Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Tak ada yang sempurna.


__ADS_3

Makan malam, 


Farah dengan telaten menyiapkan piring dan menyedokkan lauk untuk suaminya, kemudian dia juga membantu Khanza mengambilkan lauk yang di inginkannya.


"Cukup mbak," ucap Khanza saat melihat Farah memberikannya bermacam-macam lauk.


"Makan yang banyak ya, biar bayinya sehat," kata Farah meletakkan piring Khanza setelah memilih lauk untuk Khanza.


Mereka makan dengan tenang, semua fokus pada makanannya, tapi tidak dengan Santi. Ia menggenggam erat sendok nya, melihat betapa mereka semua memperhatikan Khanza dengan sangat istimewa.


"Disini seharusnya semua perhatian itu hanya untuk Farah, bukanya wanita licik ini. Hanya karena dia hamil bukan berarti ia berlagak seperti ratu di rumah ini," batin Santi tak terima dengan apa yang terjadi di hadapannya.


"Mama sudah selesai?" Tanya Farah saat Santi berdiri dari duduknya.


"Selera makan mama tiba-tiba hilang," kesal Santi memandang tak suka pada Khanza kemudian pergi dari sana.


Warda menghembuskan nafasnya kasar. Beberapa hari yang lalu, Santi menemui nya dan meminta keadilan untuk Putrinya. 


****


"Warda, bukankah kamu dan Abizar sudah berjanji akan bersikan adil pada Farah, Lalu apa ini, dimana keadilan yang kalian bicaranya. Sudah 2 bulan Abizar tak menemui Farah, tak memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami."


"Tenanglah, Abizar sedang berusaha membujuk Khanza agar mau kembali," jawab Warda.


"Kalau dia memang mau tinggal disana biarkan saja," sahut Santi masih dengan mode ketusnya.


"Khanza tak boleh tinggal di kampung dan menjauhkanku dari cucuku. Khanza tak mau krmbali lagi kesini, ia bahkan meminta Abizar menceraikannya."


"Ya sudah, apa yang kalian permasalah. Penuhi saja permintaannya, dengan uang yang kita miliki kita pasti bisa memenangkan hak asuh anak itu, Anak yang dilahirkan Khanza dan Farah bisa merawatnya," tambah Santi.


"Semua itu tak semudah yang kau pikirkan, Abizar mencintai Khanza dan tak akan melepaskannya sampai kapan pun. Abizar juga pasti tak akan tega memisahkan bayinya dari Khanza."


"Itulah yang aku takutkan, Abizar akan mencintai Istri keduanya dan meninggal istri pertamanya. Tak lama lagi Abizar pasti meninggalkan Farah dan memilih Khanza dan anaknya."

__ADS_1


"Anakku tak seperti yang kau katakan, ia pasti tak akan meninggalkan Putrimu. Lagian, Farah sendiri sudah setuju semua ini," sanggah Warda.


"Farah akan setuju semua apa yang Abizar katakan, karena ia sangat mencintai putramu itu. Namun, hanya kerena ia tak bisa punya anak kebahagiaan harus di korban kan demi kebahagiaan anakmu." Melipat tangan di dada.


"Bersabarlah sebentar aku yakin, Khanza akan kembali ke rumah ini. Aku bisa melihat jika ia juga sangat mencintai Abizar dan ia juga pasti memikirkan masa depan bayinya," kata Warda.


"Aku tak mau tau, jika Abizar menginginkan Pernikahan poligami ini tetep berlangsung ia harus adil tak mementingkan Khanza, jangan jadikan kehilannya sebagai alasan," ucap Santi sebelum meninggalkan kamar Warda. 


Warda hanya menghela nafas berat dan menggeleng melihat besannya dan menghilang di balik pintu.


****


"Makanlah, jangan pikirkan mama, aku akan membawakan makanan ke kamar nya nanti," ucap Farah yang melihat Khanza menghentikan makannya.


"Iya mbak, maaf jika kedatangan Khanza mengganggu mamanya mbak."


"Nggak kok, mama punya masalah lain," ucap Farah.


Selesai makan malam, Abizar kembali ke ruang kerjanya sedang Khanza, Farah dan mama Warda memilih untuk berbincang-bincang di ruang tengah, tak lama kemudian Santi ikut bergabung dengan mereka sambil memakan buah apel di tangannya. 


Sebenarnya Santi masih lapar. Namun, rasa kesalnya mengalahkan rasa laparnya. Ia memilih memakan buah untuk mengganjal perutnya yang masih lapar.


"Mah, mau Farah siapkan makanan?" Tanya Farah saat Santi duduk di dekatnya.


"Ga usah, Mama sudah tak ingin makan."


"Santi, jangan bersikap kekanak-kanakan. Jika mereka saja sudah setuju dan mau mencoba saling mengerti, untuk apa kamu mempermasalahkannya," sahut Warda yang melihat Santi sejak tadi melihat sinis pada Khanza yang duduk di samping nya.


"Kalian berdua jangan munafik, sok-sok-an menerima dipoligami. Tak ada wanita di dunia ini yang rela berbagi cinta suaminya, kalian tak usah menutupi perasaan kalian. Kalian mengatakan demi anak? Demi rasa cinta pada suami, ingin membahagiankan suami. Apakah itu alasan kalian mempertahankan pernikahan ini? Mau sampai kapan kalian akan saling menyakiti satu sama lain."


"Mah, cukup. Mama benar, tak ada wanita yang benar-benar tulus dan menerima berbagi cinta suaminya, tapi jika dengan menghilangkan ego itu dan ikhlas bisa mendatangkan lebih banyak kebahagian, mengapa tidak kami ambil, Mah.  Tak ada kebahagiaan yang sempurna di dunia ini. Kebahagiaan Farah dan Mas Abi tak akan sempurna tanpa Khanza. Kebahagiaan Khanza dan bayinya kelak tak akan sempurna tanpa adanya sosok Mas Abi dalam kehidupan mereka. Di sini Farah lah Mah, yang tak sempurna, Farah sudah gagal menjadi seorang istri untuk mas Abi. jadi sudah cukup mama manyalahkan Khanza dalam hal ini," ucap Farah. "Mah, izinkan Farah bahagia berada bersama orang yang Farah cinta, Farah benar-benar ikhlas, Mah. Tolong jangan menyudutkan Khanza terus, semua itu hanya menambah rasa bersalah kami padanya. Mungkin Mama menganggap jika Farah yang jadi korban disini, tapi Mama salah Khanza lah yang korban dari ini semua kami yang telah memasukkan dalam hubungan ini," ucap Farah dengan nafas yang naik turun menahan isakannya, Farah yang tak bisa lagi menahan air matanya berdiri dan pergi ke kamarnya.


"Lihat apa yang kamu lakukan, kamu ingin menuntut kebahagiaan anakmu, tapi kamu sendiri yang melukainya," kesal Warda menyusul Farah ke kamarnya.

__ADS_1


Tinggallah Santi dan Khanza di ruangan itu.


"Mampus, kenapa mereka semua  meninggalkan ku," batin Khanza melihat mertuanya menyusul Farah.


"Lihat apa yang kamu lakukan, kamu itu sudah merusak rumah tangga anak saya," ucap Santi semakin kesal pada Khanza.


"Apa Tante tak mengerti apa yang mbak Farah katakan tadi, disini bukan aku yang salah, tapi kalian semua yang telah menjebakku dalam hubungan ini. Tante pikir aku mau menjadi orang ketiga, nggak Tante. Tak pernah terbayang di benakku ingin hidup berbagi seperti ini," ucap Khanza tak mau di salahkan.


"Dengan ya Khanza, walaupun kamu sedang mengandung anak Abizar, aku tak akan takut sama kamu," ucap Santi semakin emosi saat Khanza menentangnya.


"Aku juga ga berharap Tante takut sama aku, aku bukan hantu," gumam Khanza pelan melengos ingin pergi dari sana. Namun, apa yang di ucapkan Khanza dapat di dengar Santi.


"Mau kemana kamu," ucap Santi mencengangkan lengan Khanza saat berjalan melewatinya.


"Aku mau kekamar Tante, lepasin ini sakit." Meringis mencoba melapas Cengkraman Santi.


"Jaga ya mulut kamu, selama ini aku masih baik sama kamu, sekali lagi kamu berbicara seperti itu akan aku …," ucapan Santi terhenti saat melihat Abizar berjalan ke arahnya.


Dengan cepat ia melepas cengkramannya pada Khanza saat tatapan Abizar melihat ke lengan Khanza.


"Mama akan apa? Apa yang akan Mama lakukan pada Khanza?" Berjalan semakin mendekati mereka berdua.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Salam dariku Author m anha 💖


love you all 💕💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2