
Malam hari di kediaman Abizar seperti biasa anak-anak akan kembali tidur bersama mereka. Sudah beberapa pekan anak-anak tak mau pisah dengan mereka membuat Abizar sangat frustasi. Tidur di samping Khazan, tapi tak bisa menyentuhnya.
Abizar yang sehabis dari ruang kerjanya masuk ke kamar dan melihat 3 orang yang disayanginya sudah tertidur pulas, dengan perlahan ia memindahkan Aziel dan Aisyah ke kamar sebelah yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Dengan perlahan ia masuk ke dalam selimut dan memeluk Khazan dan memainkan sesuatu di dalam sana.
Khanza merasakan sentuhan terbangun dan berbalik menatap Abizar.
"Boleh ya?" izinnya dengan wajah memelas.
"Anak-anak?"
"Aku sudah memindahkan mereka."
Khanza mengangguk sebagai jawaban dari permintaan Abizar. Abizar yang sudah sangat lama tak menyentuh Khanza sangat bahagia mendapat izin dari khanza dan tak membuang waktu lagi.
Malam itu menjadi malam yang bahagia untuk mereka Setelah beberapa lama tak pernah kembali meraih penyatuan cinta mereka.
Abizar benar-benar menikmati apa yang diinginkannya, melakukannya dengan wanita yang sangat dicintainya dan sudah sangat lama dirindukannya ia benar-benar merasa sangat puas dengan pelepasannya(π)
Khanza tak kalah bahagianya, jujur ya juga . merindukan belaian dari suaminya, rasa cinta yang selama ini dipendamnya kini dikeluarkanlah sudah membuat kebahagiaan malam itu menjadi kebahagiaan yang sangat membekas Di hati Khanza dan Abizar.
Mereka tertidur masih dengan posisi saling memeluk dengan tanpa menggunakan sehelai kain pun, saling menghangatkan Setelah sekian lama tak bertemu.
Saat sedang tertidur pulas Abizar merasa sesuatu yang terus saja mengganggu tidurnya, matanya membulat sempurna saat mendengar suara Aziel memanggil mereka. Asal suara begitu dekat.
Khanza dan Abizar terbaru, mereka saling tatap kemudian melihat ke asal Sember suara.
Abizar menelan ludahnya dengan bersusah payah, saat melihat Aziel Sudah ada di bawah mereka menatapnya dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
sambil melihat ke dua tangannya ke dada.
"Kenapa ziel tidur di kamar Aisyah?" tunjuk Aziel pada kamar Aisyah dimana tadi Abizar menidurkan mereka berdua.
Abizar yang gugup tak tahu harus menjawab apa Khazan langsung menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya, membiarkan Abizar yang berurusan dengan Putranya.
"Ya sudah, kalau Ziel nggak mau tidur di kamar Aisyah Azriel tidur di kamar sendiri ya, masa sih di kalah sama adek. Adek aja tidur di kamarnya sendiri!" ucap Abizar memutar otaknya.
Aziel kemudian melihat kearah kamar adiknya, ia berfikir sejenak.
kemudian Ia pun turun dari tempat tidur dan menuju ke arah kamarnya sendiri, membuat Abizar bisa bernafas lega sepertinya anaknya itu sekarang setuju untuk tidur di kamarnya sendiri.
Khanza menatap Aziel yang sudah hilang di balik pintu kamarnya dan melihat ke arah Abizar yang menarik turunkan Alisnya, meresa bangga idenya berhasil.
Abizar hanya senyum canggung melihat tatapan tak percaya dari Khanza.
Tak lama kemudian Aisyah terbangun dan menangis, Khanza ingin bangun tapi Abizar mencegahnya.
Khanza memang merasa sangat kelelahan ia kembali membaringkan tubuhnya yang terasa remuk karena ulah suaminya.
Abizar mengecek ke kamar Aisyah sambil membawa botol susu nya. Aisyah kembali tertidur begitu juga dan Azriel ya sudah kembali tertidur pulas.
Begitu kembali ke kamarnya ia juga melihat Khanza sudah tertidur. Abizar hanya memperbaiki selimut istrinya dan mengecup keningnya kemudian ia masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
πΏπΏπΏπΏπΏ
Di negeri lain, Farah justru menangis tersedu-sedu di kamar mandi saat melihat benda pipi yang ada di tangannya.
Dev yang khawatir mendengar suara menangis Farah dengan cepat menghampirinya. Mengetuk pintu kamar mandi berulang-ulang.
__ADS_1
"Farah, buka pintunya," ucap Dev saat mencoba membuka pintu kamar mandi tapi sepertinya Farah menguncinya dari dalam.
"Farah buka pintunya !" teriak Dev semakin khawatir.
Farah kemudian berdiri dengan perlahan, Ia membuka kunci dan memutar gagang pintu.
Dev yang mendengar suara kunci di buka dan melihat gagang pintu yang perlahan terputar nunggu dengan sabar. Pintu kamar mandi terbuka dan melihat wajah sembab istrinya.
"Farah, Ada apa?" tanyanya menghapus airmata Farah yang terus saja menetes.
Dengan tangan gemetar Farah memberikan kan sesuatu pada Dev.
"Ini?" tanya Dev menerima apa yang diberikan Farah.
Farah yang sudah menagis sesegukan tak bisa menjawab pertanyaan Dev, ia hanya bisa mengangguk melihat pada Dev.
Dev kembali melihat benda itu. Benda yang begitu kecil, tapi mampu membuat Farah menagis terseduh-Seduh.
Ya, itu adalah alat tespek dan Dev tau arti dari garis dua yang ada di Alat tespek tersebut.
Saat melihat garis 2 yang tertera di sana yang berarti pemiliknya sedang hamil.
Dev tak percaya dengan apa yang dilihatnya ia kemudian melihat kearah Farah, "Kamu hamil," tanyanya tak percaya dengan mata yang berkaca-kaca, karena saat Dev melamar Farah. Farah sudah mengatakan jika ia tak bisa memiliki anak dan Dev tak masalah dan setuju karena ia juga sudah memiliki seorang putri. Dev tak mempermasalahkan kekurangan Farah.
"Kamu beneran hamil?" tanya Dev lagi Masih tak percaya.
"Iya Dev, aku hamil aku. Aku bener-bener hamil," tangis Farah pecah, Dev membawa istrinya itu kedalam dekapannya. "Aku tak percaya semua ini, katakan padaku jika semua ini bukan mimpi, Dev!" ucap Farah dengan susah iya mengeluarkan suaranya.
"Iya, Sayang. Ini bukan mimpi, Kamu benar-benar hamil sebentar lagi kita akan memiliki anak. Kamu akan menjadi seorang ibu dari anak yang lahir dari rahim kamu sendiri," ucap Dev memeluk Farah dengan erat membuat Farah semakin terisak ia benar-benar tak menyangka jika ia sedang mengandung, ada benih yang tumbuh di dalam rahimnya.
__ADS_1
π€π€π€π€π€π€π€