Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Malam hari Farah menghampiri Abizar yang sedang bermain di balkon kamar bersama dengan Aziel Putra kesayangannya Khanza dan Warda juga ada di sana bersamanya.


"Mas, mama baru saja menelpon, dia ingin kita pulang secepatnya," ucap Farah yang baru saja mendapat telepon dari Santi, mamanya.


"Kamu juga sih, Abi. Bisa-bisanya kamu melupakan mertuamu di sana, kalau mama jadi dia Mama juga pasti akan marah padamu," ucap Warda menyalahkan Abizar. Ia ingin tertawa, tapi tak enak pada Farah. Warda tak membayangkan bagaimana reaksi Santi yang tau jika menantunya meninggalkan.


"Baiklah kita pamit sama kakek, kita pulang besok pagi. Aku juga ada pekerjaan," ucap Abizar.


"Biar mama aja yang bicara sama mereka, kalian bereskan saja barang-barang kalian," ucap Warda beranjak dari duduknya keluar kamar ia ingin menemui nenek.


Abizar masih berbaring sambil mendudukkan Aziel di perutnya dengan Khanza yang duduk di dekatnya, menjadikan paha Khanza sebagai bantalannya. Mereka bermain bersama Aziel.


Parah juga masuk ke kamar dan mulai membereskan barang-barangnya.


"Kamu nggak apa-apa kan, kita pulang besok."


"Iya nggak apa-apa Kak," jawab Khanza yang sesekali mengusap rambut Abizar, memijat pelan.


"Khanza, sebaiknya kamu ajak kakek dan nenek untuk ikut pulang, sekalian beritahu nenek jika Minggu depan kalian akan pindah ke rumah barumu." ucap Farah yang kembali menghampiri mereka.


"Jadi pindahannya Minggu depan ya, Mbak?" tanya Khanza berbinar senang.


"Iya, Mbak sudah mengatur semuanya, kamu bisa memberitahu keluarga besarmu, Siapa tahu saja kan mereka ingin menghadiri pindahan menanti." Tambah Farah.


"Ya udah, aku tanya mereka dulu ya, mumpung mereka semua masih ada di bawah," ucap Khanza dengan cepat berlari turun ke bawah, dia bahkan hampir terjatuh saat tersandung sendalnya sendiri.


"Ziel, lihat mama kamu ceroboh sekali, dia," ucap Abizar pada Aziel yang dijawab tawa cekikikan oleh putranya.


Farah kembali masuk membereskan barang-barangnya, Abizar tetap bermain di balkon bersama putra yang sangat merindukannya.


Warda sudah mengutarakan niatnya untuk pulang besok pagi kepada mereka semua.


Khanza menghampiri mereka semua dan ikut duduk di samping nenek.


"Kamu jadi pulang besok pagi" tanya nenek.


"Iya Nek. Nenek ikut ya, minggu depan Khanza ingin pindah ke rumah baru Khanza," ucap Khanza memohon.


"Kamu pindahannya minggu depan?" tanya nenek yang memang sudah tahu jika Khanza ada niat untuk pindah rumah. Memiliki rumah sendiri agar suaminya bisa lebih mudah membagi waktu.

__ADS_1


Itu juga memang diusulkan oleh nenek.


"Iya, Nek. Nenek ikut ya sama kakek," ucap Khanza masang wajah paling imutnya memohon pada nenek.


"Tentu saja nenek akan datang, nenek bicara dulu dengan kakek semoga kakek setuju untuk ikut kalian."


"Maaf, bude ga bisa membantu kepindahan mu" ucap Bude yang juga duduk di samping nenek.


"Nggak ada yang perlu di beresin lagi kok, Bude. Semuanya sudah bereskan , Mbak Farah sudah mengatur semuanya, kita tinggal pindah saja. Bude juga datang, ya," mohon Khanza.


"Iya, Bude diusahakan akan datang, tapi mungkin sehari atau dua hari sebelum kepindahan mu. kalau untuk sekarang Bude nggak bisa ikut, kamu tahu sendiri kan adik-adik kamu harus sekolah.


"Iya Bude, tapi Khanza sangat mengharapkan bude bisa datang Minggu depan."


Mereka semua saling kompak akan menghadiri acara pindahan rumah Khanza, mereka mengatur waktu Kapan mereka akan pergi bersama-sama.


Khanza sangat senang semua keluarga besarnya berencana akan datang. Masalah biaya Khanza yang akan menanggung semua, mereka hanya menyediakan waktu untuk datang.


Setelah makan malam mereka semua pulang ke rumah masing-masing yang lain juga sudah kembali ke kamarnya.


Kakek masih duduk di teras, nenek menghampiri kakek.


"Apa Khanza akan pisah rumah dengan istri pertama suami nya?"


"Iya, itu juga nenek yang menyarankannya. Cucu kita sudah memutuskan untuk terus menjalani pernikahannya, kita sudah lihat sendiri cucu kita sudah bahagia, walaupun keadaan pernikahannya seperti itu."


Kakek mengangguk, selama ini kakek memang terbebani dengan memikirkan kehidupan rumah tangga cucunya. Namun, setelah melihat langsung bagaimana keharmonisan mereka, kakek sudah lebih tenang dan sudah memaafkan Abizar. Hanya doa yang bisa Kakek berikan, semoga cucu dan cicitnya bahagia.


"Baiklah, kita ikut mereka," ucap kakek.


Nenek bernafas lega mendengar ucapan kakek," Besok pagi kita akan ikut dengan mereka, nenek siapkan dulu pakai yang akan kita bawah."


Nenek masuk dan keluar lah Abizar menghampiri kakek.


Abizar duduk dan diam, ia tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.


"Kakek tahu Kau pasti sangat sulit menjalani poligami dan bersikap adil kepada kedua istrimu.Tapi kakek mohon padamu jagalah Khanza, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kau. Kakek dan nenek entah sampai kapan akan menemaninya, jagalah Ziel dengan baik," ucap kakek tanpa melihat Abizar.


"Iya, Kek. Aku pasti akan menjaga mereka berdua."

__ADS_1


"Bukan hanya menjaga fisiknya saja, tapi jagalah hati cucuku, Khanza masih sangat labil, pikirannya tak seperti Farah istri pertama mu," ucap kakek. Selama ini kakek hanya diam, tapi ia mengawasi mereka semua, kakek bisa melihat perbedaan yang sangat jauh antara Farah dan Khanza. Farah jauh lebih dewasa di banding cucunya.


Abizar hanya bisa mengangguk, Ia juga tahu Seperti apa sosok istri mudanya itu.


"Aku akan berusaha bersikap adil dan menjaga hati keduanya, Kek."


Pagi hari semua sudah bersiap untuk berangkat, kakek dan nenek juga ikut bersama dengan mereka.


Ponsel Farah berdering,


"Iya, Mah. Ada apa?" tanya Farah saat mengangkat panggilan telepon dari mamanya. Dari semalam Santi terus memastikan jika hari ini mereka jadi pulang dan tak menundanya lagi.


"Kalian kapan pulangnya?" tanya Santi.


"Ini juga udah siap-siap, Mah," jawab Farah.


"Mama tunggu di rumah," Santi mematikan panggilannya.


Farah hanya melihat ponselnya dan menggeleng.


Santi membanting ponselnya ke kasur, melipat tangannya ke dada, "Enak saja ya kalian bersenang-senang di sana sedangkan membuatku sendiri di sini, awas kamu Abizar hanya karena Khanza kau meninggalkanku di sana, apa sepenting itukah istrimu itu sekarang," geramnya.


Saat mereka akan pulang banyak warga yang mendatangi rumah kakek, semua mendoakan kebahagiaan Abizar dan berterima kasih karena telah memberi banyak kebahagiaan bagi mereka.


Sebelum pulang Abizar kembali memberikan sembako untuk warga di sana, ia sudah meminta Pak Hendra untuk mengaturnya.


Semua warga melambaikan tangan saat mobil yang membawa Abizar dan keluarga mulai menjauh meninggalkan halaman kakek.


Khanza menatap suaminya dan merasa sangat senang. Berkat kehadiran Abizar keluarganya, khususnya kakek yang dulu bukanlah siapa-siapa kini dihormati di kampungnya, bukan hanya di kampungnya, tapi juga di kampung sebelah nama kakek dikenali karena memiliki menantu yang dermawan.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Makasih kak 🙏


Jangan lupa like, vote


dan komennya 🙏


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2