
Tiga hari sudah kini Abizar di kampung Khanza, selama di sana Khanza tak sekali pun mengajaknya berbicara, Khanza terus mendiamkan nya, walau mereka sering duduk berdampingan apalagi saat menyangkut masalah Aziel, mereka selalu bersama-sama mengurusnya menjawab setiap pertanyaan putra mereka. Namun, mereka berdua tak pernah saling tegur sapa.
Abizar selalu menyempatkan diri untuk mencoba berbicara dengan Khanza, tetapi Khanza terus saja menghindar, jika saat berdua Khanza akan memilih untuk keluar, jika Abizar yang keluar Khanza akan masuk ke kamarnya.
Abizar sudah berusaha untuk mencoba mendekati Khanza, Khanza tetap pada pendiriannya.
Malam ini Abizar kembali mencoba membuka pintu saat mereka akan tidur dan ternyata pintunya tidak dikunci.
Abizar masuk sambil menggendong Aziel yang sudah tertidur sama seperti malam sebelumnya. Namun, saat masuk Abizar tak melihat Khanza di sana, Ia hanya melihat putrinya dan di sampingnya ada beberapa botol susu. Khanza memompa asi-nya.
Abizar menidurkan Aziel disamping Putri kecilnya yang juga telah tertidur lelap dan mengambil beberapa botol susu tersebut. Abizar bisa mengerti, sepertinya malam ini Khanza mengizinkannya tidur dengan mereka sementara Khanza sendiri tidur di kamar lain.
"Lihatlah betapa bencinya mama kalian pada papa. Aku memang pantas mendapatkan ini semua. Maaf sudah menjadi Papa yang buruk buat kalian," ucap Abizar mengelus punggung tangan putri kecilnya, menatap lekat kedua malaikat kecilnya itu kemudian ikut tertidur bersama sambil memeluk mereka berdua.
Pagi hari Khanza membuka jendela, membiarkan cahaya matahari masuk ke kamar mereka. Aziel, Abizar dan juga bayinya masih tertidur.
Khanza menatap ketiganya, ada rasa haru di dadanya. Khanza menghembuskan nafas dan dengan cepat menepis perasaannya itu. Ia masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk anak-anak begitu juga dengan suaminya.
"Khanza, bisa kita bicara sebentar," ucap Abizar tiba-tiba membuat Khanza terkejut.
"Khanza tak menjawab, ia memilih ingin langsung keluar. Namun, dengan cepat Abizar menutup dan mengunci pintu kamar mandi, membuka kuncinya dan menggantungnya di atas pintu yang Khanza tak mampu menggapainya. Khanza hanya terdiam dan bersandar di dinding kamar mandi menunggu apa yang ingin Abizar katakan.
"Apa kamu tak bisa memaafkanku, coba pikirkan anak-anak."
Khanza tak menjawab, ia hanya menunduk menyembunyikan airmatanya.
Abizar mendekat dan mencoba memegang tangan Khanza, dengan cepat Khanza langsung menarik tangannya dan sedikit memundurkan langkahnya.
"Apa perceraian adalah keputusan terakhirmu?"
"Kak, aku mohon jangan seperti ini, jangan membuatku semakin berat meninggalkan pernikahan ini," ucap Khanza menatap Abizar dengan berkaca-kaca.
"Kita masih bisa memperbaikinya," ucap Abizar cepat.
"Maaf, sudah cukup. Aku sangat kecewa pada Kakak, aku mohon hormati keputusanku. Aku akan menganggap Kakak sebagai papa dari anak-anakku sampai kapanpun, tapi aku mohon jangan buat aku membenci kakak," ucap Khanza menghapus air matanya dengan kasar dan memalingkan wajahnya.
Abizar kalah, ia benar-benar sudah tak bisa berkata apa-apa lagi untuk membujuk Khanza. Melihat air mata Khanza seolah mengunci mulutnya, dengan pasrah akhirnya dia kembali membuka pintu dan membiarkan Khanza keluar.
Siang hari Abizar sudah bersiap untuk kembali ke kotanya, ia berpamitan kepada semuanya kecuali dengan pada Khanza yang tak mengantar kepergiannya.
"Aziel Papa kerja dulu ya, Ziel jaga mama sama adik ya. Aziel janji sama Papa?" ucap Abizar menautkan jari kelingkingnya dengan Aziel.
"Baik ,Pah! Papa tenang saja, Papa kerja saja dengan baik, Mama sama adik biar Ziel yang jaga di sini." Jawab Aziel dengan polosnya.
__ADS_1
Selama beberapa hari ini, Abizar terus saja memberikan pengertian kepada putranya itu jika mereka akan berpisah dan perpisahan mereka karena ia ingin bekerja demi dirinya dan adik kecilnya, semua usahanya berhasil. Aziel mengantar kepergiannya dengan senyuman.
"Aku pergi dulu ya, Bude. Aku titip anak-anakku," ucap Abizar menggendong bayinya, mengecup kedua pipinya dan mengembalikannya pada Bude.
Bude hanya mengangguk dan memberikan senyum sebagai jawabannya.
"Papa pergi dulu yah jagoannya Papa," ucap Abizar melakukan tos dengan Aziel.
"Iya Papa," jawab Aziel tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya.
Abizar ke bandara akan diantar oleh pak Hendra, mereka semua mengantar dengan lambaian tangan. Khanza hanya bisa melihat dari jendela kamarnya.
Sebelum masuk ke mobil Abizar melihat ke arah jendela kamar mereka, ia bisa melihat bayangan Khanza disana. ia pun tersenyum ke arah bayangan Khanza kemudian masuk ke dalam mobil.
Khanza terus melihat mobil yang membawa Abizar semakin jauh, semakin mobil itu menjauh semakin sakit rasa mulai menyerangnya. Hatinya terasa perih, hingga perasaan itu pecah dan ia pun menangis. Walau berusaha menahan sakitnya Khanza tak kuasa membendungnya, suara isakan tangisnya lolos memenuhi kamarnya.
Khanza berharap ini adalah tangisan terakhir yang suaminya berikan untuknya.
*****
Abizar sampai ke rumah lama.
Saat sampai di rumah, tak ada satupun yang menyambutnya. Rumah terasa kosong, ia menelpon Farah. Namun, tak diangkatnya begitu juga dengan Mamanya.
Abizar memutuskan untuk pergi ke kantor, beberapa hari ini pekerjaannya sangat terbengkalai.
Begitu datang Abizar langsung disambut oleh rapat besar, di mana rapat itu adalah pertemuan antara beberapa perusahaan besar tentang proyek yang Mr Alvin atau Pak Matteo akan jalankan.
Begitu masuk ke dalam ruangan rapat mata Abizar langsung bertemu dengan Daniel begitu juga dengan Pak Matteo.
Rapat dimulai dan mereka membahas jika proyek yang akan mereka kembangkan akan diadakan dimulai 3 bulan lagi. Rapat berikutnya 3 bulan lagi dan mereka akan membahas dimulainya proyek tersebut. Semua yang menyangkut dana dan lainnya telah rangkum dalam rapat kali ini.
Rapat selesai, semua meninggalkan ruang rapat termasuk Pak Matteo.
Daniel menghampiri Abizar.
Bagaimana keputusanmu dengan Khanza? Apa kau sudah membicarakannya secara baik-baik dan mengambil keputusan?" tanya Daniel
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, aku bisa mengurusnya sendiri. Jika memang aku ingin bercerai aku bisa mengajukannya sendiri. Aku mengerti apa yang harus dilakukan, jadi diamlah dan jangan terlalu ikut campur." Abizar beranjak dari duduknya dan meninggalkan Daniel.
Daniel berjalan mengikuti Abizar, mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran.
"Aku bisa membahagiakan Khanza jika memang kau sudah tak bisa membahagiakannya," ucap Daniel tanpa menoleh pada Abizar yang berjalan di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau kau memang benar-benar ingin mendekati Khanza. Kau boleh melakukannya setelah kami bercerai untuk saat ini berhenti ikut campur, jangan menguji kesabaran ku," ucap Abizar yang mulai terbawa emosi. Menghentikan langkahnya dan menatap tak suka pada Daniel.
"Sudahlah santai saja, tak usah emosi seperti itu," ucap Daniel terus berjalan hingga masuk ke dalam mobilnya.
Membunyikan klakson sebelum menjalankan mobilnya membuat Abizar
semakin kesal dan merasa diperolok oleh Daniel.
Saat pulang Farah dan ibunya sudah ada di rumah, ia menghampiri Farah yang sedang mencuci buah di dapur.
"Kau seharian ini dari mana saja, dari tadi aku menelponmu?" tanyanya pada Farah mengambil buah apel dan memakannya.
"Aku ada urusan penting, Mas. Maaf," ucap Farah tanpa melihat pada Abizar.
"Apa kau pergi bersama dengan Mama?" tanyanya lagi.
"Iya," jawab Farah.
Abizar terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan pada Farah dan Farah terus saja menjawabnya dengan kata-kata singkat. Ia tahu sepertinya istrinya itu sedang marah, kemudian ia duduk di samping Mamanya.
"Mama dari mana saja, tadi aku terus menelpon nomor ibu, tapi nomornya tidak aktif."
"Mama sedang sibuk," jawab Warda.
Abizar melakukan hal yang sama pada ibunya, ibunya juga hanya menjawab seadanya sama dengan apa yang dilakukan oleh Farah.
Sepertinya tebakannya benar, Farah dan Mamanya sengaja menghindarinya, mereka pasti sedang marah padanya Karena gagal mendapatkan maaf dari Khanza.
****
Selesai rapat Matteo langsung mendatangi Kampung Khanza dengan pesawat jet pribadi, waktunya hanya 3 bulan untuk menyiapkan Khanza menjadi Pemain Proyek yang akan mereka mulai 3 bulan lagi.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mampir ke karya temanku kak, 🙏
__ADS_1