Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
PASRAH.


__ADS_3

Sepanjang malam Abizar hanya duduk di luar, dia menghormati keputusan khanza, keinginan yang tak ingin bertemu dengannya. Ia merasa sangat sakit dan merasa gagal tak bisa menjaga anak dan istrinya disaat seperti ini, disaat dia seharusnya orang pertama yang menjaga mereka.


Abizar hanya bisa memaki dirinya sendiri, menyesali kebodohannya yang telah melakukan kesalahan besar yang membuat mereka menjauh darinya.


Abizar tak pernah melupakan tatapan Cinta Khanza saat pertama kali mereka bertemu, tatapan mata khanza terus terbayang di benaknya hingga semua itu berakhir saat malam ini tatapan itu berubah menjadi tatapan kebencian, yang menggores luka di hatinya.


Apakah rumah tangga mereka akan hancur, hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan dari Abizar itu.


"Khanza sudah kembali tertidur sebaiknya kamu tidur di dalam, disini udaranya sangat dingin," ucap Damar, menghampir Abizar, ia mendengar semua percakapan mereka, tapi ia tak ingin ikut campur terlalu dalam.


"Apakah Khanza pernah bercerita tentang keinginan yang untuk berpisah denganku? Atau itu semua hanya akal-akalan Daniel saja?" tanya Abizar saat Damar duduk di dekatnya.


"Aku tak tau perihal perceraian itu. Aku sudah mengenal Khanza sejak dari kecil. Kami sering bermain bersama, aku sangat tahu bagaimana wataknya. Dia gadis yang sangat lembut, periang dan juga manja. Satu sifat yang Khanza memiliki yang tak semua orang bisa memiliki yaitu sifat memaafkan. Sebesar apapun kesalahan yang pernah kau perbuat mungkin saja ia masih bisa memaafkanmu, tergantung bagaimana caramu meminta maaf padanya," jelas Damar.


"Aku tak menyangka kesalahan yang aku perbuat begitu sangat menyakitinya, aku sama sekali tak berniat untuk menyakiti perasaannya. Aku hanya ingin membuat rumah tangga kami menjadi lebih bahagia dengan kehadiran seorang bayi lagi dan aku yakin semua akan baik-baik saja. Khanza Pasti bisa melewati semuanya. Aku tak menyangka jika caraku salah," ucap Abizar mengusap wajahnya.


"Seperti itulah, terkadang kita memiliki niat yang baik, tapi terkadang orang menanggapinya dengan buruk. Semua tergantung bagaimana cara kita mewujudkan keinginan itu, jika dalam sudut pandang ku, kau memang salah dalam hal ini aku yakin kau memiliki niat yang baik agar Khanza bisa hamil lagi, tapi mungkin caramu yang kurang baik, kurang bijak dalam mengambil tindakan," tambah Daniel.


"Aku tidak tahu apakah Khanza akan memaafkanku atau tidak."


"Apa kau pernah mendengar jika perasaan perempuan itu begitu rapuh, banyak yang mengibaratkan perasaan perempuan itu seperti cermin, jika kita tanpa sengaja memecahkannya ia akan hancur berkeping-keping, walau kita sudah menyusunnya dan mengembalikannya seperti semula, tapi cermin itu sudah tak bisa memantulkan bayangan dengan baik sama seperti saat pertama kali sebelum cermin itu hancur.


Perasaan Khanza juga seperti itu saat ini ia sangat hancur, aku tahu dia masih sangat mencintaimu dia juga masih ragu untuk berpisah denganmu. Namun, perasaannya memaksanya untuk memilih kebalikan dari apa yang diinginkannya."


Mereka terdiam, Abizar larut dalam pikirannya, menyesali perbuatannya mengapa ia bersikap begitu egois dan tak memikirkan perasaan khanza.


"Sekarang kau memiliki 2 orang anak yang masih balita, mereka sangat membutuhkan kehadiranmu. Aku sudah lama menjadi dokter spesialis anak dan aku tahu betul bagaimana perbedaan anak yang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan anak yang tumbuh dari kasih sayang salah satu orang tuanya, anak korban perceraian.

__ADS_1


Dalam perceraian yang paling dirugikan adalah anak-anak, apalagi Aziel sekarang sangat membutuhkan kehadiranmu."


"Aku tak tahu bagaimana lagi agar Khanza bisa memaafkanku, aku sudah berusaha. Sekarang ia bahkan tak ingin menemuiku lagi.


Ditambah lagi yang ada Daniel, Ia pasti terus meracuni khanza agar menjauhiku bahkan menceraikanku."


"Sebenarnya aku juga sependapat dengan Daniel," ucap Damar yang membuat Abizar langsung melihat ke arahnya.


"Khanza terlalu rapuh untuk menerima rasa sakit seperti yang kau berikan, tapi jika aku berada di pihak anak-anaknya, aku tak setuju dengan perceraian kalian."


Mereka terus berbincang-bincang dan tanpa terasa pagi sudah menjelang, Mereka mendengar suara tangis bayi dari kamar Khanza.


Damar langsung dengan sigap masuk ke dalam kamar, begitu juga dengan Abizar. Namun, ia langsung menghentikan langkahnya saat akan masuk ke dalam ruangan itu.


Abizar tak jadi masuk, Ia hanya melihat Damar yang mengurus bayinya dan terlihat Khanza yang juga sudah bangun begitu juga dengan Aziel yang duduk di atas tempat tidur bersama mamanya melihat Damar dengan lihai mengganti popok dan membersihkan bayinya.


Abizar tak tahan melihat semua itu, memilih untuk duduk kembali. Abizar akan terus menunggu sampaikan Khanza mengizinkannya untuk bertemu dengannya.


Beberapa saat kemudian datanglah Aqila Nenek dan juga kakek. Mereka semua masuk ke dalam ruangan Khanza sementara kakek berjalan menghampiri Abizar.


"Kakek, Maaf. Aku sudah menyakiti perasaan Khanza, aku tak bermaksud melakukannya," ucap Abizar.


"Kakek sama sekali tak mengerti apa yang terjadi di antara kalian, tak tahu siapa yang salah dan yang benar, yang kakek tahu kau adalah suami dari cucu kakek dan kau punya hak atas Khanza istrimu. Tapi, Kakek juga berhak untuk meminta Kebahagiaan dari cucu kakek." Kakek menjeda kalimatnya.


"Kakek ingin menagih janji yang pernah kau ucapkan," ucap kakek tanpa melihat Abizar, pandangannya lurus ke depan. Sebenarnya dalam hati kakek juga tak ingin jika mereka berpisah, mengingat sekarang ada dua kehidupan yang mengikat mereka. Namun, kakek juga tak bisa menutup mata dengan air mata cucunya.


Abizar tak bisa berbuat apa-apa selain memijat kepalanya, hanya bisa tertunduk menangkup kedua wajahnya, ia kembali teringat janjinya pada kakek yang menyatakan jika sekali lagi ia menyakiti Khanza, ia akan mengembalikan Khanza kepada kakek.

__ADS_1


Tak ada pembicaraan diantara mereka sampai Abizar melihat jika Farah dan Mamanya juga datang dan mereka langsung masuk ke dalam ruangan khanza.


"Khanza bagaimana keadaan kamu?" tanya Farah menghampiri khanza meletakkan buah yang di bawahnya.


"Aku baik Mbak," jawab khanza.


"Ini untuk cucu kesayangan Nenek," ucap Warda memberikan Aziel mainan.


"Khanza bolehkan aku bertemu dengan Putrimu," ucap Warda yang dijawab anggukan oleh khanza.


Warda langsung berhambur menuju ke bayi mungil yang sedang digendong oleh Aqila. Warda memindahkan bayi mungil itu ke gendongannya, mengecup seluruh wajah cucu perempuannya.


Bayi yang begitu mungil.


Selama ini warda selalu berharap bisa memiliki seorang putri. Namun, ternyata ia dianugerahi seorang Putra dan cucu pertamanya juga seorang Putra dan cucu keduanya keinginannya terkabul, memiliki seorang bayi perempuan yang begitu cantik, bayi yang sangat mirip dengan khanza, perpaduan antara Khanza dan Abizar membuat bayi itu benar-benar begitu sangat menggemaskan.


🌹 Saling Follow yuk, Ig: anha5569🌹


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Makasih sudah mampir 🙏


Salam dariku Author M Anha ❤️


Mampir ke karya teman ku juga ya kak 🙏


__ADS_1


__ADS_2