Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Keluar Negeri


__ADS_3

Hari terus berjalan, setiap hari Abizar terus menelpon Aziel dan berbicara melalui panggilan video. Aisyah juga sepertinya sudah mengenal suara Papanya, setiap Aziel berbicara dengan papanya Aisyah seolah ingin ikut bergabung dengan mereka membuat Aziel selalu mendekatkan ponselnya pada Aisyah saat melakukan panggilan video dengan papanya.


Aisyah mengenal sosok Papanya, walau mereka jarang bertemu, dia bisa mengetahui jika orang yang berada di balik layar telepon itu adalah Papanya.


Khanza yang melihatnya merasa kasihan kedua anaknya begitu bahagia saat mendapat telepon dari Papa mereka.


Khanza tak bisa berbuat apa-apa, rasa sakit yang diberikan oleh Abizar terus saja terbayang dan masih menyakitinya hingga detik ini.


Khanza yang sudah semakin sibuk kini mulai terbiasa dengan semuanya, terbiasa dengan pekerjaannya. Terbiasa tanpa Cinta Abizar.


Hari ini Khanza mengepak barang-barangnya dan kedua buah hatinya, Ia memiliki pekerjaan penting di luar negeri dan itu akan berlangsung selama 3 hari, Khanza tidak mungkin meninggalkan mereka berdua, dengan begitu Khanza putuskan untuk membawa anak-anak nya.


"Kamu yakin mau membawa anak-anakmu, Bude bisa menjaganya di sini, kamu tinggal memompa asimu untuk Aisyah."


"Nggak apa kok Bude, Khanza bisa menjaga mereka. Lagian 'kan Bibi pengasuh juga ikut dengan khanza, Aku harus bisa terbiasa Bude, bekerja sambil membawa mereka. Sekarang Aisyah juga sudah bisa diajak jalankan," ucap Khanza.


"Apa nanti kamu ga kerepotan disana," ucap Bude.


"Mereka juga harus terbiasa mulai sekarang Bude, mereka harus mulu mengerti jika.mamanya punya pekerjaan."


"Ya sudah, kalau kau memang repot kamu jangan sungkan ya minta tolong sama Bude, kamu itu sudah seperti anak Bude Jangan pernah merasa sungkan."


"Iya Bude, Khanza mengerti Khanza juga sudah menganggap Bude sebagai ibu kandung sendiri. Khanza hanya ingin bersama dengan mereka menghabiskan waktu, melihat perkembangan mereka. Khanza yakin jika tak membawa mereka Khanza juga tak akan bisa konsentrasi dalam bekerja."


"Bagaimana dengan Abizar?"


"Maksud Bude bagaimana?" tanya Khanza pura-pura tak tahu maksud Budenya.


"Apa kamu akan tetap melanjutkan proses perceraian kalian, cobalah kamu pikirkan kembali!"


"Untuk saat ini Khanza terserah Kak Abizar, Bude. Dia mau segera mengurusnya atau tidak, tapi hubungan kami akan tetap seperti ini. Saat ini Khanza ingin fokus pada anak-anak dan pekerjaan. Masalah status Itu tak masalah buatku untuk saat ini. Khanza tau pasti kak Abizar tak akan mengurusnya dan akan mempersulitnya. Yang jelasnya Khanza sudah meminta kak Abi menceraikan Khanza. Cepat atau lambat kami bercerai itu sama sekali tak masalah.Semuanya akan tetap seperti ini."


Bude tak bisa berkata apa-apa, setiap ia bertemu dengan Khanza ia selalu membujuk keponakannya itu untuk balikan pada suaminya, tapi sepertinya hatinya sudah sangat terluka dan tak ada lagi jalan untuk kembali.


Pagi-pagi Khanza dan kedua anaknya sudah berangkat ke bandara, hari ini mereka akan keluar negeri Pak Matteo dan beberapa orang nya sudah menunggu mereka di sana sejak beberapa hari yang lalu, mereka mengurus semuanya sebelum Khanza datang agar pekerjaan Khanza tak terlalu berat mengingat Aziel dan juga Aisyah ikut bersamanya.

__ADS_1


"Kamu jaga baik-baik ya anak-anakmu, sesibuk apapun kau disana Kamu nggak boleh melupakan mereka. Nenek maunya kamu tinggalkan saja mereka di sini biar kami yang merawatnya," ucap nenek merasa khawatir, ini pertama kalinya Khanza membawa mereka berdua keluar negeri, apalagi untuk bekerja, Aziel sudah semakin aktif dan Aisyah yang juga sudah semakin rewel.


"Nggak apa-apa, Nek. Khanza bisa," ucap Khanza memeluk neneknya sebelum mereka naik ke pesawat.


Mereka mengantar kepergian Khanza dengan senyum dan lambaian tangan.


"Rasa sakit mengubah Khanza kita menjadi jauh lebih kuat. Khanza manja kita sudah tak ada lagi, Kakek berharap kelak dia akan menjadi lebih kuat lagi untuk anak-anaknya," ucap kakek melihat pesawat yang mereka tumpangi sudah hilang di balik awan.


"Emangnya Kenapa? apa yang sebenarnya terjadi diantara Khanza dan Abizar, sampai Khanza begitu keras sudah tak mau lagi menjalin hubungan rumah tangganya, walau anak-anak mereka masih sangat membutuhkan Abizar?" tanya Bude yang masih sangat penasaran dengan mereka belum lagi mendengar kata-kata yang baru saja ayahnya ucapkan.


"Ayo kita pulang saja," ajak kakek pada mereka semua.


Selama ini mereka terus aja menyembunyikan apa yang menyebab perpisahan antara Abizar dan Khanza.


Kakek tak pernah menjawab pertanyaan yang satu itu, kakek tidak ingin Abizar buruk dimata mereka, walau bagaimanapun Abizar adalah ayah dari cucunya, kakek ingin hubungan silaturahmi diantara mereka tetap terjaga.


Begitu sampai di luar negeri pak Matteo sudah menjemput mereka di Bandara dan langsung membawanya ke rumah Mr. Alvin.


Rumah yang begitu megah yang selama ini tak ditinggali siapapun. Namun, tetap terawat karena ada puluhan bekerja yang masih tinggal disana.


Baru saja mereka sampai ponselnya langsung berdering dan itu panggilan dari Abizar.


Khanza tahu pas Abizar akan menelpon mereka karena memang biasanya di jam itu ia selalu menelepon ingin berbicara kepada anak-anaknya.


"Kalian bicaranya besok aja ya kak, kami masih capek," ucap Khanza ingin mematikan panggilan Abizar yang sedari tadi berdering, tak ada niat untuk mengangkat panggilan itu. Apalagi Aziel dan Aisyah sedang tertidur.


Itu dari papa ya, Mah?" tanya Aziel yang terbangun saat mendengar dering ponsel mamanya.


Khanza melihat putranya itu yang begitu bersemangat ingin berbicara dengan papanya, ia pun mengangkat panggilan Abizar dan memberikan ponselnya kepada Aziel.


Aziel langsung berbicara sambil kembali berbaring di samping Aisyah yang sedang tertidur, begitu mendengar suara Abizar Aisyah membuka matanya dan terlihat begitu bahagia, teriakan kecil keluar dari mulutnya seolah menyambut papanya.


"Ziel lagi di mana?" tanya Abizar yang melihat tempat yang berbeda dan asing yang ada tidak di belakang Aziel.


Aziel langsung berlari keluar ke balkon kamar dengan mengarahkan kamera ke arah luar kemudian kembali mengarahkan kamera ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


"Aziel kamu di mana? Papa nggak pernah lihat tempat itu, itu bukan di kampung kan?"


"Ziel juga tidak tahu Papa, tapi kami tadi naik pesawat ke sini. Om Matteo juga ada di sini rumahnya sangat besar," jelas Aziel.


"Mama mana sayang? coba berikan ponselnya pada Mama, Papa ingin bicara sama Mama," pinta Abizar.


"Mama … Mama, Papa mau bicara sama Mama." Aziel menyerahkan ponselnya pada Khanza. Khanza langsung mengambilnya dan mematikan nya.


"Ziel, jika Papa mau bicara dengan Mama bilang aja ya Mama lagi sibuk, nggak bisa bicara sama Papa, ngerti kan yang mama bilang?" Jelas Khanza.


"Iya, Mah," ucap Aziel.


Sebelumnya Khanza juga sudah melakukan hal yang sama, memberitahukan hal yang sama, sepertinya Aziel yang terlalu bersemangat lupa akan nasehat Mamanya itu.


"Kemana Khanza membawa mereka," gumam Abizar kembali menghubungi nomor Khanza. Namun, nomor yang tadi sudah tidak aktif, beberapa kali Abizar meneleponnya, hasilnya tetap sama.


Kemudian ia menelpon pak Matteo dan pak Matteo mengatakan jika mereka berada di luar negeri, sedang ada pekerjaan penting yang tak bisa diwakilkan. Pekerjaan dan baru akan kembali paling lambat mungkin seminggu lagi.


"Terima kasih pak informasinya, maaf saya jadi merepotkan bapak," ucap Abizar yang keresa tak enak. Ia menelepon pak Matteo hanya karena urusan seperti itu.


Abizar meletakkan ponselnya di atas meja, ada rasa kesal dihatinya, Khanza membawa anak-anaknya ke luar negeri tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Aku tahu kau tak mau berbicara denganku, tapi setidaknya kau bisa kirim pesan mengatakan jika ingin membawa anak-anak luar negeri, aku ini masih suamimu yang sah," kesal Abizar menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


Abizar sungguh sangat merindukan mereka bertiga.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, komentar nya ,🥰


Salam dariku Author M Anha ❤️🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2