Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya

Berbagi Cinta : Mencintai Diriku Dan Dirinya
Season 2 : bab 39


__ADS_3

Aisyah terus memperhatikan Dewa, ia sangat yakin jika pria yang ada di depannya adalah pria yang sama yang menyelamatkannya semalam, Aisyah ingin menegur. Namun, ia tak berani membuat ia pun hanya menundukkan pandangannya saat Dewa juga melihat ke arahnya, ia hanya mendengarkan Mentari yang saling sapa dengan pria tersebut. Aisyah bisa mendengar jika sepertinya mereka cukup akrab.


"Oh ya, kenalkan ini Aisyah adiknya Azriel, hari ini dia ikut. Dia lagi nggak sekolah," ucap Mentari memperkenalkan Dewa dan juga Aisyah.


"Hai, aku Dewa," ucap Dewa mengulurkan tangannya, membuat Aisyah pun membalas uluran tangan Dewa.


"Aisyah," ucap Aisyah menyebutkan namanya masih dengan malu-malu, ada rasa ingin berterima kasih pada Dewa tentang apa yang dilakukan Dewa semalam. Namun, ia malu dan juga takut, ia tak ingin sampai apa yang dialami semalam diketahui oleh siapapun termasuk Mentari. Karena ia yakin jika Mentari tahu apa yang dialaminya semalam, semua itu akan sampai pada kakaknya. Jika sudah sampai pada kakaknya, pasti kabar itu akan sampai ke ayah dan ibunya.


"Mentari, boleh kemari sebentar," panggil seseorang yang tadi diberikan kue oleh Mentari, sepertinya ada yang tertinggal.


"Sebentar ya," ucap Mentari pada Dewa dan juga Aisyah kemudian ia pun berjalan cepat menuju ke orang yang memanggilnya dan ternyata, orang itu ingin kembali membeli beberapa box kue untuk perusahaannya dan juga untuk acara ulang tahun putrinya. Mentari kembali masuk dan memperlihatkan menu tambahan mereka, ada beberapa kue yang juga khusus acara ulang tahun dan dengan harga berpariasi.


"Kamu yang semalam kan?" Tanya Dewa menatap ke arah Aisyah, membuat Aisyah pun mengangguk cepat.


"Iya, aku pikir aku salah mengenalmu, ternyata memang Anda yang menolongku semalam. Terima kasih ya, Kak, eh Pak. Jika Anda tak ada semalam entahlah apa yang terjadi padaku dan maaf semalam aku langsung pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Anda" ucap Aisyah, ia merasa bersyukur bisa bertemu lagi dan mengucapkan rasa terima kasihnya pada orang yang ternyata bernama Dewa.


"Iya, sama-sama. Tapi, panggil aku kak Dewa saja biar kita lebih akrab. Oh ya, apa yang kamu lakukan sendiri di tempat itu? Di sana itu adalah tempat berbahaya dan kamu masih sekolah kan?" tanya Dewa melihat penampilan Aisya, membuat Aisyah pun mengangguk.


"Aku ikut dengan temanku, ia masuk ke dalam klub malam itu dan aku menunggu diluar. Namun, ternyata orang-orang yang semalam itu menarikku sampai ke sana, aku sangat takut bahkan aku berpikir akan dilecehkan oleh mereka semua. Jika tak ada Kakak pasti aku akan memilih mengakhiri hidupku jika aku benar-benar dilecehkan oleh mereka bertiga," ucap Aisyah berkaca-kaca dan bergidik. Membayangkannya saja ia sudah kesal, takut dan jijik. Apalagi jika sampai ia mengalaminya.


"Anggap saja aku dikirim untuk menyelamatkanmu, ya sudah jadikan itu pelajaran. Mulau sekarang jangan sekali-kali ke tempat seperti itu lagi, tempat itu adalah tempat-tempat yang berbahaya, orang-orang semalam memang orang-orang yang jahat dan terlebih lagi mereka mabuk. Jadi, mereka akan melakukan apa saja agar bisa memuaskan apa yang mereka inginkan, termasuk mencelakaimu," ucap Dewa dengan senyuman di wajahnya, membuat wajah tampannya semakain tampan dan.


Semalam Dewa ada janji dengan salah satu temannya di klub malam tersebut, baru saja Dewa keluar, ia melihat dan mendengar Aisyah yang berteriak minta tolong, awalnya ia mengabaikannya. Namun, saat melihat Aisyah menggunakan hijab ia yakin jika Aisyah adalah orang yang baik dan memang membutuhkan pertolongannya, membuat Dawa pun memilih untuk mengikuti mereka.


"Oh ya, Kak. Aku lihat Kakak sangat dekat dengan Mentari ya? Aku mohon jangan beritahu hal semalam pada siapapun ya. Aku tak mau sampai hal semalam membuat keluargaku cemas dan memperpanjang masalah ini. Aku janji, aku takkan mau pergi ke tempat-tempat seperti itu lagi, walaupun ada yqng memaksaku" ucap Aisyah membuat Dewa pun mengangguk mengerti, ia sangat paham apa yang diinginkan oleh gadis remaja itu.


"Iya, tentu saja," ucap Dewa membuat Aisyah langsung merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia menyodorkan pada Dewa.


"Boleh minta nomornya?" tanya Aisyah dan Dewa dengan senang hati memberikan nomornya pada Aisyah.

__ADS_1


"Terima kasih ya, Kak. Sekali lagi terima kasih. Nanti kapan-kapan aku akan membalas apa yang telah Kakak lakukan padaku," ucap Aisyah, ia berpikir dalam hati ingin memberikan sesuatu pada Dewa, mungkin sebuah ucapan terima kasih yang di sertai kado kecil.


"Nggak usah repot-repot, aku ikhlas kok."


"Nggak apa, Kak. Pipi Kakak masih sakit ya?" ucap Aisyah yang melihat tulang pipi Dewa yang masih lebam.


Dewa memegang pipinya, "Memang masih terasa sedikit sakit. Namun, tak apa-apa kok," jawabnya.


Mentari pun datang dan menghampiri mereka semua.


"Dewa, aku pergi dulu ya? Aku ingin membeli bahan-bahan kue untuk besok," ucap Mentari pada Dewa, membuat Dewa pun hanya mengangguk. Ia juga sedang ada rapat penting pagi ini.


"Aisyah, ayo kita pergi," ucap Mentari yang berjalan lebih dulu, Aisyah melambaikan tangan pada Dewa kemudian ia pun berlari mengejar Mentari yang sudah melangkah lebih dulu.


Mereka menuju ke tempat di mana Mentari biasa membeli bahan-bahan tambahan untuk kue-kuenya, juga beberapa toping untuk menghias kuenya agar lebih menarik. Mereka berkendara hampir satu jam dan akhirnya mereka pun sampai di toko itu.


Aisyah dan Mentari bersama-sama memilih beberapa toping yang menurut mereka cocok untuk kuenya, Mentari sangat senang berbelanja dengan Aisyah. Anak itu terus saja berlari ke sana kemari dan memilih beberapa toping yang menurut Mentari memang sangat cocok dengan yang diinginkannya.


Saat di perjalanan Menteri melakukan panggilan video pada Azriel dan ponselnya dipegang oleh Aisyah.


"Kami sudah selesai berbelanjanya, kamu sudah mau dijemput ke kantor nggak? Kalau nggak aku bawa dulu barang-barangnya pulang," ucap Mentari.


"Kalian ke rumah kamu saja dulu, bawa barang-barangnya, lagian kayaknya aku hari ini akan lembur, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikanq. Begini saja, nanti biar aku yang menggunakan taksi atau meminta supir kantor untuk mengantarku ke rumahmu, nanti aku mengambil mobil di sana."


"Baiklah."


" Aisyah, kamu ingin tinggal di rumah Mentari menunggu Kakak atau mau pulang ke rumah?" tanya Azriel menatap ke arah adiknya yang juga ada di layar kamera tersebut.


"Aku tunggu Kakak saja di rumah Kak Mentari. Nanti Kakak jemput aku saja di sana, ya," ucap Aisyah membuat Azriel pun mengangguk mengerti dan mereka pun mengakhiri panggilan mereka.

__ADS_1


Begitu sampai di kediaman Mentari, Aisyah bisa melihat jika beberapa orang sedang membuat kue. Ia juga yang penasaran dan segera ikut bergabung bersama dengan mereka dan mulai membuat kue bersama-sama.


Aisyah sangat bahagia, ia bahkan membuat adonannya sendiri. Mulai dari mencampur adonannya sampai memasukkan sendiri ke dalam oven. Mentari juga mempersilahkan untuk Aisyah menghias sendiri kue buatannya setelah jadi, sesuka hatinya.


"Wah ternyata selain menguntungkan, membuat kue juga sangat menyenangkan," ucap Aisyah di mana ia sudah berhasil membuat 2 kue buatannya sendiri. Kue pertama dibantu oleh Mentari. Namun, untuk kue kedua ia bahkan memasukkan semua bumbunya sendiri dan melakukannya semua sendiri dan itu membuatnya semakin senang.


"Ya sudah, 2 kue ini kamu bawa pulang saja ya, Nak. Ini untukmu dan juga Azriel serta ayah dan ibumu," ucap Rusmi memberikan dua kue buatan Aisyah itu untuk dibawa pulang.


"Benarkah, Bu?" tanya Aisyah berbinar senang, ia akan memamerkan kue itu kepada orang-orang yang ada di rumahnya, ia belum pernah membuat kue sekalipun di rumahnya. pasti ayah dan ibunya akan senang mendapat kue darinya dan bertepatan dengan itu juga Azriel datang. Hari sudah malam, membuat Aisyah pun berpamitan untuk pulang membawa 2 kue yang diberikan oleh ibu dari Mentari, Azriel pamit dan mereka pun pulang.


Sesampainya di rumah Aisyah langsung memperlihatkan kue yang di bawahnya.


"Ibu, lihat ini buatanku sendiri, cobalah," ucap Aisyah yang sudah berlari kesana kemari mengambil piring dan mulai memotong-motong kuenya tersebut. Abidzar dan Khanza yang sedang berada di ruang tengah menunggu makan malam selesai pun ikut heboh dan mulai membantu Aisyah menyiapkan kue tersebut.


"Ini beneran kamu yang buat?" tanya Khanza membuat Aisyah mengangguk cepat dan menceritakan bagaimana ia membuat kue-kue tersebut.


Lucia kembali mengepalkan tangannya saat mendengar nama Mentari terus saja disebut oleh Aisyah, mengapa sih lagi-lagi Mentari yang menjadi pembahasan di rumah ini menyebalkan sekali.


Azriel yang sudah membersihkan badannya juga ikut bergabung, Aisyah langsung memberikan kue buatannya itu pada kakaknya.


"Bagaimana, kah kak rasanya?" tanya Aisyah yang juga memberikan satu lagi kepada ayahnya.


"Ayah, ini aku sendirian buat spesial untuk ayah," ucapnya membuat kedua pria beda usia tersebut pun mencoba kue buatan yang diklaim Aisyah buatannya sendiri.


"Sangat enak, lebih enak dari kue Mentari," ucap Abidzar memuji putrinya, membuat Aisyah berbinar senang kemudian ia melihat ke arah kakaknya.


"Iya, Ayah benar rasanya lebih enak karena dibuat oleh kamu, ini kue terenak yang pernah kakak makan selama ini," ucap Azriel yang juga memuji kerja keras adiknya, ia bisa melihat ada dua plester di lengan adiknya dan Aisyah mengatakan jika itu terkena saat memanggang kue, ini kue pertama Aisyah. Jadi, sangat wajar untuk ia mendapat pujian.


"Kak Lucia, ini untuk Kakak," ucap Aisyah juga memberikan kue tersebut pada Lucia. Lucia pun mengambilnya dan begitu ia ingin kembali duduk ia dengan sengaja menjatuhkan kue itu ke lantai.

__ADS_1


"Ups, maaf ya. Aku nggak sengaja."


__ADS_2