
Pagi hari Aisyah yang biasanya jarang membantu ibunya di dapur, sudah dua hari ini bangun lebih awal dan langsung menuju ke dapur, Khanza kembali menghampiri putrinya saat melihat putrinya itu sedang berkutat di dapur di pagi-pagi buta.
"Ya ampun, apa yang putri ibu ini lakukan di dapur sepagi ini?" ucap Khanza yang melihat putrinya sedang menghias kue yang sangat cantik, Aisyah sudah membuat 2 kue, menghias dan memakai cetakan yang berbeda.
"Apa ini kue yang sama dengan yang hari itu kamu buat bersama dengan Mentari?" tanya Khanza membuat Aisyah mengangguk dengan senyum di wajahnya, ia merasa puas karena kue yang dibuatnya berhasil walaupun awalnya ia tak yakin.
"Iya, Bu. Aku bisa membuatnya sendiri."
"Wah, sepertinya Mentari harus hati-hati, dia sudah punya saingan baru," ucap Khanza mencandai putrinya, membuat keduanya pun tertawa bersama-sama. Lucia yang baru saja turun kembali memanyunkan bibirnya saat ia langsung mendengar nama Mentari. Kenapa lagi-lagi nama Mentari terdengar di rumah itu sebegitu berharganyakah Mentari dimata mereka. Mereka semua sudah dibutakan oleh trik busuk Mentari.
"Aisyah, kamu jangan terlalu dekat dengan Mentari. Aku yakin Mentari itu bukanlah wanita yang baik," ucap Lucia tiba-tiba menghampiri mereka, membuat tawa mereka seketika terhenti." Ia pasti hanya ingin memanfaatkan kalian."
"Apa maksud Kak Lucia? Mengapa kakak mengatakan jika kak Mentari bukanlah wanita yang baik?" ucap Aisyah yang tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Lucia.
"Mereka itu dari kalangan orang miskin, pasti mereka akan berbuat baik di depan orang-orang seperti kita, Ya tentu saja dia ingin mengambil perhatian kita. Contohnya kakakmu, dia sudah tergila-gila pada Mentari pasti ia sejak awal sudah menargetkan kakakmu agar menyukainya."
"Memangnya Kakak pikir kita ini orang-orang seperti? Aku pikir kak Mentari jauh lebih baik dari Kak Lucia, dia selalu menghargai apapun pendapat dan juga kerja keras orang lain, tidak seperti kakak yang angkuh dan sombong," kesal Aisyah membuat Khanza menyenggol lengan putrinya itu.
"Maksud kamu apa? Mengapa kamu membandingkan ku dengan Mentari, aku jauh lebih baik darinya!"
"Itu pendapat Kakak, tapi pendapatku kak Mentari lebih baik dari Kakak, jauh lebih baik dalam segala hal," ucap Aisyah yang kesal dan langsung meninggalkan dapur tersebut, tak lupa ia membawa satu kotak kue yang sudah disiapkan untuk Dewa dan menyimpan satu kotak kue lainnya untuk dimakan oleh keluarganya, untuk kakak, ibu dan ayahnya bukan untuk Lucia. Ia hanya saja, belum tentu juga dia bisa membuat kue, tapi malah menghina buatannya.
"Aisyah, apa maksudmu!" ucap Lucia tak terima. Namun, Aisyah tak menjawab dan hanya terus berjalan meninggalkan ruangan di mana Lucia dan ibunya berada.
"Ada apa ini?" tanya Azriel yang bertemu dengan Aisyah di tangga.
"Itu kak Lucia lagi jelek-jelekin kak Mentari, katanya kak Mentari mendekati Kakak hanya untuk memanfaatkan Kakak, dia itu ngeselin banget," ucap Aisyah kemudian ia pun berlari naik ke kamarnya dengan membawa kue buatannya.
__ADS_1
Setelah ia bersiap-siap, ia pun langsung menghampiri kakaknya yang akan ikut ke kantor, ia langsung masuk di bangku belakang karena Lucia sudah duduk di samping kakaknya.
"Kamu mau ke mana, Dek?" tanya Azriel berbalik menatap adiknya.
"Kakak nggak buru-buru kan? Antar aku ke tempat kak Mentari ya, aku sudah janjian dengan kak Mentari," ucap Aisyah yang mengabaikan tatapan penuh tanya dari Lucia.
"Ngapain kamu bertemu dengan Mentari?" tanya Lucia.
"Kakak mau tau aja, ini urusanku dengan kak Mentari," ucap Aisyah, ia sudah sangat geram dengan sikap Lucia padanya, ia tak mau lagi terus bersabar dan menjaga perasaan orang yang tak mau menjaga perasaannya.
Lucia yang tau jika Aisyah kesal padanya, ia pun tak bertanya lagi, ia tahu jika Aisyah masih marah padanya entah karena meninggalkannya malam itu atau karena menjatuhkan kuenya kemari atau menghina makanannya semalam. Lagi pula tujuannya bukan untuk berbaikan dengan Aisyah. Namun, untuk merebut hati Azriel, ia sudah memikirkan beberapa cara untuk merebut hati Azriel, jika memang ia tak bisa melakukannya dengan baik-baik ia akan melakukan sebuah cara walau itu sangat beresiko dan berbahaya, ia akan melakukannya.
Azriel hanya diam mendengar percakapan mereka yang terus aja saling bertentangan, terlihat jelas jika Aisyah tak suka pada Lucia. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke gang sempit milik Mentari, terlihat di sana Mentari sudah menunggunya dengan motor dan juga beberapa pesanan kuenya.
Aisyah pun langsung turun dan menghampiri Mentari, Azriel juga ikut turun menyapa kekasihnya itu.
"Aku ingin mengantar beberapa pesanan, Aisyah katanya mau ikut," ucapnya.
"Oh ya sudah kalian hati-hati di jalan ya, jangan ngebut-ngebut," ucap Azriel membuat Mentari dan juga Aisyah pun kompak mengangguk.
"Cih, munafik sekali. Mereka baru berpacaran, tapu sok perhatian seperti itu, lebay banget sih," gurutu Lucia yang mendengar percakapan mereka.
"Oh ya Kak, nanti saat jam makan siang kami ingin piknik ke taman, jika Kakak mau gabung boleh kok ini kami sudah bawa beberapa menu," ucap Aisyah menunjuk ke arah ranselnya begitupun dengan Mentari yang menunjuk beberapa kotak yang ada di bagian depan motornya.
"Wah, piknik siang nanti ya? Ya sudah aku akan sempatkan waktu, kalian langsung ke taman saja nanti aku nyusul," ucap Azriel membuat Lucia lagi-lagi mendengar percakapan mereka, ia tak akan membiarkan Azriel piknik dengan mereka, ia harus memikirkan cara agar bisa menggagalkan kebersamaan mereka.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya," ucap Azriel, ia pun berlalu meninggalkan Aisyah dan juga Mentari, ia melajukan mobilnya menuju ke kantor bersama dengan Lucia yang terus saja berpikir bagaimana cara agar memisahkan Mentari dan juga Azriel.
__ADS_1
Mentari langsung melajukan motornya menuju ke perusahaan Dewa karena barang mereka cukup banyak, Erwin juga ikut di belakang mereka. Biasanya Mentari akan membonceng kue-kue tersebut dengan box yang disimpan di bagian belakang motornya. Namun, karena kali ini ada Aisyah yang ikut ia pun meminta Erwin membantunya.
Sesampainya di perusahaan itu dan sudah menurunkan semua kue-kuenya, Erwin pun pulang sementara Mentari masih berkomunikasi dengan orang yang selama ini memesan kue dengannya.
"Kak, aku pergi dulu sebentar ya, aku ingin bertemu dengan seseorang di kantor ini," ucap Aisyah membuat Mentari pun hanya mengangguk.
Aisyah yang sejak tadi sudah berkomunikasi via chat dengan Dewa langsung menuju ke ruangan Dewa.
"Apa aku mengganggu?" tanya Aisyah yang sudah masuk ke ruangan yang cukup luas tersebut, walau saat ini Dewa masih belum diberi kekuasaan penuh atas perusahaan tersebut oleh ayahnya. Namun, ia sudah memiliki pengaruh besar di perusahaan tersebut dan juga memiliki ruangan tersendiri.
"Nggak kok, masuklah," ucap Dewa mempersilahkan Aisyah untuk masuk, Aisyah langsung masuk dan memberikan kotak yang di bawahnya.
"Ini ucapan terima kasihku dan kue ini aku buat sendiri untukmu," ucapnya menyerahkan box kue itu dengan senyum di wajahnya.
"Wah, kamu benar-benar membuatnya untukku ya? Terima kasih banyak ya, terlihat sangat enak," ucap Dewa kemudian Aisyah pun mulai memberikan sepotong kue tersebut pada pria yang telah menolongnya waktu itu. Dewa mencicipi kue buatan Aisyah dan langsung memujinya, hal itu membuat Aisyah merona. Ia sangat senang mendapat pujian dari Dewa, pujian itu terasa sangat istimewa.
"Ya sudah ya Kak, aku keluar dulu nanti kak Mentari mencariku," ucap Aisyah membuat Dewa pun mengangguk, begitu Aisyah sudah akan melangkah pergi ia kembali berbalik dan menatap Dewa.
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Hmmm, siang nanti aku, kak Mentari dan kak Azriel ingin piknik di taman, kami membawa beberapa menu piknik, Kak Dewa mau ikut nggak?" ajak Aisyah.
"Kebetulan sekali siang ini aku tak ada pekerjaan, ya sudah aku ikut nanti hubungi aku saja di mana tempatnya," ucap Dewa membuat Aisyah pun mengangguk, ia merasa senang dan ia pun segera bergegas keluar dari ruangan itu menghampiri Mentari yang sudah menunggunya di lobby.
"Kamu dari mana?" tanya Mentari melihat Aisyah berlari ke arahnya dengan senyum di wajahnya, jangan lupakan pipinya yang sudah merona.
"Nggak apa-apa, hanya bertemu teman, ayo kita antar kue-kuenya lagi," ucap Aisyah yang tadi melihat di motor Mentari masih ada 5 box kue, pasti itu untuk diantar juga ke pelanggan mereka. Mentari pun hanya mengangguk dan keduanya meninggalkan perusahaan tersebut menuju ke pengantaran berikutnya.
__ADS_1