Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2 : Bab 33


__ADS_3

"Maaf, Kak. Aku tak memilih siapapun, baik Kakak ataupun kak Mentari, aku memilih siapapun yang dipilih oleh Kak Azriel dan aku tak ingin ikut campur, ini masa depan kakakku," ucap Aisyah membuat Lucia hanya menatap kesal pada Aisyah dan kemudian ia kembali ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Tak lupa ia meminta bibi untuk membawa barang-barangnya ke kamar tersebut, ia menolak untuk melanjutkan pertunangan mereka, ia akan tetap tinggal dan kuliah di kampus yang sama, walau Azriel dan Mentari sudah jadian bukan berarti ia akan mengalah. Baginya Azriel adalah miliknya dan hanya akan bersamanya.


Apapun akan Lucia dilakukan agar Azriel menjadi miliknya, ia tak mau kalah apalagi pada Mentari yang menurutnya sama sekali bukan tandingannya, bukan selevel dengannya.


Saat tengah malam Azriel berdiri di balkon kamar yang ada di ruang tengah di lantai 2, Dev yang kebetulan melihatnya menghampiri Azriel.


Keduanya menatap lurus ke taman yang ada di depan mereka, Azriel menyadari keberadaan ayah dari Lucia. Namun, ia terus menatap lurus ke depan, apapun yang akan dikatakan Dev nanti padanya, ia akan tetap pada keputusannya. Ia akan memperjuangkan cintanya untuk Mentari.


"Aku tahu jika kamu tak menginginkan perjodohanmu dengan Lucia, aku tak akan memaksakan hal itu seperti ibumu. Aku hanya ingin bilang, jika memang kamu tak memiliki perasaan pada Lucia kamu jangan memaksakan untuk bersamanya, walau ada desakan dari siapapun, baik Lucia maupun ibunya," ucap Dev masih menatap ke arah depan, membuat Azriel langsung menatap ayah dari Lucia itu, tadinya ia berpikir jika Dev juga akan bertindak sama seperti Lucia dan ibunya yang akan memaksanya untuk menerima dan memberikan kesempatan pada Lucia.


"Om tak memaksaku seperti yang lainnya?" tanya Azriel.


"Aku sangat menyayangi putriku dan memaksamu sama saja aku menyakitinya, aku tahu maksud Farah baik. Ia memaksamu untuk tetap memberi Lucia kesempatan karena dia menyayanginya, karena Farah tahu Lucia sangat menyayangimu, tapi tanpa ia sadari ia hanya akan menyakiti Lucia semakin dalam nantinya. Tapi aku dalam posisi yang juga tak bisa menegurnya. Jadi, aku mohon padamu. Jika memang kamu tak mau dan tak ada keinginan untuk bersama dengan Lucia di mada depan bicaralah padanya dan jangan beri dia harapan," ucap Dev membuat Azriel pun menggangguk.


Dev meninggalkan Azriel dan kembali ke kamarnya, ia kembali menatap lurus ke depan, ia menghembuskan nafas lega akan oenhelasan Ayah Lucia. Tadinya ia hanya ingin menjaga perasaan ayah dari Lucia yang sangat baik padanya. Namun, sepertinya ia tak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi.


Azriel mengirim pesan pada Mentari, menanyakan kabar dan hal-hal yang tak penting lainnya, hanya sekedar untuk berkomunikasi saja.

__ADS_1


Mentari yang sedang membuat kue bersama dengan ibu dan dua pegawai lainnya terus membalas pesan tersebut dengan senyum di wajahnya, ia merasa lega, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Dewa, mengikuti kata hati itu memang sangat menyenangkan, tak peduli apapun yang terjadi nanti. Ia sudah mengatakan apa yang ada dalam hatinya, ia tak akan menyesali apapun di kemudian hari.


"Azriel, boleh ibu bicara?" tanya Farah membuat Azriel langsung menoleh dan ia pun hanya mengangguk.


Farah ikut berdiri di samping Azriel, ia menghirup udara malam dan menghembuskannya secara perlahan kemudian menatap Azriel dengan senyum di wajahnya.


"Azriel, kamu masih menganggapku sebagai ibumu kan?" tanya Farah membuat Azriel pun lagi-lagi hanya mengangguk, ia takut mengucapkan sesuatu yang bisa menyakiti hati wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya itu.


"Ibu tak minta banyak padamu, Nak. Ibu hanya minta kamu memberi kesempatan pada Lucia, rasa cinta itu bisa datang kapanpun jika kamu memberi kesempatan pada hatimu untuk mencintai seseorang. Azriel, percayalah Lucia adalah orang yang tepat untukmu."


"Bu, mengapa Ibu mengatakan Lucia adalah orang yang tepat untukku dan menganggap Mentari bukanlah orang yang tepat? Apa hanya karena status sosial kami yang sangat berbeda?"


"Cinta Lucia untukku tak menjamin kehidupanku di masa depan lebih baik, Bu. Aku tak mungkin mencintainya jika aku mencintai wanita lain."


"Apa kamu yakin jika Mentari juga mencintaimu? Bagaimana jika cinta Lucia padamu lebih besar dari Mentari mencintaimu."


"Aku tak peduli akan hal itu, Bu. Yang aku tahu hatiku mencintai Mentari dan aku akan memperjuangkan cintaku, aku akan bahagia jika hidup bersama orang yang aku cintai."

__ADS_1


"Apa kamu benar-benar tak bisa memberi Lucia kesempatan walau hanya sedikitpun? Apa kamu tak menghargai ibu dan juga menghargai kebersamaan kalian sejak kecil?"


"Justru aku menghargai Ibu dan menyayangi Lucia, aku tak mau jika dia lebih tersakiti lagi. Coba ibu bayangkan bagaimana jika dalam setahun kami mencoba bersama. Namun, di tahun berikutnya aku mengakhiri hubungan kami, apa Ibu pikir Lucia akan bisa menerimanya? Tidak, Bu. Dia akan semakin mencintaiku dan ia akan semakin terluka saat perpisahan kami. Jadi, lebih baik kita mencegah luka yang akan dialaminnya di masa depan karena semua ini dan bukan hanya Lucia saja yang akan terluka jika aku menerima tawaran Ibu, tapi Mentari juga akan terluka begitupun dengan aku, Bu."


"Azriel. Ibu tak ingin melukai siapapun."


"Bu, akan ada tiga hati yang akan terluka, Bu."


Farah hanya terdiam, ia bisa melihat dari mata putranya itu jika ia benar-benar serius dengan ucapannya.


"Tapi bagaimana dengan Lucia? Dia sudah memutuskan untuk kuliah di sini dan untuk bisa mengambil perhatian dan cintamu."


"Ibu, aku akan berusaha menasehati Lucia, aku akan selalu menyayanginya seperti aku menyayangi Aisyah. Jadi, aku mohon jangan memberikan harapan tentang perjodohan kami."


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Ibu titip Lucia padamu. Jika kamu memang tak bisa mencintainya seperti seorang wanita, sayangi dia seperti seorang kakak. Besok ibu harus pulang dan Lucia akan tinggal di sini dan mulai melanjutkan kuliahnya bersamamu," ucap Farah menggenggam tangan Azriel.


Ingin rasanya Azriel menolak dan meminta ibunya itu untuk membawa Lucia kembali pulang. Namun, ia sadar sikap itu tak seharusnya dilakukannya, sama halnya dia mengusir Lucia dari kediamannya, membuat Azriel pun hanya mengangguk.

__ADS_1


"Maaf Bu, aku tak bisa memenuhi keinginan Ibu dan terima kasih atas pengertian, Bu. Aku janji aku akan menyayangi Lucia seperti adikku sendiri, aku akan berusaha untuk tak menyakitinya selama dia tinggal di negara ini. Aku mohon Ibu juga memberi pengertian padanya, bukan malah mendukungnya," ucap Azriel juga menatap Farah dengan penuh rasa memohon.


"Hmm, tentu saja," ucap Farah menepuk pelan bahu Azriel kemudian ia pun berlalu meninggalkan putranya itu dan menuju ke kamarnya. Lucia yang sejak tadi mendengar percakapan ibu dan ayahnya pada Azriel hanya bisa mengepalkan tangan, ia merasa kesal ayah dan ibunya tak ada yang mendukung keinginannya. Namun, semua itu semakin membuat ia menggebu-gebu untuk membuktikan kepada mereka semua jika dia bisa mendapatkan Azriel dan menjadikan Azriel miliknya, menjadikan pria yang dicintainya itu menjadi suaminya.


__ADS_2