
Mereka semua berkumpul saat waktunya sarapan, nenek dan kakek sudah ada dibawah bersama dengan ibu dan ayah Damar begitu juga dengan Damar sendiri.
"Ayo sini sayang kita sarapan dulu," ucap Dewi menyambut mereka yang baru datang. Aqila duduk lebih dulu dan langsung mengambil tempat di samping Damar.
Disusul Khanza yang berjalan sambil menggendong Aziel.
"Ziel, udah besar kok masih digendong sih Nak sama mama, kasihan dong mamanya. Ayo sini sama tante, ya!" ucap Dewi mengambil Aziel dari gendongan Khanza.
Di usia kehamilan khanza saat ini sebaiknya ia tak menggendong Aziel terlebih dulu, Berat badan Aziel yang semakin berat bisa mengganggu janin yang ada dalam rahim Khanza yang masih sangat rentan.
Dewi mengucapkannya sambil melihat kepada mereka semua sebagai tanda bahwa yang dikatakan tadi harus mereka perhatikan.
Mereka semua sarapan sambil saling mengakrabkan diri, setelah sarapan dokter Dewi tak membuang-buang waktu dia langsung memperkenalkan Khanza pada dokter psikologi. Dr. Nita sahabatnya.
Damar dan Aqila sudah menjelaskan semua kondisi Khanza. Dr. Dewi langsung menceritakan semuanya pada psikolog. Apa yang harus dilakukan agar membantu Khanza melewati masa-masa kehamilannya.
Nita dan Dewi tahu betul sebelum memberitahukan Khanza akan kehamilannya mereka harus mempersiapkan mental Khanza lebih dulu dan mereka berdua harus bekerjasama dalam hal itu.
Mereka berbicara di ruang kerja Dokter Dewi, di ruangan itu juga terdapat beberapa alat untuk memeriksa kandungan, seperti USG dan alat-alat lainnya.
"Kenapa Tante membawaku kesini" tanya Khanza menghentikan langkahnya saat melihat alat-alat tersebut.
"Aku ingin bicara denganmu, kita bicara di dalam ya," ucap Dokter Nita.
Mereka pun duduk di sofa yang ada di sana.
"Kenalkan namaku Nita," ucap Dokter Nita mengulurkan tangannya.
"Khanza," jawab Khanza menyambut uluran tangan Dokter Nita.
Dokter Dewi duduk di samping Khanza.
"Dokter Nita ini sahabat tante, dia mengambil jurusan psikolog. Maaf ya kata Aqila kamu punya trauma ya pasca melahirkan?" tanya Dewi dengan hati-hati.
"Iya tante, Khanza masih takut untuk hamil lagi, takut jika apa yang khanza alami saat melahirkan Aziel terjadi lagi," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu tahu, kamu itu sangat hebat. Sangat jarang Ibu seusiamu memilih untuk melahirkan secara normal, biasanya mereka akan memilih melahirkan secara sesar karena tak mau merasakan sakit, tapi aku salut sama kamu. Kamu bisa melahirkan putramu dengan selamat," ucap Dokter Nita berusaha membuat Khanza bangga akan keberhasilannya melahirkan Aziel.
"Iya Dokter, Aku juga tak menyangka jika bisa melewati semuanya, aku sangat bersyukur bisa melahirkan Aziel dengan sehat dan selamat," jawab Khanza mengingat sosok Putranya.
"Apa yang membuatmu trauma, dan membuat mu tak ingin melahirkan lagi, bukankah kamu sudah pernah mengalaminya kenapa harus takut kali ini?" tanya dokter Nita mencoba memancing Khanza untuk mengingat kembali masa-masa sulitnya saat melahirkan. Dengan menceritakan rasa sakitnya itu bisa mengurangi rasa trauma pada Khanza.
Khanza terus dipancing oleh Dr Nita untuk menceritakan semuanya, semua rasa sakit yang dirasakannya saat itu. Serta rasa ketakutan yang selama ini dirasakannya, Dokter Dewi terus ikut memancing agar Khanza mengeluarkan semua apa yang menjadi beban yang selama ini. Apa yang membuatnya merasa sangat takut menghadapi kehamilan keduanya.
Khanza merasa sedikit tenang setelah menceritakan semuanya pada dokter Dewi dan Nita.
"Kau tahu, kau itu sangat beruntung karena bisa melahirkan. Banyak wanita yang ingin seperti dirimu di dunia ini, tapi mereka tak seberuntung dirimu, mereka juga ingin merasakan melahirkan, tapi mereka tak bisa karena banyak alasan."
Khanza tiba-tiba teringat akan Farah madu nya.
"Aziel Pasti sangat senang jika ia memiliki adik lagi, kau bisa bayangkan bagaimana saat mereka besar nanti. Mereka akan bermain bersama, Aziel akan memamerkan adiknya pada teman-temannya, akan banyak anak-anak yang menemanimu di masa tuamu kelak. Mereka akan berebut cinta darimu," ucap Dokter Nita.
"Apa kau tidak kangen mengurus bayi lagi, Bagaimana kalau hamil dan memiliki bayi perempuan. Pasti sangat cantik dan menggemaskan, dokter Dewi dengan gaya penyampaiannya seolah-olah membayangkan sosok bayi yang menggemaskan di gendongannya.
Dokter Dewi dan dokter Nita terus membuat rasa percaya diri Khanza untuk bisa menghadapi kenyataan jika Ia sekarang sedang mengandung.
Setelah dirasa Khanza sudah cukup siap,
"Tante Apakah aku lagi hamil?" tanya Khanza yang mulai curiga, sejak tadi mereka membahas tentang kehamilan dan sekarang Dokter Dewi meminta untuk memeriksanya.
"Untuk memastikannya kita periksa ya," ucap dokter Dewi mencoba membujuk Khanza. Khanza yang awalnya tak ingin
Namun, setelah dibujuk akhirnya ia pun berbaring untuk memeriksa kandungannya.
Dokter Nita berdiri di samping Khanza dan terus menyemangatinya. Memintanya berpikir positif, setiap persalinan berbeda-beda bahkan mungkin saja persalinan berikutnya jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
Keahlian dokter Nita menenangkan pasiennya membuat Khanza sedikit lebih tenang dan bersiap menerima apa hasil dari pemeriksaan ibu dari sahabatnya itu.
"Deg … deg ...deg."
"Kamu dengarkan sapaan bayimu?" tanya Dokter Dewi memperdengarkan suara detak jantung bayi yang sedang berkembang di rahimnya.
__ADS_1
Khanza mengangguk, rasa takut bercampur bahagia mengetahui jika dirinya sekarang sedang hamil.
"Usianya sudah 2 bulan."
"2 bulan?" tanya Khanza terkejut, ia tak menyangka jika selama ini ternyata ia sudah hamil selama 2 bulan.
"Iya usianya sudah 2 bulan, pasti Aziel sangat senang mendengar kabar jika sebentar lagi akan mempunyai adik," ucap dokter Dewi.
"Jangan pernah memikirkan hal-hal negatif dan Jangan pernah memikirkan hal-hal yang bisa membuat janin kamu tertekan begitu juga dengan kamu sendiri.
Kami yakin kamu pasti bisa melalui semuanya. Kamu tenang saja, kami akan membantumu melalui kehamilanmu kali ini, jika kamu bisa melahirkan Aziel dengan sehat kamu juga pasti melakukannya kali ini," ucap Dokter Nita kembali memberi semangat kepada Khanza.
"Terima kasih Dokter, aku mohon bantuan dokter," ucap Khanza mencoba untuk menerima janin yang ada di rahimnya. Khanza memegang perutnya mencoba menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, saat rasa ketakutannya mulai terpikir di benaknya.
"Kamu pasti bisa, kamu ibu yang kuat," ucap dokter Nita.
Khanza mengangguk antusias dan meyakinkan dirinya, jika dia pasti bisa melalui semuanya.
"Mulai sekarang, kamu harus percaya diri dan terus menanamkan rasa percaya diri pada dirimu sendiri, yakinlah jika kamu pasti mampu melewati semua ini," Nasehat Dokter Nita.
Dokter Nita Juga minta Khanza untuk berpikir positif, hindari hal-hal yang bisa membuatnya ketakutan atau memikirkan hal-hal yang buruk yang bisa saja terjadi padanya. Jika iya merasa sedih atau merasa tertekan jangan dipendam, ia harus bercerita pada mereka atau pada Aqila bahkan pada nenek, jangan menyimpannya sendiri.
Jika ia merasa sesak perbanyaklah untuk menikmati udara pagi, Dokter Nita juga meminta melakukan yoga dengan rutin untuk menjaga ketenangan dirinya dan terus pikirkan hal baik yang akan terjadi jika bayinya sudah lahir. Dokter Dewi menerangkan beberapa cara yang bisa Khanza lakukan untuk melawan rasa takutnya. Rasa traumanya hanya dia sendirilah yang bisa melawannya.
"Kami semua pasti akan membantumu melalui semua ini," ucap Dokter Dewi menggenggam tangan Khanza.
"Makasih Tante," Jawab Khanza berkaca-kaca.
"Mulai sekarang, anggap aku ibumu ya, jangan pernah anggap aku ini sebagai Tante atau Dokter mu," ucap Dokter Dewi memeluk Khanza, memberikan Selamat atas kehadiran janin yang ada dalam rahimnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏
__ADS_1
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖