikan panggilannya.


"Aku akan mengirim pesan saja," ucap Khanza mulai mengetik.


'Nenek dan Kakek akan datang tolong kau jemput ke bandara dan mengantarnya ke tempatku' isi pesan.


Ting ….


Satu pesan masuk di ponsel Aqila. Aqila hanya mematikan nada panggilan, tapi tidak dengan nada pesannya.


"Berikan ponselmu," ucap Abizar, meminta ponsel Aqila.


Aqila langsung mengambil ponselnya dan menyembunyikannya. Membuat Abizar curiga.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author M Anha.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Mampir ke karya temanku kak.


__ADS_1


__ADS_2