
"Nenek β¦ Bubu," panggil Aziel melihat nenek dan bubunya berjalan di lorong rumah sakit.
"Cucuku β¦ ," teriak Warda berlari merentangkan tangannya begitu juga dengan Aziel.
Warda memeluk cucunya dengan sangat erat, mencium seluruh wajahnya, air mata bahagia tak bisa ia tahan, tak mempedulikan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya heran. Warda sampai terisak saking bahagianya ia kembali bisa melihat cucunya.
"Kamu kemana saja, Nak! Nenek sangat merindukanmu. Kenapa kamu meninggalkan Nenek," ucap Warda membawa Ziel ke pelukannya sambil terus terisak.
"Aziel lagi jagain adek dalam perutnya Mama," jawab Azriel yang juga memeluk neneknya.
"Di perut mama ada ade bayi?" tanya Warda melepas pelukannya pada Aziel menatap lekat mata cucunya.
Hasil mengangguk dengan antusias
"Kata tante Mama lagi jemput adek jadi, Ziel tidak boleh nakal."
"Ya sudah, kita ke mama ya," ucap Warda menggandeng Aziel berjalan menuju ke tempat dimana Khanza sedang melakukan operasi.
"Papa β¦," teriak Aziel saat melihat Papanya duduk di depan ruang operasi.
Aziel berlari menuju Papanya.
"Papa kok, nggak pernah datang lagi, Ziel masih kangen sama papa, Ade juga?" tanya Aziel.
Selama ini dia selalu ingin bertemu dengan papanya. Namun Khanza dan Aqila terus mencari Alasan dan mengatakan jika Papanya sedang sibuk.
"Maaf ya, Papa lagi Kerja cari uang 'kan untuk beli mainan Ziel dan Adek. Nanti kita main sama Adek ya, sekarang kita tunggu adek ya," ucap Abizar membawa putranya itu ke pangkuannya.
Suasana kembali hening, mereka semua menunggu proses persalinan Khanza selesai. Suasana menjadi sangat canggung. Hanya celotehan Aziel yang mengurangi kecanggungan yang terjadi.
Warda merasa tak enak dengan nenek dengan kejadian perginya Khanza dari rumahnya.
Beberapa jam kemudian
Lampu ruang operasi mati bertanda operasi selesai.
Dokter Nita dan dokter Dewi keluar dari ruang operasi, begitu juga beberapa dokter yang membantu Persalinan Khanza.
"Dokter, bagaimana kondisi Istri saya?" tanya Abizar yang langsung menghampiri dokter Dewi.
Semua menunggu jawaban dari dokter Dewi atas pertanyaan Abizar.
Khanza dan bayinya baik-baik saja, mereka sedang dibersihkan dan akan segera dipindahkan ke ruang perawatan," ucap dokter Dewi yang mengucapkannya dengan senyum di wajahnya.
Mereka semua bernafas lega mendengar jawaban dokter Dewi.
"Selamat ya Aziel, adiknya sudah lahir adiknya perempuan. Sekarang Aziel punya adik perempuan," ucap Dewi mencubit pipi Aziel yang berada di gendongan Abizar.
"Terima kasih Dokter telah menolong persalinan istri saya, dan terima kasih selama ini telah menjaga Khanza dengan baik," ucap Abizar.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya akan mempersiapkan ruangan untuk Khanza dulu," pamit dokter Nita dan dokter Dewi pada mereka semua.
Abizar mengecup kening anaknya yang berada di gendongannyaβ¦
__ADS_1
"Ziel dengar tadi, Ziel sekarang sudah jadi kakak, jadi Ziel jangan nakal dan selalu menyusahkan mama. Ziel harus jaga Ade ya," ucap Abizar yang dijawab anggukan antusias oleh Azial, suasana tegang kini menjadi bahagia.
Daniel melihat kearah abidzar..
"Berbahagialah untuk saat ini," ucap Daniel tersenyum sinis menatap Abizar yang begitu bahagia mendengar kelahiran putrinya.
Semua menyambut kelahiran bayi perempuan Khanza dengan bersukacita.
Khanza sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Khanza meminta untuk tak bertemu dengan siapapun, ia tak ingin bertemu dengan keluarga Abizar begitupun dengan yang lainnya, Ia hanya ingin ditemani oleh neneknya dan Aziel, kondisinya masih sangat lemah ia tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengan yang lainnya, khusus dengan Abizar, suaminya. Dokter Nita sudah mengatakan jika seluruh keluarga Abizar termasuk madunya juga ada menunggunya.
"Apa maksud Dokter kami tak boleh bertemu dengan khanza dan bayinya?" tanya Abizar tak terima.
"Iya Dokter, kami hanya ingin menjenguk mereka." Sahut Warda yang sudah tak sabar melihat cucunya.
"Maaf Bu, ini adalah keinginan pasien kami hanya menjalankannya. Mohon ibu dan bapak bersabar, kondisi Khanza sekarang masih sangat lemah dan ia hanya ingin bertemu dengan nenek dan anaknya, tolong kerjasamanya ya, Pak,"
Semuanya terdiam tak bisa berbuat apa-apa dan hanya melihat Azial dan nenek masuk ke dalam ruangan khanza, ruangan itu kembali dikunci.
Mereka hanya kembali duduk di ruang tunggu.
"Emangnya kenapa kita tak boleh bertemu dengan mereka, kita hanya ingin melihat bayinya, itu kan anak kamu juga," ucap Warda merasa kesal, ya sudah sangat ingin melihat cucunya apalagi Adik Aziel adalah perempuan.
"Mah, bersabarlah mungkin Khanza belum mau menemui kita, Dokter kan juga udah bilang jika Khanza masih sangat lemah sehabis operasi, biarkan dia istirahat dulu," ucap Farah.
"Sebaiknya kalian pulang saja, Ini sudah malam. Datang lah besok pagi, mungkin Khanza akan mau kita temui, mengizinkan kalian untuk bertemu dengannya," ucap Damar.
"Ibu dan Farah pulang saja, aku akan tetap di sini menjaga Khanza," ucap Abizar.
"Khanza tak perlu dijaga oleh mu, justru ia ingin menghindarimu," ucap Daniel membuat Abizar yang sedari tadi menahan emosinya langsung berdiri dan menatap Daniel dengan tatapan tajam.
"Apa kau tak merasa jika Khanza itu tidak ingin bertemu denganmu, dia tak ingin menemuimu lagi, untuk apa kau di sini biar kami yang menjaganya," ucap Daniel.
"Daniel dengar Khanza itu masih Sah istriku jadi kau tak punya hak untuk melarang ku bertemu dengannya." ucap Abizar dengan wajah kesalnya.
"Setelah semua yang terjadi apakah masih pantas kau disebut sebagai seorang suami."
Abizar ingin maju, Namun ditahan oleh Farah dan Mamanya.
"Sudahlah Pak Daniel jangan memperkeruh suasana, sebaiknya Anda juga pulang tolong bawa kakek ke rumah dan Aqila pulanglah bersama kakek biar aku yang menjaga Khanza dan nenek di sini, datang lah pagi-pagi dan bawa keperluan lainnya," ucap Damar.
"Ya udah Kek, kita pulang," ucap Aqila membantu kakek dan mereka pun pulang bersama dengan Daniel.
Kakek hanya diam melihat mereka semua, mendengar cucu dan cicit sudah selamat sudah membuat kakek merasa senang.
"Farah bawa Ibu pulang, Aku akan di sini!"
"Bu, Ayo kita pulang besok pagi kita akan menemui Khanza dan bayinya," bujuk Farah.
"Tidak, aku masih ingin bertemu dengan Khanza. Aku juga ingin melihat cucuku, Kenapa Khanza harus melarang kita bertemu dengannya. Mereka adalah cucuku, aku juga berhak bertemu dengan mereka," ucap Warda berkaca-kaca, ia merasa kecewa dengan sikap Khanza yang seolah memberikan batasan pada mereka.
"Bu, aku mohon pulanglah bersama dengan Farah, jangan membuatku semakin pusing," pinta Abizar.
"Baiklah Ibu akan pulang, dan ibu akan datang lagi saat pagi. Pastikan ibu bisa bertemu dengan mereka," ucap Warda berjalan dengan kesal meninggalkan mereka.
__ADS_1
Tinggallah Damar dan Abizar menunggu di luar.
Setelah menunggu beberapa lama, Dokter keluar.
"Khanza sudah tidur, begitu juga dengan bayinya. Kami permisi dulu," ucap dokter Dewi.
Begitu dokter Dewi pergi Abizar langsung masuk ke ruangan khanza disusul oleh Damar.
Damar melihat nenek yang tertidur sambil bersandar.
"Nenek. Nenek bisa ikut ke ruangan saya dan beristirahat di sana," ucap Damar.
"Aku akan menjaga Khanza di sini, tak apa-apa" jawab nenek.
"Biar aku dan suaminya yang menjaganya, Nenek istirahat saja. Mari saya antar ke ruangan saya," ucap Damar membantu nenek berdiri.
Damar membawa nenek ke ruangannya yang tak jauh dari sana. Damar yakni jika Abizar tak akan berbuat hal yang macam-macam, ia bisa melihat jika Abizar memang mencintai Khanza.
Abizar berjalan mendekat dan melihat Khanza sedang tidur dengan Aziel yang memeluknya serta ada bayi kecil yang tidur disampingnya.
Abizar melihat mereka bertiga, pemandangan yang begitu indah dan sangat dirindukannya. Tanpa terasa air matanya menetes.
"Maaf karena telah membuat kalian menderita," lirih Abizar. hanya itu yang bisa Abizar ucapkan dan terus memandangi mereka bertiga.
Abizar mengangkat Aziel dan menidurkannya di sofa agar Khanza dan bayinya bisa lebih leluasa untuk beristirahat.
Sepanjang malam Abizar hanya duduk di samping ranjang Khanza, melihat putri kecilnya dan Khanza yang tertidur pulas sementara Damar tidur di sofa bersama dengan Aziel.
Rumah sakit menyediakan sofa yang berukuran besar khusus untuk tempat tidur bagi yang menjaga pasien.
Saat tengah malam Khanza kembali merasakan perih di bagian perutnya, Ia pun membuka mata dan mematung saat membuka mata ada Abizar di depannya yang sedang duduk memandangi nya dan juga menggenggam tangan kecil putrinya.
Pandangan mereka bertemu, tak ada yang berbicara, lidah mereka terasa keluh. Ada air mata yang tergenang di pelupuk mata keduanya.
"Kak, aku mohon. keluar dari sini. Aku sangat membencimu. Aku tak mau melihatmu lagi," ucap Khanza dengan air yang sudah menetes.
"Khanza aku mohon, biarkan aku menemani kalian."
Khanza memalingkan wajahnya tak ingin melihat Wajah Abizar.
"Aku mohon, kak. Aku mohon keluar dari sini," ucap Khanza yang sudah terisak.
Walau berat, Abizar akhirnya Keluar dari ruangan Khanza.
Sebelum keluar ia mengecup kening dan tangan kecil putrinya.
πππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π
Jangan lupa beri dukungan nyaππ
Salam dariku Author M Anha β€οΈ
__ADS_1
ππππππππππππππ