
Farah berjalan cepat menghampiri Abizar yang akan membuka pintu untuk tamu mereka.
"Mas, itu tamunya?" tanya Farah setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Abizar.
"Hmmm … sepertinya itu, Daniel."
"Tumben, Mas mengajak rekan bisnis ke rumah?" tanya Farah lagi. Ini untuk pertama kalinya Abizar membawa rekan bisnisnya ke rumah, selama ini jika tak sempat menyelesaikan pekerjaannya di kantor Abizar akan mengajak mereka ke restoran atau tempat lainnya.
Kehadiran Ziel membuat Abizar tak ingin jauh dari putranya itu, siang hari ia akan ke kantor untuk bekerja, malam hari hanya untuk keluarnya. Pikirnya.
"Iya, tadinya dia ngajak Mas ketemu di luar, tapi Mas malas keluar. Karena dia menawarkan diri untuk datang ke rumah dan meminta untuk pertemuan malam ini juga, ya Mas sekalian mengajak mereka makan malam."
"Oh." Mengangguk mengerti penjelasan Abizar.
Saat membuka pintu ternyata benar orang yang baru datang adalah Daniel bersama dengan Farel asistennya.
"Selamat datang, Pak. Dikediaman kami," sambut Abizar menjabat tangan keduanya.
"Maaf ya, kami jadi merepotkan Anda dan keluarga," ucap Daniel yang merasa tak enak. Ia seperti memaksa ingin bertemu dengan rekan kerjanya ini.
"Tak masalah, ayo silahkan masuk, kita makan malam dulu sebelum membahas masalah pekerjaan." Abizar mempersilahkan kedua tamunya masuk.
Farah menyambut mereka dengan senyum ramahnya dan berjalan beriringan masuk ke ruang makan dan mempersilahkan mereka untuk duduk di meja yang telah mereka siapkan. Berbagai macam menu sudah terhidang di atas meja.
Mereka makan malam sambil berbincang-bincang ringan.
"Oh ya, Pak. Saya turut berdukacita atas meninggalnya adik Anda."
"Terima kasih, Pak. Mungkin itu sudah menjadi takdir dari adikku. Saya hanya punya Kanaya di dunia ini, dia adik saya satu-satunya yang sangat saya sayangi, tapi sepertinya Allah lebih menyayanginya."
"Sabar ya, Pak. Allah pasti akan memberikan kebahagiaan untuk Anda suatu saat nanti," ucap Farah memberikan semangat.
"Amin, insya Allah. Saya akan coba terus bersabar, ini mungkin sekaligus ujian dan teguran dalam hidup saya agar menjadi lebih baik lagi kedepannya."
Mereka sedang asyik mengobrol,
Daniel menoleh saat mendengar suara tertawa dari Aziel yang tak jauh dari tempat mereka.
Suara tawa saat khanza mengajaknya bermain.
Daniel melihat Abizar seolah bertanya siapa anak yang sedang tertawa itu.
"Putraku, namanya Aziel," jawab Abizar yang mengerti arti pandangan dari Daniel.
"Wah … pasti Anda sangat bahagia memiliki Putra yang sangat tampan dan menggemaskan serta istri yang sangat cantik," ujar Daniel melihat Farah, terbesit rasa iri saat melihat bayi menggemaskan itu.
Farah yang di sanjung oleh Daniel hanya tersenyum, ia mempersilahkan mereka menikmati makanan yang telah ia siapkan.
__ADS_1
"Terima kasih, bagaimana dengan Anda sendiri, apa anda sudah menikah?" tanya Abizar, ini untuk pertama kalinya mereka melakukan kerja sama dan belum terlalu saling mengenal.
"Alhamdulillah, Pak. Saya masih jomblo," ucap Daniel tertawa dengan lelucon nya sendiri.
Abizar ikut tertawa, "Saya yakin pasti banyak wanita yang ingin menjadi pendamping Anda, mungkin hanya Anda sendiri yang menutup hati ," jawab Abizar.
"Ya, mungkin seperti itu. Saya sudah terlalu sering dikhianati oleh wanita, saya tidak berminat lagi untuk menjalin hubungan. Jika bisa saya ingin langsung menikah saja, tapi sayang sepertinya jodoh saya masih jauh."
"Sejauh apapun jodohnya pasti suatu saat akan bertemu juga," ucap Abizar mencoba mempersilahkan dan untuk menambah makanannya.
"Masakannya sangat enak, saya sudah sangat lama tak makan makanan rumah," ucap Daniel yang selama ini ia tinggal sendiri dan hanya makan di restoran atau memesan makanan dari luar.
"Ini masakan istri saya, ia memang sangat pandai dalam hal ini," Memuji Farah.
"Saya hanya berusaha menyenangkan hati suami dengan masakan saya," ucap Farah merendah.
"Sepertinya Anda sangat pandai dalam memilih jodoh, mencari pendamping secantik dan sepandai istri Anda, mungkin Anda bisa mencarikan saya jodoh yang seperti istri Anda ini, cantik dan pastinya pandai untuk memasak. Biar saya betah di rumah," ujar Daniel kembali melihat Aziel, mungkin lebih tepatnya melihat orang yang bersama dengan Aziel.
Mereka makan malam bersama sambil terus saling mengakrabkan diri, kemudian setelah makan, Abizar langsung mengarahkan mereka ke ruang kerja. Tak lama kemudian Fahri juga datang dan ikut bergabung dengan mereka.
Farah ikut bergabung dengan Aziel dan khanza, mereka bermain bersama.
"Tadi itu siapa Mbak?" tanya Khanza.
"Rakan bisnis baru mas Abi, katanya mereka tak bisa ketemuan di luar makanya mas Abi memanggil mereka untuk bertemu di sini saja. Eh … maksudku mereka yang minta bertemu," ralatnya.
"Ohh … nggak biasanya," ucap Khanza.
"Mbak sendiri udah nggak kerja lagi?" tanya Khanza yang tahu jika madunya itu adalah wanita karir.
"Untuk saat ini Mbak akan bekerja di rumah saja dulu, Mbak masih ingin bersama dengan Ziel nya ibu," ujar Farah mengambil Aziel ke pangkuannya.
Tak lama kemudian Abizar dan kedua tamunya serta Fahri keluar dari ruang kerja, mereka sudah selesai membahas pekerjaan dan mencapai kesepakatan kerja.
"Kalau begitu kami permisi, senang bekerja sama dengan perusahaan Anda." Mereka saling berjabat tangan satu dengan yang lainnya.
Farah yang melihat tamunya akan pulang berdiri menghampiri mereka sambil menggendong Aziel.
"Kami pulang dulu, Bu! Terima kasih atas jamuan makan malam hari ini," ucap Daniel sopan.
"Iya, Pak. Sama-sama, saya senang bisa menyambut, Anda," jawab Farah seramah mungkin.
"Anaknya sangat lucu sangat dan menggemaskan," ucap Daniel mencubit pipi Aziel.
"Dia memang sangat tampan, sama dengan papanya," sahut Abizar mengacak-acak rambut putranya.
Khanza perlahan juga ikut menghampiri mereka.
__ADS_1
Daniel langsung mengeluarkan tangannya memperkenalkan diri begitu Khanza bergabung dengan mereka.
"Hai, aku Daniel," ucap Daniel mengulurkan tangannya.
Refleks Khanza langsung menyambut uluran tangan Daniel.
"Khanza," jawabnya dengan senyum yang terbit dari bibirnya.
Daniel yang memang pencinta wanita langsung mengecup punggung tangan khanza, "Senang bertemu dan berkenalan dengan Anda nona Khanza, menatap Khanza mengeluarkan tatapan maut nya.
Abizar berdehem.
"Mari, Pak," ucapnya mempersilahkan Daniel untuk segara keluar dan melepas genggaman tangan Daniel yang enggan melepaskan tangan Khanza, istrinya.
Khanza yang menyadari jika Abizar mungkin tak suka dengan apa yang dilakukan Daniel langsung menarik tangan dan sedikit mundur.
"Tentu saja, Pak," ucap Daniel berjalan keluar bersama Farel di temani Abizar dan Fahri.
"Sampai jumpa di pertemuan berikutnya," ucap Abizar kembali menjabat tangan Daniel.
"Pasti, Pak," jawab Daniel.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam mobilnya, Daniel kembali melihat ke dalam. Namun, ia tak bisa melihat Khanza.
Abizar ikut menoleh kebelakang melihat apa yang Daniel lihat. Secara kebetulan Santi lewat.
Mobil mewah Daniel keluar dari pekarangan rumah Abizar.
Di mobil, Daniel terus mengingat wajah Khanza.
"Cantik," Kata yang menggambarkan sosok Khanza di mata Abizar.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Bagaimana jadinya jika seorang Daniel jatuh cinta pada Khanza???🤔🤔
Silahkan berkomentar 😘
Jangan lupa like, vote dan komen nya🙏
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Oh ya kak, jika sempat mampir juga ya ke karya tamatku☺️
__ADS_1
Makasih, ditunggu 🙏