Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2 : bab 14


__ADS_3

Mentari langsung diserbu oleh teman-teman kampusnya saat ia menawarkan sampel kue gratis. Walau target pasarnya adalah orang-orang yang berduit tebal. Namun, tetap saja Mentari memberikannya kepada teman-temannya yang mau mencicipi kuenya, jika biasanya satu kotak seharga 250.000 itu terdapat 10 potong kini ia jadi kan 10 potong itu menjadi 30 potong kecil-kecil yang cukup untuk satu kali gigit karena memang tujuannya hanya ingin mereka mencicipi rasanya.


"Kue baru nih? Bukan kue yang seperti biasanya ya?" tanya salah satu dari mereka yang merupakan langganan kue Mentari, katanya ibunya sangat suka kue buatan Mentari sehingga hampir tiap minggu ia memesan untuk ibunya.


"Iya, tapi jangan salah paham ya. Kue ini sedikit berbeda. Harganya nggak seperti kue yang biasanya sih, biasanya harganya cuman 50.000, ini 250.000 bahkan ada yang sampai 300.000 sesuai dengan topping."


"Wah, sepertinya rasanya pasti lebih enak dari yang biasa," ucapnya saat mendengar harganya. Teman tersebut kemudian mencicipi kue mahal itu yang memang untuk dibagi-bagikan, ada tusuk gigi yang menancap di setiap sampel tersebut, sehingga memudahkan bagi yang ingin mencicipinya.


"Bagaimana?" tanya Mentari begitu melihat temannya itu mulai mengunyah kuenya.


"Enak, sangat enak, tapi harganya cukup mahal ya? Ya sudah nggak papa aku order satu untuk ibuku."


"Sip, oke pesanannya aku catat. Ini untuk besok ya?" tanya Mentari.


"Bukan, ini untuk lusa. Lusa ibu ulang tahun kuenya akan ku jadikan kue ulang tahun untuk ibuku, bisa request untuk tulis ucapan selamat nggak?"


"Tentu boleh, nanti akan ku buat layaknya kue ulang tahun," jawab Mentari membuat temannya itu pun mengajukan jempol dan berlalu meninggalkan Mentari yang masih mempromosikan kue tersebut.


Mendengar pujian dari pelanggan pertama Mentari itu, beberapa dari teman-temannya pun mulai mendekat dan mulai mencoba, beberapa dari mereka yang mendengar harganya juga ikut mencoba karena pemasaran.


Biasanya kue dengan harga selangit seperti itu rasanya enak dan benar saja beberapa dari mereka memuji kue tersebut. Namun, beberapa dari mereka tak bisa membeli. Bukannya memesan kue yang baru mereka coba mereka hanya memesan kue yang harga 50.000 yang biasa Mentari juga bawa ke kampus,


Mentari tak keberatan akan hal itu, karena ia tahu bagaimana rasanya jika kita ingin menginginkan sesuatu. Namun, tak bisa membelinya karena harganya uang mahal.

__ADS_1


Mentari tak menyalahkan teman-temannya yang hanya memesan kue yang harganya lebih murah.


"Rasanya enak, sangat cocok untukku. Ya sudah aku pesan dua ya, aku ingin mengirimkannya pada budeku," ucap salah satu teman Mentari yang juga memesan dua box langsung.


"Dua ya?" ucap Mentari berbinar membuat temannya itu pun mengangguk.


"Untuk besok atau di hari lain?" tanya Mentari tak ingin salah karena harga kue itu sangat mahal jika sampai ia salah, ia akan yang menanggung rugi yang banyak, contohnya dengan teman yang satunya tadi. Hampir saja ia membawa kue di hari yang salah.


"Iya, besok. Seandainya kue nya sudah ready sekarang pasti aku langsung membelinya," ucap temannya itu lagi.


"Sip lah." Mentari langsung mencatatnya, yang ia ketahui memang temannya itu berasal dari keluarga yang kaya, ke kampus saja menggunakan mobil mercy, pasti harga 500.000 bukanlah harga yang mahal untuknya.


Satu persatu sampel kue Mentari pun habis. Dari 30 teman yang mencobanya hanya ada 7 yang memesan. Namun, beberapa dari mereka memesan lebih dari satu sehingga ia mendapatkan 10 box pesanan.


Ternyata hinaan dari Lucia ada manfaatnya juga, ia jadi termotivasi untuk melawan rasa takutnya menjual kue yang lebih mahal dari sebelumnya, walau modalnya juga lebih mahal, tetapi untungnya jauh lebih banyak daripada kue seharga 50.000 yang biasa dibuatnya.


Kue harga 50 memiliki modal 30.000 sehingga 1 box, ia hanya mendapatkan 20.000. Sehari ia mampu menjual 20 box sehingga mendapat 200.000 per hari untuk keuntungan bersihnya. Namun, dengan kue yang baru saja dipromosikannya itu, ia menjual dengan harga 250.000 dengan modal sekitaran 100 sampai 150. Anggaplah ia menghitung modalnya 150, mengambil jumlah terbanyak saja ia masih memiliki untung 100.000 per kotak, ia harus membuat 10 kotak keesokan harinya berarti ia mendapat keuntungan 1 juta.


Satu juta perhari banding 200.000 per hari memang bandingannya sangat jauh. Namun, Mentari tak serta-merta akan menghentikan pembuatan kue yang harganya cuma 50.000. Karena ia percaya setiap dagangan pasti ada konsumen masing-masing, belum tentu semua mampu membeli kue yang sekitaran 250.000 itu dan belum tentu juga orang yang suka kue yang harga 250.000 mau membeli harga 50.000, walaupun menurut Mentari rasanya sama-sama enak. Namun, tentu saja memiliki perbedaan tersendiri.


"Alhamdulillah, semoga saja ini merupakan awal yang baik, laris manis," gumam Mentari, ia semakin berani untuk mencoba menaikkan tarifnya. Namun, untuk sementara ia akan tetap fokus pada 250.000 dulu, mungkin kedepannya akan mencoba lebih mahal lagi walau dengan modal yang lebih tinggi.


Memang ia akan mendapat keuntungan1 juta per hari. Namun, ia juga harus memikirkan bagaimana jika ada yang meng-cancel kuenya maka dia akan rugi sebesar 250 per kotaknya, semua itu harus diperhitungkan secara matang.

__ADS_1


Dengan senyum di wajahnya Mentari pun mengikuti mata kuliahnya hari itu. Setelah urusan Kampusnya selesai, seperti biasa Mentari langsung pulang dan mengambil pesanan yang harus diantarnya, ia harus mulai berkeliling walau cukup jauh. Mentari tak masalah demi menggapai cita-citanya untuk membuat toko kue dan juga melunasi biaya kuliahnya yang sudah menunggak untuk mengikuti semester akhir tersebut yang menandakan jika dia akan bisa wisuda, jika ia berhasil mengikutinya dan lulus.


Di saat ia telah berkendara tiba-tiba ponselnya berdering dan secara kebetulan dia melewati lampu lalu lintas yang sudah berubah menjadi merah, ia pun menghentikan motornya dan mengangkat panggilan tersebut, panggilan dari Azriel.


"Halo, Azriel. Ada apa?" tanya Mentari yang sudah menempelkan benda pipih kesayangannya itu di telinganya, walaupun benda itu sudah jadul. Namun, ia tak berniat untuk menggantinya, baginya selama masih bisa dipakai tak masalah dia hanya akan membeli barang-barang yang memang benar-benar dibutuhkannya saat ini.


"Sore nanti aku pulang, kamu nggak ingin menjengukku sebelum aku pulang?"


"Aku sedang di jalan mengantar paket pesanan, ini masih ada lima lagi. Gini aja, jika aku selesai mengantarnya aku akan menjengukmu, tapi jika tidak maaf ya aku titip doa saja semoga kamu cepat sembuh dan bisa kembali ke kampus. Kamu pasti sudah banyak ketinggalan nanti akan kubantu," ucap Mentari tertawa kecil kalau sebenarnya ia sangat tahu Azriel lebih pintar darinya. Azriel pasti akan dengan mudah mengejar ketinggalannya.


"Ya sudah, terima kasih ya sudah mau membantu dan terima kasih atas doanya. Oh ya kuenya sangat enak aku sudah mencicipinya bersama keluargaku dan mereka juga suka."


"Alhamdulillah jika semua suka."


"Aku pesan dua lagi ya, untuk besok bawa ke rumah. Bisa?"


"Tentu saja, tapi aku tak tahu alamat rumahmu, sekalian kirimkan alamatnya akan ku antarkan besok saat pulang kuliah."


"Nanti aku kirim, selamat bekerja ya," ucap Azriel mematikan panggilannya, ia bisa mendengar jika saat ini Mentari ada di jalan, ia tak mau sampai terjadi sesuatu pada Mentari hanya karena menerima panggilannya.


Begitu Azriel mematikan panggilannya lampu lalu lintas sudah berubah membuat ia pun dengan cepat menyimpan ponselnya dan menarik gas motornya, ia harus mengantar 5 box kotak lainnya.


Tambah dua pesanan lagi totalnya menjadi 12 box kue resep baru, walaupun bertambah pekerjaan dan sudah pasti akan lebih merepotkannya. Namun, ada kebahagiaan di hati Mentari membayangkan sebentar lagi impiannya akan tercapai.

__ADS_1


"Aku pasti bisa," ucap Mentari terus melajukan motornya menuju ke alamat yang telah tertulis dalam pesanan tersebut.


__ADS_2