
Azriel membawa Mentari untuk berbulan madu ke luar kota tepatnya ke Bali, mereka menghabiskan waktu di sana. Azriel sebagai seorang suami setiap hari ia menghujani Mentari dengan cinta dan juga perhatiannya, membuat bukan madu mereka penuh kesan bahagia.
Hari ini adalah hari terakhir mereka di pulau yang indah itu. Azriel masih memberikan begitu banyak cinta untuknya. Hari ini tepat sudah 10 hari pernikahan mereka. Hari ini mereka harus pulang, Mentari juga sudah mengkhawatirkan tokonya, walau ia tak ada, toko kuenya tetap beroperasi. Mentari hanya mendapat kabar dari Erwin semua kegiatan mereka, ia mempercayakan semua masalah toko kepada Erwin.
Mentari melihat pemandangan yang sangat indah dari balik kaca jendela kamarnya, di atas tempat tidur dengan pandangan yang langsung tertuju pada laut lepas. Azriel yang masih betah menutup mata meminta Mentari untuk mengusap-ngusap rambutnya, kemudian ia pun kembali tidur di pangkuan sang istri, hingga tangan Mentari mengusap luka yang ada di kepala Azriel.
Ia sangat ingin bertanya apa yang terjadi dengan suaminya itu di malam pernikahan mereka. Namun, jika memang Azriel tak mau mengatakannya ia tak akan bertanya, mungkin memang hal itu tak untuk diketahuinya membuat ia pun hanya mengusap rambut sang suami, dan memberikan kecupan pada luka yang telah mengering itu.
Mentari sesekali menunduk untuk mengecup kening suaminya. Pandangan Mentari kembali tertuju pada lautan lepas, sebuah senyum terukir di bibirnya, kini ia tak sendiri lagi. Ada sosok pria yang sangat menyayanginya di sampingnya, dialah Azriel suaminya.
Setelah bulan madu selama 10 hari, Azriel pun kembali. Saat di bandara terlihat Aisyah sudah melambaikan tangan ke arah mereka, Mentari juga bisa melihat Dewa ikut menjemputnya bersama dengan Aisyah.
"Bagaimana menurutmu tentang Dewa?" tanya Mentari dengan senyum di wajahnya sambil melambai ke arah Aisyah dan Dewa.
"Dewa, maksudnya?" tanya Azriel menatap Mentari dengan tantapan penuh tanya dan curiga.
"Iya, aku lihat mereka semakin dekat belakangan ini," jawab Mentari menunjuk ke arah keduanya, di mana Dewa juga tersenyum dan sesekali melambaikan tangan kepada mereka dengan satu tangannya berada di saku, sementara Aisyah melambaikan kedua tangannya dan sesekali berteriak memanggil nama Mentari. Ia pun melompat-lompat layaknya seorang anak kecil.
Azriel juga ikut melihat ke arah adiknya, sebentar lagi adiknya itu akan lulus Sekolah Menengah alAtas. Namun, sifatnya masih kekanak-kanakan, lebih mirip anak SMP.
"Lihatlah dia, walau ia sebentar lagi akan duduk di bangku kuliah. Namun, tingkahnya masih seperti anak SMP," gumam Azriel melihat adiknya.
"Tapi bagaimana jika mereka benar-benar menjalin hubungan suatu saat nanti, apa kamu akan merestuinya?" tanya Mentari lagi. Dewa pernah mengatakan kepadanya jika ia nyaman bersama dengan Aisyah, menanyakan pendapatnya bagaimana menurutnya tentang Aisyah dan Mentari mengatakan Aisyah adalah anak yang sangat baik dan dia akan mendukung jika memang Dewa ingin menjalin hubungan dengan adik dari suaminya itu. Namun, Dewa masih merasa ragu di mana ia merasa Aisyah memang masih anak-anak, terlepas dari usianya yang sudah menginjak 17 usia, mereka juga terpaut 10 tahun membuat ada keraguan di hati Dewa untuk menganggap Aisyah lebih dari seorang adik, adik yang selalu merepotkannya jika Aisyah tiba-tiba menelpon dan mengajaknya untuk jalan. Saat ia ada rapat penting, ia akan ngambek jika Dewa mengatakan tidak untuk ajakannya, membuat Dewa terkadang membatalkan rapatnya hanya untuk menemani gadis kecil itu menonton film kesukaannya.
Mentari pun sampai pada adik iparnya itu, mereka pun saling berpelukan sementara Azriel langsung menjabat tangan Dewa begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Setelah berbincang sebentar, mereka pun berjalan meninggalkan bandara tersebut dengan Aisyah yang terus menanyakan apakah mereka membawa oleh-oleh untuknya.
Sesampainya di kediaman mereka, Khanza sudah membuat makanan untuk mereka. Ia juga mengundang Dewa untuk makan siang bersama, kini mereka sudah duduk di meja makan yang dipenuhi dengan makanan. Khanza pun meminta mereka untuk memulai makan siangnya.
Tanpa sadar Aisyah terus berbicara panjang lebar sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya, ia menceritakan semua hal seru yang terjadi di sekolahannya, membuat Dewa terus memperhatikannya, bukannya memperhatikan makanannya ia memperhatikan cara bicara yang menurutnya begitu lucu, sangat kekanak-kanakan membuat Dewa tanpa sadar tertawa kecil dibuatnya.
Apa yang dilakukan Dewa tadi diperhatikan oleh Azriel, ia bisa melihat tatapan pria itu pada adiknya. Ada kecemasan di hati Azriel, takut jika sampai Dewa menyakiti adiknya, ia tahu adiknya itu belum pernah mengenal pria lebih dari seorang teman. Ia juga baru menyadari jika selama ini adiknya itu terlalu dekat dengan Dewa.
'Sejauh mana hubungan mereka sebenarnya?' gumam Azriel.
****
Hari berlalu begitu cepat, walau Mentari sudah menjadi menantu kaya raya, ada Azriel yang bisa memberikannya uang berapapun yang ia butuhkan. Namun, Mentari tetap menjalankan bisnisnya dan semua itu tetap didukung oleh Azriel. Azriel tak membatasinya untuk melakukan kegiatannya apalagi di toko kuenya, bahkan setiap pagi Azriel yang akan mengantar Mentari ke toko kue tersebut sebelum ia ke kantor dan kembali akan menjemputnya di saat ia pulang kantor.
Selama ini Erwin dan ibunya tinggal di rumah kontrakan membuat mereka selalu menyisihkan uang gaji mereka untuk kontrakan mereka. Dengan Mentari memberikan rumah itu dan mereka tinggal di sana, mereka tak perlu memikirkan uang kontrakan lagi, mereka cukup merawat rumah itu, mereka cukup tinggal di sana tanpa membayar sampai kapan pun dan itu membuat Erwin sangat bahagia, uangnya akan bisa dikumpulkan untuk membuat rumah yang lebih baik lagi untuk ibunya dan istrinya kelak. Ia juga bisa menambah tabungan untuk melamar sang kekasih.
Mentari mempekerjakan seseorang untuk membantunya di toko tersebut dan tanpa Mentari ketahui, Erwin menjalin hubungan dengan karyawan baru tersebut. Mereka bahkan sudah berencana untuk menikah. Hanya tinggal menunggu Erwin untuk datang ke kediaman wanita itu, memintanya secara resmi pada keluarganya.
Mentari yang baru mengetahui hal itu sangat setuju, Mentari akan menanggung biaya pernikahan mereka nantinya jika Erwin sudah siap..
Erwin selama ini sangat membantu Mentari menjalankan bisnisnya, selama ibunya meninggal dan dia juga ingin memberikan yang terbaik untuk karyawannya itu.
Mentari yang masih sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba merasa pusing dan ia hampir saja terjatuh, beruntung ibu Erwin dengan cepat memeganginya.
"Metari, kamu tak apa-apa?" tanyanya begitu sudah membawa Mentari ke salah satu sofa yang ada di ruangan Mentari.
__ADS_1
"Iya, Bu. Aku nggak papa, sudah beberapa hari ini kepalaku terus saja pusing, apa aku terlalu kelelahan ya, Bu?" ucap Mentari sambil memijat pelipisnya.
"Apa kamu tidak sedang mengandung?" tanya ibu Erwin membuat Dania terkejut, ia langsung mengingat kapan tanggal terakhir ia mendapatkan tamu bulanannya dan seharusnya ia sudah mendapatkannya dua atau tiga minggu yang lalu, mengapa ia baru mengingatnya.
"Bu, mungkin aku?" ucap Mentari yang langsung mengusap perutnya.
"Coba periksakan dulu dan jika memang kamu sedang hamil kamu tak usah datang ke toko ini dulu, semua biar serahkan pada Erwin. Ibu yang akan mengawasinya, ibu pastikan Erwin akan melaporkan semua kegiatan di toko ini padamu, Nak. Jaga bayimu baik-baik jika memang kamu sedang hamil," ucap ibu Erwin, sebuah senyum terlihat di bibir Mentari, ada harapan jika ia benar-benar hamil. Namun, sampai ia mengetahui jika dirinya benar hamil atau tidak ia akan merahasiakannya dulu dari Azriel.
"Ya sudah, kamu istirahat lah. Ibu yang akan mengerjakan semuanya bersama dengan yang lainnya," ucap ibu Erwin kemudian meninggalkan Mentari yang memutuskan untuk beristirahat di ruangan itu, walau Mentari berbaring di sofa tersebut. Namun, pikirannya terus melayang, apakah dia benar-benar hamil.
Mentari memanggil Shinta kekasih Erwin, dan memintanya mengantarnya untuk ke apotek, tadinya ia ingin meminta Shinta membelinya. Namun, ia merasa tak enak meminta seorang gadis membelikan alat tespek untuknya, Shinta yang kebetulan pandai membawa mobil mengiyakan untuk mengantar Mentari ke apotik.
Walaupun Azriel yang mengantar jemput Mentari. Namun, tetap saja ada sebuah mobil yang terparkir di garasi toko tersebut, mobil itu diperlukan jika Mentari ingin pergi ke suatu tempat sebelum dirinya datang dan saat ini mobil itu setelah sekian lama terparkir di sana akhirnya dibutuhkan.
Shinta pun mengeluarkan mobil tersebut dan langsung mengantar Mentari ke apotek, setelah membeli beberapa macam tespek Mentari pun langsung meminta kembali Shinta untuk mengantarnya pulang dan meminta Shinta membantunya untuk melakukan tespek tersebut.
Mentari menatap alat tespek di tangannya ia bersiap untuk mencelupkan alat tespek tersebut ke dalam urine yang sudah disiapkannya. Namun, ia masih takut bagaimana jika hasilnya tak sesuai.
"Ada apa, Bu? Ayo dicelupkan saja, nanti kita tinggal tunggu beberapa menit dan melihat hasilnya. Apakah Ibu hamil atau tidak," ucap Shinta yang semangat ingin melihat hasilnya. Namun, Mentari masih merasa ragu untuk mencelupkan hasil tespek tersebut, ia takut bagaimana jika hasilnya mengecewakannya, bagaimana jika dia tak hamil.
Shinta yang gemes, ingin rasanya mengambil alat tespek itu dan mencelupkannya. Namun, itu tak mungkin dilakukannya.
"Baiklah, apapun hasilnya tak masalah aku hamil atau tidak itu pasti sudah diatur oleh sang pencipta," ucap Mentari lagi menggenggam alat tespek di tangannya. Ia pun mencelupkan alat tespek itu, bukan hanya satu. Namun, langsung mencelupkan tiga alat tespek dengan jenis yang berbeda, kemudian setelahnya ia pun menunggu hasilnya dengan tak sabar.
Keduanya menunggu hasil yang akan diberikan tespek itu pada mereka. Apakah hanya tetap memiliki satu garis atau memberikan kejutan kepada mereka, memberikan kebahagiaan kepada mereka dengan adanya garis lain yang muncul di sana, mereka berharap ada dua garis yang muncul. Dua garis yang menandakan kabar baik jika ada janin yang sedang tumbuh di rahim Mentari.
__ADS_1