
"Ya ampun Kak, wajah Kakak ini kenapa?" tanya Khanza mengambil kompresan di tangan Abizar dan mulai mengompres pipi suaminya yang lebam.
"Nggak, nggak apa-apa, tadi aku jatuh," ucapnya.
"Aku memang gak sepintar Kakak, tapi nggak sebodoh itu juga yang percaya jika ini luka karena jatuh. Kakak berantem kan sama Kak Daniel?"
"Daniel itu benar-benar keterlaluan, mulutnya benar-benar nggak bisa dijaga. Jika Daniel mengatakan sesuatu padamu tentang hubungan pernikahan kita, kau jangan menanggapinya." Abizar kembali kesal mengingat kata-kata Daniel.
"Iya, Kak. Aku ngerti kok, nggak akan lagi bicara dengan kak Daniel," jawab
Khanza masih terus mengompres pipi suaminya dengan hati-hati.
Abizar menggenggam tangan Khanza,
"Kamu janji ya sama kakak, apapun yang terjadi kedepannya jangan pernah ninggalinku. Kamu tahu 'kan kakak sangat mencintaimu, sangat menyayangi kalian berdua. Kau dan Aziel adalah bagian dari hidupku sekarang," ucap Abizar.
"Iya, Kak. Selamanya aku nggak akan pernah ninggalin kakak, Khanza juga sayang dan cinta sama kakak. Khanza juga sudah merasa nyaman dengan hubungan keluarga kita, Mbak Farah orang yang sangat baik, Khanza sudah tak masalah lagi jika harus berbagi kebahagiaan dengannya," ucap Khanza tersenyum.
Setelah merasa jauh lebih baik Abizar dan Khanza pun masuk ikut bergabung dengan mereka, khanza sengaja memberikan plester pada tulang pipi Abizar yang terluka.
Farah melihat Abizar dengan luka di pipinya, "Mas jangan menanggapi Daniel, dia itu sengaja memancing emosi kamu, dia ingin menjelek-jelekkan kamu di hadapan mereka semua, Khususnya dia akan berusaha menjelek-jelekkan kamu di hadapan semua keluarga Khanza. Kau tak boleh masuk dalam perangkapnya" ucap Farah.
"Kau benar, sepertinya Daniel benar-benar terang-terangan mendekati khanza." kesal Abizar.
"Apapun yang ini Mas lakukan sebaiknya lakukan dengan hati-hati, jangan sampai terluka. Sebaiknya lakukanlah dengan cara yang lain tanpa harus melakukan kekerasan."
"Hmmm," Abizar hanya mengangguk.
Mereka semua menikmati jamuan, anak-anak panti asuhan sudah mulai diantar ke panti masing-masing.
Malam ini semua menginap di rumah baru Khanza, semua keluarga Khanza dari kampung. Farah dan Warda sudah kembali ke rumah mereka, sedangkan Abizar juga ikut menginap di rumah baru.
Abizar bermain bersama dengan putranya dan juga kakek.
Aziel yang sudah kelelahan pun meminta untuk tidur, Abizar yang melihat Khanza masih bercengkrama dengan keluarganya membawa Aziel ke kamar utama dan menidurkannya.
Tak lama kemudian Khanza juga masuk ke kamar dan ikut bergabung dengan mereka,
"Terima kasih ya, Kak. Hari ini aku sangat bahagia, bisa pindah ke rumah ini. Ke rumah kita bersama Ziel," ucap mengeratkan pelukannya di punggung suaminya, yang membelakanginya, Abizar sedang menidurkan Aziel.
Abizar terbalik dan membawa Khanza ke pelukannya.
__ADS_1
"Tidurlah," ucap Abizar yang juga merasa sangat mengantuk. Ia sangat lelah seharian ikut membantu. Mereka pun tidur.
****
Sementara itu di rumah lama, Farah dan ibu berada di kamar Aziel, mereka duduk di kasur dimana Aziel sering tidur. Mereka melihat barang-barang Aziel yang masih lengkap di sana. Farah sengaja membeli semua keperluan baru untuk Aziel yang akan di simpan di kamar barunya. Tak satupun barang Aziel dari kamar itu yang keluar.
"Kenapa sih, Khanza harus pindah." ucap Warda merasa ada sesuatu yang hilang. " Rumah kita terasa sepi, tak ada Aziel," ucap Warda mengusap bantal yang sering dipakai oleh cucunya.
"Kita merasa kehilangan Aziel karena ini baru malam pertama ia tidak tidur di sini, tidak bersama dengan kita. Farah yakin, jika kita sudah terbiasa Semua akan kembali seperti semula, lagian Aziel sesekali bisa kita bawa untuk menginap disini," ucap Farah menyemangati mertuanya. Namun, ia sendiri merasa sangat kehilangan sosok anak yang selama ini sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.
"Jika memang keadaan rumah tangga kalian akan baik-baik saja dengan pindahnya Khanza, Mama akan coba menahan keegoisan Mama," ucap Warda.
Mereka berdua sama-sama menguatkan hati, tak ada lagi tawa dan tangis Aziel di rumah mereka.
"Ya udah, Mama tidur dulu, ya." ucap Warda meninggalkan Farah yang masih betah di kamar Aziel.
Farah melihat ke semua sudut ruangan itu, ia bisa melihat bayangan Aziel di semua sudut, ia pun tersenyum lalu mengambil bantal kesayangan Aziel kemudian tidur sambil memeluknya.
******
Begitu juga dengan Aziel, jika Farah dan Warda merindukannya mereka akan mengambil dan membawa Aziel untuk menginap, bahkan Farah meminta pada Khanza jika Abizar tidur di rumahnya maka dia akan bawah Aziel bersama, begitupun sebaliknya, jika Abizar menginap di rumah lama, Aziel akan menginap di rumah Khanza.
Mereka sepakat untuk melakukan itu. Warda juga ikut ambil suara untuk menyetujuinya.
Semua kembali harmonis, tak ada lagi rasa sakit dan cemburu. Khanza dan Farah sudah terbiasa untuk berbagi. Berbagi Abizar dan Aziel. Namun, dalam hal ini Abizar yang merasa ada sesuatu yang kurang dalam hari-harinya.
Saat ia ke rumah Khanza, Aziel akan ke rumah Farah dan saat ia ke rumah Farah, Aziel akan ke rumah Khanza, begitu berulang-ulang sehingga ia merasa sangat kekurangan waktu untuk bersama dengan putranya. Ia hanya bersama dengan Aziel saat akhir pekan, saat mereka berkumpul bersama jika bukan Farah yang ke rumah Khanza maka Khanza yang akan mengunjungi rumah Farah. Barulah ia bisa bertemu dengan putranya.
Abizar bisa bermain dengan putranya hanya saat mereka bersama di akhir pekan, hanya seminggu sekali. Ia harus membagi waktu antara Khanza, Farah, dan pekerjaannya, belum lagi ia sekarang juga menghandle bisnis Farah.
Awalnya Abizar menerima semuanya, asal kedua istrinya bahagia ia akan rela berkorban, kehilangan waktu bersama dengan putranya.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, ia masih bisa mentolerir. Namun, kini sudah 1 tahun sudah ia menjalani hari-harinya, membagi waktunya, Ia semakin tersiksa, terlebih lagi Aziel semakin menggemaskan, tak jarang mereka hanya saling komunikasi melalui panggilan video.
Aziel kini sudah memasuki usia dua tahun.
saat ini ia sedang masa pertumbuhan, masa berkembang, masa-masa banyak ingin tau, ia bahkan sudah bisa protes mengapa papanya jarang menemuinya.
Hari ini Abizar mendapat giliran untuk menginap di rumah Khanza.
__ADS_1
Abizar baru pulang dari kantor, ia sangat lelah sehabis dari luar kota.
Khanza menyambut suaminya seperti biasa,
"Apa Aziel sudah pergi?" tanyanya saat Khanza membukakan pintu untuknya, mengambil jas serta tas kantornya.
"Iya, Kak. Mbak Farah baru saja menjemputnya," jawab Khanza.
Lagi dan lagi ia gagal bertemu dengan putranya. Abizar hanya bisa menghela nafas.
"Kakak mau mandi atau makan dulu?" tanya Khanza.
"Aku mandi dulu," ucap lemas.
Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar, Khanza menyiapkan air mandi untuk Abizar.
Saat Abizar mandi Khanza turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam.
Abizar masuk ke kamar putranya, ia hanya bisa melihat jejak Aziel di kamar itu, baju yang baru dipakai juga masih tergeletak di atas kasur.
Alizar mengambil baju Aziel dan menghirupnya, aroma Putranya masih menempel disana.
"Papa sangat ingin bermain denganmu," lirihnya.
Abizar menertawakan nasibnya, dia memiliki Putra yang sering datang ke rumahnya. Namun, ia sangat jarang bertemu. Mereka bagaikan dua kutub yang saling berlawanan, Iya harus menerima, inilah resiko yang harus diterimanya.
Abizar merapikan kamar Putranya yang berantakan, kemudian Ia turun ke bawah menemui Khanza untuk makan malam.
"Ohya, kak. Besok kita akan ke kebun binatang, mbak Farah sudah menyiapkan semuanya," ucap Khanza sambil menyendokkan nasi ke piring Abizar.
"Benarkah, itu pasti akan sangat menyenangkan," ucapnya sudah tak sabar bertemu dengan Putranya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1