
Khanza masih tertidur pulas saat Aziel terbangun, ia mengucek matanya dan melihat mamanya masih tidur di sampingnya. Ia pun menghampiri mamanya, menggoyangkan tangan Khanza.
"Mama ... mama Ziel mau Papa," ucap Aziel yang masih mengingat Papanya.
Dengan berat Khanza membuka matanya.
"Anak mama sudah bangun ya, jangan nangis lagi ya, Mama lagi sakit!" ucap Khanza menatap penuh sayu pada anaknya.
Aziel seperti mengerti jika mamanya memang sedang sakit, ia pun kembali berbaring dan masuk dalam pelukan mamanya.
Mereka kembali tertidur.
Siang hari nenek sudah menelpon Damar, memberitahu kondisi Khanza. Damar pun memeriksa Khanza.
Walau bukan dokter kandungan tapi dia tahu jika kemungkinan besar Khanza sedang hamil, dia juga mencocokkan dari apa penyebab Khanza marah pada suaminya.
Damar tak memeriksa secara teliti, tak ingin membuat Khanza berpikir jika dia sedang hamil.
"Aku sakit apa?" tanya Khanza pada Damar.
"Kamu cuma masuk angin biasa, nanti juga sembuh kok," ucap Damar berbohong. Damar sudah tau kondisi Khanza sekarang dari Aqila.
"Syukurlah, aku pikir aku hamil. Aku sangat takut tadinya," ucap Khanza bernapas lega, ia sedari tadi terus berfikir kalau dirinya sedang hamil.
"Kamu istirahat saja, aku akan memberikan obat pada mu," ucap Damar yang memberikan kepada Khanza obat pereda mual yang khusus biasa diberikan oleh ibu hamil. Damar sudah menduga dan meminta pada dokter kandungan saat nenek memberi tahu kondisi Khanza di telepon.
Damar memanggil nenek dan Aqila keluar.
"Sepertinya Khanza memang sedang hamil," ucap Damar setelah mereka di luar kamar Khanza.
Aqila membekap mulutnya, yang ditakutkan terjadi juga. Aqila sangat tau jika khanza benar-benar takut untuk melahirkan lagi.
"Lalu bagaimana? Khanza itu masih trauma, belum lagi dengan masalah kita saat ini," ucap Aqila.
"Kenapa kamu harus takut, itu adalah rezeki anugerah mungkin saja dengan adanya kehadiran bayi itu dapat memberi kebahagiaan bagi Khanza," ucap nenek yang justru merasa bahagia mendengar jika Khanza sedang hamil lagi.
"Masalahnya, Nek. Khanza belum siap dengan janin yang ada di rahimnya, itu bisa mempengaruhi psikis nya dan juga mempengaruhi janin yang ada di dalam rahimnya. Kemungkinan keguguran sangat besar," jelas Damar.
Nenek yang mendengarnya menjadi khawatir.
__ADS_1
"Lalu bagaimana sekarang? Khanza sudah hamil, kita tidak mungkin bisa menutupinya terus-menerus."
"Kalau nenek tak keberatan, bagaimana kalau Kalian untuk sementara tinggal di rumahku saja. Mamaku seorang dokter kandungan. Mungkin mama bisa meminta bantuan kepada temannya yang bisa menangani trauma Khanza. Mamaku pasti lebih tau tentang apa yang Khanza butuhkan," jelas Darmar.
"Apakah kita tidak akan merepotkan jika tinggal di rumahmu?" tanya nenek meresa tak enak.
"Tentu saja tidak, Nek. Aku juga sudah bercerita kepada Mama jika aku bertemu nenek dan Khanza dan Mama sangat senang jika nenek dan Khanza mau berkunjung ke rumah kami."
Nenek melihat pada Aqila.
"Nek, demi Khanza dan janinnya, ini untuk beberapa saat, jika Khanza sudah siap dengan kandungannya kita bisa mencari tempat lain," ucap Aqila yang dibenarkan oleh Damar.
"Ya sudah, Nenek bicara dulu dengan kakek."
Sementara di apartemen Khanza semua sibuk dan khawatir dengan kondisi Khanza yang kemungkinan besar sedang hamil, berbeda dengan di rumah lama.
"Kita harus lapor polisi," ucap Warda yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan cucunya…
"Lapor polisi? kamu ingin lapor polisi kalau seorang ibu menculik anaknya?" Sahut Santi.
"Ya nggak lah, kita lapor saja kalau Khanza itu hilang."
"Kita bisa sebarkan di media, dengan begitu Mama yakin, mereka akan cepat ditemukan," usul Warda.
"Kalau Mama sampai melibatkan media itu akan mencoreng nama baik keluarga kita, Mah. Nama mas Abi akan dipertaruhkan, mas Abi sekarang sudah menjadi bahan pembicaraan Karena melakukan poligami, jika Sampai berita ini kembali tersebar di kalangan rekan bisnisnya bagaimana reputasi mas Abi, Mah," ucap Farah tak setuju.
"Tapi, Mama bener-bener nggak tahan, Mama sangat merindukan Aziel. Bagaimana keadaannya di sana. Apakah Khanza memberinya makan dan tempat tinggal dengan baik. Apakah dia bisa memenuhi kebutuhannya."
"Mah, Khanza itu mama kandungnya dia pasti menjaga Azeil dengan baik, jika kita mencarinya seperti ini kita tidak akan menemukannya justru dia akan semakin takut dan jauh dari kita."
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kalian harus secepatnya menemukan Aziel. Mama tak peduli jika Khanza tak ingin kembali dengan kita," ucap Warda yang sudah terisak membayangkan sosok cucunya.
"Aziel dimana kamu, Nak. Nenek sangat merindukanmu," ucap Warda memeluk mainan Aziel.
"Aku heran kemana anak itu pergi, Abizar sudah mencarinya bahkan Daniel juga ikut mencarinya, tapi mereka berdua tak menemukan sedikitpun jejak Khanza. Apakah Khanza punya kenalan lain yang bisa membantu dia?" tanya Santi.
"Farah juga nggak tahu, Mah! Yang Farah tahu sekarang Khanza sedang bersama dengan Aqila, kakek dan neneknya."
"Apa kalian sudah memeriksa ke di kampung Khanza. Bagaimana kalau keluarganya di kampung menyembunyikannya!" sahut Warda.
__ADS_1
"Nggak, Mah, mas Abi sudah memeriksa identitas Khanza di Bandara, tak ada penerbangan ke sana mungkin saja dia pergi ke kota lain," jelas Farah.
Semua melihat ke arah luar saat mobil Abizar memasuki garasi.
Sudah beberapa hari ini Abizar selalu pulang diatas jam 12 malam, begitu juga dengan malam ini, mereka semua selalu menunggu Abizar pulang berharap bisa mendapatkan kabar tentang keberadaan Khanza dan Aziel.
Mama dan Farah langsung hampiri Abizar, membuka pintu untuknya.
Mama ingin bertanya Apakah ada kabar tentang Khanza dan Aziel. Namun, Farah dan Warda langsung terdiam saat melihat
Penampilan Abizar. Abizar berjalan sempoyongan dan tercium bau alkohol yang sangat menyengat.
Mereka menyingkir saat Abizar melewatinya, mama dan Farah saling melihat dan kembali melihat Abizar yang terus berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Mereka tak bisa berkata apa-apa, ini untuk pertama kalinya Abizar menyentuh alkohol dan ia termasuk orang yang sangat pantang meminum alkohol.
Warda tak bisa berkata apa-apa lagi melihat kondisi putranya, Ia yakin diantara mereka semua putranya lah yang paling menderita dengan kepergian Khanza.
"Kamu urus suami kamu," ucap Warda kembali ke kamarnya.
Farah ikut menyusul Abizar, naik ke kamar dan melihat Abizar yang sudah terbaring di tempat tidur tanpa membuka sepatu dan jasnya.
Farah mencoba membuka sepatu dan jas suaminya, memperbaiki posisi tidur Abizar yang berantakan. Kepergian Khanza mengubah sosok Abizar yang tegas dan juga berwibawa.
Pagi hari Abizar terbangun dan mendapati dirinya yang tidur dengan kemeja yang kemarin digunakannya.
"Apa yang aku lakukan, kenapa aku sampai menyentuh alkohol," gumamnya memaki dirinya sendiri.
Abizar memijat kepalanya yang terasa pusing, kemarin dia sudah berkeliling mencari Khanza menemui puluhan detektif yang disewanya. Namun, hasilnya tetap saja mereka tak menemukan sedikitpun jejak.
"Siapa yang menghapus semua rekaman CCTV di sepanjang jalan dihari itu sehingga kami tak bisa mendapatkan bukti sedikitpun, Keman khanza pergi. Semua itu bukanlah kelakuan dari Daniel, karena dia sendiri masih sibuk mencarinya. Lalu Siapa orang dibalik semua ini, Khanza dan Aqila takkan mampu melakukannya," batin Abizar bertanya-tanya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖