Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Bala Bantuan


__ADS_3

Saat yang lainnya masih mencari di sekitaran Bandara, Abizar justru langsung memacu kendaraan yang menuju ke kantor Daniel setelah memutuskan panggilannya pada Farah.


"Jika memang kau ada dibalik semua ini aku takkan memaafkanmu, aku akan memberi perhitungan," gumam Abizar mencengkram erat setirnya.


Begitu sampai di kantor Daniel Abizar langsung masuk melewati resepsionis yang terus saja memanggilnya.


Abizar juga melewati sekertaris Daniel.


"Maaf Pak Anda ingin kemana, Anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya sekretaris Daniel yang menghalangi Abizar untuk masuk ke ruangan Daniel berhubung bosnya sedang mengadakan rapat dengan klien pentingnya dan sudah memberi pesan tak ingin diganggu.


"Aku ingin bertemu dengan Daniel," ucapnya.


"Maaf Pak, pak Daniel sedang rapat dan tak bisa diganggu, jika Bapak ingin bertemu dengan Pak Daniel silahkan menunggu," ucap sekretaris tersebut.


"Aku tak punya waktu untuk menunggu, aku ingin bertemu dengan Daniel sekarang juga," ucap Abizar terus mencoba ingin menemui Daniel di ruangannya. Sekertaris tersebut terus menghalanginya bahkan merentangkan kedua tangannya.


Tak lama kemudian dua satpam datang,


"Pak tolong bawa Bapak ini keluar dari sini, dia telah mengganggu ketenangan di ruangan ini," ucap sekertaris tersebut pada pak satpam yang baru datang.


Saat Abizar melewati resepsionis tadi, mereka langsung memanggil satpam saat melihat Abizar masuk dengan ekspresi marah.


"Maaf Pak, jangan paksa kami untuk melakukan kekerasan silakan bapak keluar."


"Aku ingin bertemu dengan Daniel, Abizar menepis tangan kedua satpam dan langsung menerobos masuk ke ruangan.


Daniel dan kedua rekan bisnisnya langsung melihat ke arah Abizar yang berteriak saat masuk.


"Maaf Pak, kami sudah berusaha menahannya. Namun Bapak ini …," satpam menghentikan penjelasannya saat melihat isyarat tangan Daniel yang memintanya untuk berhenti bicara.


Daniel terheran mengapa Abizar datang ke kantornya dengan raut wajah yang begitu marah dan penampilan yang berantakan.


Semenjak perkelahiannya beberapa tahun yang lalu Daniel tak pernah lagi ikut campur urusan rumah tangga mereka, lalu apa ini? Apa yang membuatnya datang ke kantorku. Pikir Daniel.


Semenjak peringatan Abizar, Daniel memutuskan untuk berhenti mendekati khanza. Daniel bisa melihat Khanza sudah bahagia dan terlebih lagi khanza sudah memiliki rumah sendiri. Daniel yakin dengan pindahnya ke rumah baru dan tak serumah dengan istri suaminya kemungkinan besar dia akan bahagia.


Daniel mengalah demi kebahagiaan wanita yang dicintainya.


"Maaf Pak. Apa bisa kita lanjutkan rapat kita di lain kesempatan," ucap Daniel pada kedua rekan bisnis yang sedang rapat dengannya.


Kedua rekan bisnis tersebut juga mengenal sosok Abizar dan ia pun setuju untuk membuat janji di lain waktu.

__ADS_1


"Terima kasih pengertian pak," ucap Daniel membungkuk hormat.


"Kami akan Buat janji di lain kesempatan," ucap klien tersebut kemudian membungkuk hormat kepada Daniel begitu juga dengan Abizar.


Walau Abizar diliputi kemarahan, ia tetap bersikap profesional, orang yang memberi hormat padanya adalah rekan bisnisnya juga membuat ia menekan keegoisannya tak membuat keributan sampai orang tersebut pergi.


Sekretaris Daniel langsung mempersilakan kedua rekan bisnis tersebut untuk keluar begitu pintu ditutup, Daniel berjalan menghampiri Abizar.


"Silahkan duduk, pasti ada hal penting yang membuatmu datang dan mengacaukan rapat ku hari ini," ucap Daniel lebih dulu duduk di sofa dengan gaya tengilnya.


"Katakan di mana Khanza," ucap Abizar dengan nada yang sedikit meninggi.


Daniel yang tadinya duduk langsung berdiri mendengar nama Khanza.


"Apa maksudmu dengan khanza?" tanya Daniel berbalik menatap tajam pada Abizar.


"Kau jangan berpura-pura, kau ada di balik semua ini 'kan, katakan di mana anak dan istriku," ucap Abizar tak kalah balik menatap tajam pada Daniel.


Daniel mengepal tangannya, ternyata keputusannya untuk mengalah itu salah, Khanza tak bahagia dengan Abizar.


"Jadi kau telah gagal dengan pernikahanmu dan kembali menyakiti Khanza," ucap Daniel dengan rahang yang mengeras.


"Katakan di mana kau menyembunyikan mereka, kau jangan main-main dengan ku Daniel," bentak Abizar.


"Tutup mulutmu," bentar Abizar yang sudah terbawa emosi.


Satpam yang berada di luar kembali masuk mendengar pertengkaran mereka..


"Bawa dia keluar, Jangan biarkan dia masuk ke perusahaan ku lagi," ucap Daniel menunjuk tegas pada Abizar.


Kedua satpam yang bertubuh besar langsung mengapit Abizar dan menyeretnya keluar.


Daniel katakan di mana Khanza, dia istriku jangan ikut campur urusan rumah tangga kami," Abizar terus berteriak. Namun, satpam terus menyeretnya keluar ruangan Daniel.


"Lepaskan aku, jangan menyentuhku aku bisa keluar sendiri," ucap Abizar menghempas tangan kedua satpam tersebut dan berjalan keluar dengan emosi yang meluap-luap.


"Jika bukan Daniel yang membantunya lalu Siapa yang membantu Khanza hingga aku kesulitan menemukannya bahkan setelah menggerakkan banyak orang," gerutu Abizar terus berjalan meninggalkan kantor Daniel.


Begitu sampai di mobil Abizar memukul-mukul setir mobilnya meluapkan kekesalannya.


"Khanza di mana kau. Di mana kau Khanzaaaa," teriak Abizar di dalam mobilnya.

__ADS_1


Sementara itu Daniel langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya Sama halnya dengan Abizar, ini juga langsung menggerakkan beberapa orang untuk Khanza.


"Aku harus bisa menemukannya lebih dulu dari Abizar, jika Khanza sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan Abizar itu berarti Abizar melakukan kesalahan yang besar. Kenapa dia tak melakukannya sejak dulu, kenapa ia menjadi wanita bodoh terus berada di sisi suaminya," Daniel dengan cepat mengambil jas dan kunci mobilnya.


Walau sudah meminta beberapa orang-orang yang mencarinya. Namun, Daniel tetap mencari sendiri dan tujuan pertamanya adalah Aqila. Ia menancap gasnya menuju kos-kosan Aqila dan juga terus menghubungi nomor Aqila. Namun nomornya tetap tak aktif.


Sementara itu di Apartemen.


Aqila minta ponsel nenek dan mengganti kartunya tak ingin itu menjadi jalan Abizar menemukan mereka, bisa saja ia melacak keberadaan mereka melalui sambungan telepon.


Begitu juga dengan nomor ponsel. Aqila tak berani lagi kembali, ia memutuskan untuk ikut bersama Khanza untuk saat ini.


"Khanza. Apa kau percaya pada Damar?" tanya Aqila.


"Iya, aku percaya padanya. Aku mengenal Damar. Walau kami sekarang sudah jarang bertemu aku tetap percaya pada Damar dia pria yang baik."


Semalam saat kakek dan nenek Khanza sampai, Khanza langsung menangis di pelukan kakek dan neneknya membuat Damar merasa kaget dan bertanya tanya apa yang terjadi.


Khanza langsung menangis dipelukan neneknya dan mengatakan jika Abizar orang jahat dan dia tidak ingin lagi bertemu dengannya.


Khanza bercerita banyak kepada neneknya, menceritakan apa yang belum diceritakannya ditelepon tanpa mempedulikan Damar yang ada bersamanya.


Khanza baru menyadari jika yang datang bukan hanya kakek, nenek dan Aqila, tapi juga ada Damar yang setia mendengarkan keluhannya. Namun, semua sudah terlanjur Damar sudah mendengar semuanya.


Damar sangat senang bisa melihat Khanza lagi. Damar menyembunyikan senyumnya saat mendengar Khanza bercerita panjang lebar pada nenek nya sambil berderai air mata.


Damar kembali teringat masa saat mereka masih duduk di bangku SMP sebelum khanza pindah ke kampung neneknya setelah kematian kedua orang tuanya.


Dulu Khanza juga akan bercerita padanya sambil berurai air mata saat ada yang mengganggunya.


Damar berjanji akan membantu mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa like, vote dan komennya πŸ™


Salam dariku Author M Anha πŸ’–


Terima kasih Yuli Yanti koinnyaπŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2