
Abizar yang merasa tak tahu harus berbuat apa memilih untuk kembali ke mobilnya, Ia hanya duduk di sana mulai mengingat segala apa yang terjadi selama ini di kehidupan rumah tangganya, dari dirinya yang begitu bahagia saat menikah wanita yang sangat dicintainya, bagaimana perasaannya saat ia dinyatakan tak akan menjadi seorang ayah saat Farah divonis tak bisa memberinya keturunan, bayangan jika ia tak akan pernah merasakan menjadi seorang ayah. Abizar juga kembali mengingat saat ia bertemu dengan Khanza untuk pertama kalinya dan membawanya ke dalam rumah tangganya. Mengingat air mata kedua istrinya yang jatuh Karena perbuatannya yang tak ia sengaja. Tak ada sedikitpun niat dihatinya menyakiti kedua.
"Apakah khanza begitu sakitnya hingga ia benar-benar berniat akan mengakhiri semuanya," batin Abizar.
Abizar teringat akan wajah kedua anaknya, Aziel yang semakin menggemaskan dan bayi mungilnya yang baru lahir kedunia ini.
"Apakah papa akan bisa berpisah dengan kalian," lirih Abizar memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Abizar kembali melihat jari telunjuknya, jari yang dipegang oleh anaknya semalaman, genggaman lembut bayi kecil itu masih terasa di disana.
"Papa sangat menyayangi kalian, tapi jika memang mama kalian tak bisa memaafkan Papa. Papa tak bisa berbuat apa-apa, papa akan mengalah demi kebaikan kalian, demi kebaikan mama kalian, papa sudah berusaha untuk adil, tapi sepertinya papa masih gagal," ucap Abizar bersandar sambil menutup matanya, bayangan wajah khanza, Aziel dan bayi kecilnya terus berputar menghiasi pikirannya, ia harus merelakan mereka tinggal jauh dengannya.
Cahaya lampu mobil yang baru datang menyilaukannya, dan ia bisa melihat jika orang yang baru datang itu adalah Daniel.
Abizar langsung keluar dari mobil dan menghampiri Daniel.
"Daniel Aku ingin bicara denganmu," ucap Abizar menghampiri Daniel yang baru keluar dari mobilnya.
Daniel melihat penampilan Abizar yang begitu kacau dan Daniel yakin Abizar pasti belum sempat untuk makan karena masalah yang dihadapinya.
"Baiklah, ikut denganku biar aku yang cari tempat untuk kita bicara," ucap Daniel kembali masuk ke dalam mobilnya, tadinya Abizar ingin mereka berbicara di area parkiran itu saja. Namun, melihat Daniel yang sudah masuk ke mobilnya akhirnya ia pun ikut masuk ke dalam mobil Daniel dan mereka pun pergi meninggalkan area parkiran rumah sakit.
Tak ada pembicaraan di antara mereka di dalam mobil, sehingga mobil Daniel berhenti di parkiran sebuah restoran.
"Masuklah, kita bicara sambil makan. Aku juga belum makan, aku yakin kau pun sama, iya 'kan?" tanya Daniel yang dijawab anggukan oleh Abizar.
Terlalu banyak masalah dan beban yang dipikirkannya membuat ia lupa jika sejak kemarin dia belum makan apapun.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Daniel.
"Aku meminta sebagai seorang Papa dari 2 orang anak, hentikan gugatan perceraian itu dan berhenti membujuk khanza untuk mengikuti keinginan mu untuk bercerai dengan ku. Aku tak akan menceraikannya sampai kapanpun," ucap Abizar menatap Daniel membuat Daniel tergelak mendengar ucapan Abizar.
__ADS_1
"Jangan menjadikan anak-anakmu sebagai alasan agar kau bisa mengikat dan menyakiti Khanza."
"Aku sangat mencintai Khanza, mungkin kalian menganggap aku menyakitinya. Aku melakukan semua ini agar keluarga kami lebih bahagia, hanya itu. Tak ada sedikitpun niat di hatiku untuk menyakitinya," ucap Abizar menggebrak meja. Membuat Daniel menghentikan tawanya.
"Walau kau tak berniat untuk menyakitinya. Namun, nyatanya Dia sangat terluka dengan tindakanmu. Khanza sangat kecewa padamu, sebenarnya aku iri padamu, khanza begitu mencintai dirimu hingga ia masih bertahan sampai saat ini dengan semua luka yang kau berikan, tapi sepertinya kali ini dia benar-benar ingin terlepas darimu dan demi anak-anakmu jangan menyulitkannya."
"Aku tak akan menyakitinya, jika ia memang ingin kembali ke kampung aku takkan melarangnya, jika ia ingin tinggal disana dengan anak-anak aku pun takkan melarangnya, tapi jangan lanjutkan gugatan cerai itu. Khanza tak akan mengajukannya jika kau tak memanas-manasinya."
"Apa maksudmu, kau siap berpisah dengan khanza, tapi tak ingin bercerai dengannya, apa seperti itu yang kau maksud? Apa itu tak egois?"
"Egois?"
"Ya! kau sadar, kau itu sangat egois. Jika seperti itu mana ada pria yang mau mendekatinya. Statusnya masih menjadi istrimu walau kalian berpisah," ucap Daniel dengan santainya. "Apa dengan memutuskan itu berarti kamu memilih Farah untuk berada disampingmu, Kau rela berpisah dengan Khanza dan kedua anakmu demi Farah. Apa itu pilihanmu?" tambah Daniel menatap penuh selidik.
Abizar menghentikan makannya,
"Aku sendiri yang akan mengantarkan Khanza kembali ke kampung, jadi kau jangan terlalu ikut campur masalah keluarga kami, urus urusanmu sendiri. Satu hal lagi, berhenti berharap pada istriku," kesal Abizar meletakkan sendok nya dengan kasar.
Daniel terdiam dan mencerna apa yang dimaksud oleh Abizar.
"Aku tidak memilih atau berpisah dengan siapapun mereka berdua adalah istriku dan akan selamanya menjadi istriku."
Daniel kembali tertawa mendengar ucapan Abizar. sungguh lucu menurutnya, walau di ambang kehancuran rumah tangganya dengan Khansa Ia masih mengatakan jika akan mempertahankan mereka berdua.
"Jika kau diberikan kesempatan untuk berbicara dengan khanza, tanyakan pada khanza apakah dia benar-benar ikhlas Berbagi cintanya dengan Farah atau tidak, cari tahu jawaban dari hatinya, sejelas-jelasnya bagaimana perasaannya dengan pernikahan kalian. Aku harap Khanza benar-benar mencintaimu hingga rela berkorban berbagi cintanya dengan Farah, bertahan hingga memberimu 2 orang anak."
Perhatian mereka berdua teralihkan saat Mr Alvin juga berkunjung ke restoran itu, mereka berdua memperhatikan Mr Alvin dari mulai masuk hingga duduk disalah satu kursi yang telah disiapkan oleh mereka.
"Apa kau punya informasi tentang Mr. Alvin? Kenapa dia selalu berada membayang-bayangi Khanza?" tanya Daniel pada Abizar.
"Aku belum tahu pasti, aku masih memastikan terlebih dahulu informasi yang aku dapatkan," ucap Abizar.
__ADS_1
"Informasi apa?" tanya Daniel melihat Abizar menunggu, jawabannya.
"Sudahlah, sebaiknya kau makan sebelum makananmu dingin," ucap Abizar mengalihkan pembicaraan mereka.
"Abizar makan dengan lahap, ia sudah mengambil keputusan dan memantapkan hatinya akan mengijinkan Khanza kembali ke kampungnya untuk menenangkan diri, ia akan menunggu sampai kapanpun Khanza bisa memaafkannya dan ia yakin hari itu akan datang.
Mereka makan dan terus memperhatikan Mr Alvin yang juga sedang makan di hadapan mereka.
Mr. Alvin orang yang sangat sibuk, tapi ia terlihat santai dan sudah beberapa hari di negara ini.
Malam hari Wardah dan Farah pamitan kepada mereka, ia minta izin untuk membawa pulang Aziel. Namun, Khanza menolak.
"Maaf Mah, bukanya aku tak ingin mengizinkan Aziel pergi dengan Mama, tapi aku benar-benar ingin bersama dengan Putraku, jika Mama ingin menemuinya Mama bisa menemuinya di lagi besok," ucap Khanza menolak keinginan Warda secara halus.
Warda ingin kembali berbicara. Namun, Farah lebih dulu berbicara.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Jika memang kamu ingin bersama dengan putramu kami akan menemuinya lagi besok," ucap Farah yang hanya dibalas senyuman oleh Khanza.
Warda terlihat masih tak rela meninggalkan kedua cucunya.
"Aku mohon, Mah," ucap Farah berbicara pada mertuanya tanpa mengeluarkan suara. Warda yang sudah mulai mengerti kesalahannya akhirnya menurut, ia menunduk dan mencium Aziel yang duduk di dekat Khanza, begitu juga dengan bayi kecil yang ada di gendongan Khanza.
"Nenek pulang dulu, ya," pamit Warda menatap lekat wajah keduanya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam kenal dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Mampir juga ya kak ke karya teman ku 🙏