Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Pilihan yang Sulit


__ADS_3

Pagi hari kegaduhan terjadi di kediaman Khanza, ia lupa jika pagi ini ia harus pergi ke pengadilan. Ia baru mengingat saat Abizar menelponnya, mengabarkan jika ia sudah ada di sana dan menanyakan apakah dia akan datang atau hanya akan diwakili pengacaranya.


"Aku akan datang kok, kak. Bentar lagi ini aku udah mau berangkat," ucap Khanza langsung mematikan ponselnya dan dengan cepat berlari menuju ke kamar mandi. Ia kembali menghentikan langkahnya dan berbalik meneriaki Aqila untuk memberi makan Aziel, tadi ia sudah membuatkan makanan untuknya. Bibi sedang menjaga Aisyah di taman.


"Iya, tenang aja. Kamu pergi saja, biar aku yang ngurus Aziel," jawab Aqila yang juga meneriaki Khanza yang sudah ada di lantai 2.


Khanza dengan cepat mandi dan memakai pakaiannya, sejenak ia mengatur nafasnya melihat wajahnya di cermin.


"Aku Pasti bisa, ini adalah keputusan yang tepat. Aku tak akan menyesalinya, aku yakin semua akan baik-baik saja dan memang akan lebih baik jika kami berpisah. Walaupun aku tak lagi menjadi istri dari Kak Abi, aku pasti bisa membesarkan anak-anakku. Kak Abi akan tetap menjadi Papa mereka.


Khanza memegang dadanya yang kembali terasa sakit, "Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja," Khanza kembali melafalkan mantra pamungkasnya untuk menenangkan harinya.


Menghembuskan nafasnya kemudian Ia pun pergi ke pengadilan diantar oleh supir dan menitipkan Aziel dan Aisyah pada bibi dan juga Aqila.


"Aku pasti bisa, semua akan baik-baik saja," mantra itu terus dilafalkannya hingga ia sampai ke tempat tujuannya menyemangati dirinya sendiri.


Begitu sampai di Khanza ragu untuk turun kakinya terasa berat untuk melangkah masuk ke gedung tersebut. "Apakah aku akan benar-benar bercerai dengan kak Abizar," batinnya menjerit bertanya. Namun, lagi-lagi ia menjawab hatinya mengatakan iya, iya, dan, iya.


"Bismillah, aku pasti bisa," ucapnya sebelum turun dari mobil.


"Pak, bapak tunggu aja di dalam, takut aku akan lama," ucap Khanza pada supirnya.


"Iya, Bu. Semoga urusan ibu cepat selesai," ucap supir yang mengantarkan Khanza, supirnya juga menjadi saksi betapa sulitnya Khanza melewati hari-harinya.


"Terima kasih ya, Pak. Semoga saja, Pak." Khanza memantapkan hatinya untuk turun dan melangkah pasti memasuki gedung.


Khanza menelpon Abizar menanyakan dimana keberadaannya.


Setelah mendapat petunjuk dari Abizar Khanza pun perlahan mendekati ruangan yang dimaksud Abizar.


Semakin dekat dengan ruangan itu hatinya semakin sesak, matanya terasa panas. Sekuat tenaga Khanza kembali meyakinkan hatinya. "Aku pasti bisa, aku kuat, semua akan baik-baik saja, semua ini akan berlalu," terus memberi semangat pada dirinya sendiri.


Khanza menghela nafas panjang mencoba mengatur ritme jantungnya yang semakin berdetak kencang, ia bahkan bisa mendengar bunyi debaran jantungnya.


Khanza berdiri lama di depan pintu dan dengan tangan bergetar ia membuka pintu.


Semua mata tertuju padanya, Khanza dengan canggung masuk dan duduk di kursi yang telah Abizar persilahkan.


"Maaf aku terlambat," ucapnya canggung mengapa mereka semua.


Begitu dia masuk, di sana sudah ada beberapa orang termasuk Abizar dan pengacaranya, jantung Khanza semakin berdetak kencang. Khanza tak mengerti apa yang akan mereka lakukan di sana, yang ia tahu semua itu adalah persyaratan dari proses perceraiannya.


Mediasi pun berlangsung. Namun, tak membuahkan hasil yang baik. Mediasi dilakukan cukup lama, Abizar kembali membujuk Khanza meyakinkannya agar membatalkan niatnya untuk bercerai. Namun, Khanza tetap menolak dan tetap ingin melanjutkan perceraian mereka.

__ADS_1


Dengan bantuan pengacaranya akhirnya semua selesai dan keputusan mereka tetap akan berpisah, sidang perceraian tetap akan dilanjutkan.


Setelah selesai, Khanza berjalan cepat keluar dari ruangan itu menuju ke mobilnya. Abizar mengejarnya dan menghentikannya.


"Khanza tunggu," mencekal tangannya.


"Apa maksud kakak tadi? Bukankah kita sudah sepakat untuk berpisah tanpa mempersulit perceraian kita ini? Lalu apa yang kakak lakukan tadi?"


"Khanza, apa memang sudah tidak ada harapan lagi untuk memperbaiki rumah tangga kita?"


"Tidak. Aku sudah menetapkan hatiku, Kak. Khanza mohon jangan membuat hati Khanza semakin tersiksa dengan semua ini. Jika Kakak berpikir aku bahagia dengan perceraian ini, jawabannya adalah tidak, aku juga tidak menginginkannya, tapi aku sudah tidak sanggup menjalani rumah tangga kita, aku tidak bisa terus-terusan bertahan dengan semua ini. Aku sakit, Kak. Hatiku sakit mengetahui jika …." Khanza menghentikan ucapannya, ia tak bisa meneruskan perkataannya.


"Mengetahui jika apa?" tanya Abizar ingin tau apa kelanjutan ucapannya.


"Mengetahui jika Kakak mencintai wanita lain. Khanza sadar, Kak. Tahu jika aku yang hadir diantara kalian berdua jadi aku juga yang harus pergi. Kakak jujur sama Khazan, Kakak menikah dengan Khazan hanya karena ingin anak 'kan, sudah ada! Bukan cuma satu tapi dua." Menaikkan dua jarinya. "Khazan rasa itu sudah cukup, kakak sudah mendapatkannya. Walau kita pisah aku tak akan melarang kakak untuk menemui mereka, itu sudah kesepakatan kita 'kan? Jadi tolong harga kesepakatan kita untuk berpisah dan tak mempersulitnya," ucap Khanza mendorong dada Abizar agar tak menghalangi jalannya.


Khanza berlari menuju ke mobilnya ia sangat kecewa dengan apa yang Abizar lakukan di dalam ruang mediasi. Abizar tetap ingin mempertahankan pernikahan mereka membuat beberapa perdebatan terjadi di dalam ruang tersebut.


"Khanza kumohon! Kita bisa bicara sebentar?" menahan pintu saat Khanza ingin menutupnya.


"Apalagi, Kak. Apalagi yang harus kita bicarakan? Semua sudah jelas 'kan, Aku ingin berpisah dengan Kakak. Kakak ingin bertemu kapanpun dengan anak-anak, aku tak masalah."


"Khanza, dengarkan dulu."


Abizar tak bisa berkata apa-apa lagi, ia kemudian melepaskan pintu mobil dan membiarkan Khazan menutup pintunya dan hanya melihat mobil itu membawa Khanza pergi ke sana.


Hubungan Yang tadinya sudah membaik kini kembali memanas.


Saat sampai di rumah sebelum turun dari mobil Khanza mencoba mengatur nafasnya dan memakai sedikit make up tipis, tak ingin membuat yang lain merasa kasihan padanya, ia bisa melihat jika bibi dan Aqila sedang bermain di taman.


Setelah merasa lebih tenang Ia pun menghampiri mereka dan duduk disamping Aqila.


"Bagaimana?" tanya Aqila.


"Kami akan bertemu dua minggu lagi, untuk membacakan gugatan."


"Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Aqila yang tahu jika Khanza berusaha menutupi kesedihannya.


"Semua baik kok, Aku hanya ingin semuanya cepat berlalu dan tak memikirkannya lagi."


Aqila menggenggam tangan Khanza memberikan kekuatan di genggamannya.


"Aku takkan takut, selama kamu ada menemaniku, Kau adalah sahabat sekaligus saudara untukku," ucap Khanza membalas genggaman tangan Aqila.

__ADS_1


"Aku akan ada disampingmu sampai kapanpun, menemanimu baik suka dan duka."


Mereka mengalihkan pembicaraan mereka ke pembicaraan lain, Khanza tak ingin membahas masalah perceraian.


Tak lama kemudian Abizar datang dan ikut bergabung dengan mereka.


Aqila yang mengerti jika Abizar ingin berbicara dengan Khanza memilih untuk mengajak Aziel masuk ke dalam rumah.


Aziel mau sama Papa saja," Aziel duduk di samping papanya.


"Ya udah, aku sama Aisyah aja, kita berenang, ya, sayang," ucap Aqila menggendong Aisyah masuk.


"Berenang? Ziel juga mau ikut berenang Tante," teriak Aziel berlari mengejar Aqila.


"Ada apa lagi, Kak?" Khanza memijat pelipisnya sambil menopang tangannya di meja.


"Aku minta maaf masalah yang tadi, aku hanya masih berharap jika pernikahan kita bisa dipertahankan. Itu saja."


"Kak, jangan mengulangi kalimat yang sama, ribuan kali kakak mengulanginya beribu kali jawabanku tetap sama, aku tak ingin lagi melanjutkan hubungan kita. Tolong mengerti! Semakin Kakak mengulangi perkataan itu semakin menyakitiku, semakin membuatku ragu." Khanza menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Baiklah, sekarang aku takkan lagi mengatakannya. Aku takkan lagi berharap kita bisa bersatu dan memperbaiki rumah tangga kita. Walau bukan menjadi istriku lagi kau mau 'kan menjadi adik atau sahabatku?" tanya Abizar menarik tangan Khanza dan menggenggamnya.


Khanza mengangguk mengiyakan permintaan Abizar.


"Baiklah, mari kita urus perceraian ini agar bisa cepat selesai."


"Satu hal lagi yang harus kau tau, jika aku sangat mencintaimu dan alasan aku menikahimu karena aku menyukaimu. Bukan karena aku menginginkan anak darimu. Aku sudah lama menikah dengan Farah, jika hanya karena anak aku menikah lagi aku tak akan menunggu selama itu. Aku sudah menyukaimu saat pertama kali kita bertemu."


"Kakak mencintaiku atau Mbak Farah? Aku masih mengingat dengan jelas saat pertama kali kakak mengakui hubungan kakak dengan Mbah Farah, jika kakak mencintai kami berdua, tapi bukan jawaban itu yang aku inginkan, aku ingin kakak memilih?!


"Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa meninggalkan Farah dan jangan tanya alasannya."


"Aku juga mencintaimu, Kak. Sangat mencintaimu, tapi aku tak ingin berbagi." ucap Khanza berdiri dan meninggalkan Abizar yang masih duduk di bangku taman.


Hari terus berganti hari, persidangan mereka lalui dengan sangat lancar. Tak ada yang mempersulit mereka, keputusan mereka berdua sudah bulat di mata pengadilan jika mereka ingin berpisah dengan alasan sudah tak ada lagi kecocokan di antara mereka dan status Khanza yang menjadi istri kedua juga mempermudah perceraian mereka.


Semua mereka lalui dengan lancar hingga tiba pada sidang terakhir yang akan dilaksanakan 15 hari ke depan yaitu sidang keputusan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰🤗

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2