
"Khanza, Aqila," panggil Daniel saat berbalik dan melihat dua orang yang berjongkok di belakang jok mobil nya.
Khanza dan Aqila yang dipanggil hanya bisa melihat Daniel dan mencoba untuk duduk, mereka sudah ketahuan dan kaki mereka sudah kesemutan sedari tadi berjongkok di sana.
Daniel yang sadar jika orang-orang Abizar dan orang Mr. Alvin masih ada di sekitarnya dengan cepat melajukan mobilnya menuju ke tempat yang aman.
Setelah dirasa tempatnya sudah cukup aman barulah Daniel memarkirkan mobilnya.
Daniel yang sejak tadi hanya diam begitu pula dengan Khanza dan Aqila, kini kembali berbalik menatap mereka.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing dan tak menyangka mereka akan dipertemukan dalam situasi seperti ini, Daniel yang selama ini mencari kesana kemari ternyata justru merekalah yang menemukannya.
Daniel tertawa terbahak-bahak melihat kenyataan Khanza dan Aqila ada di mobilnya.
Walau mereka masih mengenakan cadar nya. Namun, Daniel bisa mengenali mereka.
"Ayo buka penutup wajah kalian," ucapnya membuat Aqila dan Khanza saling melihat kemudian membuka penutup wajah mereka.
Daniel kembali menatap mereka berdua, ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi entah apa yang ingin diucapkannya, rasa bahagia bisa menemukan mereka setelah sekian lama mencari seperti mendapatkan sesuatu yang hilang darinya.
Selama ini Daniel memang sudah tak pernah lagi berurusan dengan mereka berdua. Namun, ia selalu melihat mereka melalui media sosial. Itu sudah lebih dari cukup, melihat mereka bahagia Ia pun ikut bahagia.
"Kalian tinggal di mana? Aku akan mengantar kalian pulang?" tanya Daniel.
Aqila dan Khanza lagi-lagi hanya diam dan saling pandang mereka bingung akankah mengatakan alamat mereka atau tidak.
Tanpa mendengar jawaban dari mereka Daniel langsung melajukan mobilnya,
"Kalian ingin aku mengurung kalian di tempatku atau memberiku alamat tempat kalian" ancam Daniel bernada serius.
"Kami tinggal di jalan X," ucap Aqila cepat memberikan alamat mereka.
Mereka juga sudah lama pergi, takut jika orang rumah mencari mereka. Mereka hanya izin keluar pada satpam, mereka berencana hanya ingin membeli es krim dan pulang. Namun, semua diluar rencana mereka.
Daniel melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan oleh Aqila.
*****
"Pak, Kenapa Bapak membiarkan mereka pergi?" tanya ibu Damar yang sudah tahu jika Khanza keluar dari rumah.
"Maaf Bu, saya sudah melarangnya, tapi Non Khanza tetap bersikeras, katanya mereka hanya sebentar, tapi sampai saat ini mereka juga belum pulang," ucap satpam merasa bersalah.
"Semoga saja Damar dapat menemukan mereka sebelum yang lainnya," ucap Ibu khawatir. Ibu juga sudah mengetahui apa yang terjadi pada mereka.
"Bagaimana ini, bagaimana jika suaminya menemukannya dan membawanya pulang, nenek hanya takut terjadi sesuatu pada mereka. Nenek sudah mencoba menghubungi. Namun, mereka tak membawa ponselnya." Khawatir nenek.
"Tenang saja mereka pasti akan baik-baik saja, Damar pasti bisa menemukan mereka. Aqila bersama dengan khanza dia pasti bisa menjaga Khanza dengan baik," ucap Ibu Dewi mencoba menenangkan nenek.
"Jika suaminya yang menemukannya tak masalah, kekek hanya khawatir terjadi hal lain yang dapat bahayakah mereka," sahut kakek.
Damar mencari tahu keberadaan Khanza dan Aqila, dia mencarinya dengan hati-hati. Damar bisa melihat orang-orang yang mencari mereka kini ada disekitar mereka.
__ADS_1
Jarak dari rumahnya dan tempat mereka membeli es krim hanya sekitar 30 menit perjalanan.
"Bagaimana ini, begitu banyak orang yang mencari mereka. Itu berarti mereka yang belum menemukan khanza dan Aqila. Mereka masih dalam persembunyiannya, tapi di mana kira-kira mereka bersembunyi, ya," gumam Damar masih di dalam mobilnya, mengamati situasi.
Ponsel Damar berdering, itu panggilan dari ibu yang mengatakan jika Khanza sudah pulang diantar oleh seseorang.
"Aku akan segera pulang," Jawab Damar langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah.
"Siapa yang menyelamatkan mereka," gumam Damar penasaran, ia melajukan mobilnya cukup kencang ingin melihat keadaan khanza dan Aqila, 'Semoga mereka baik-baik saja' .Pikir Damar
Begitu sampai Damar bisa melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya, Damar segera masuk dan melihat seorang pria yang duduk bersama dengan yang lainnya di ruang tamu.
"Khanza, kamu tak apa-apa?" tanya Damar langsung menghampiri Khanza.
"Nggak papa kok," jawab khanza.
Damar menghampiri Daniel dan memperkenalkan dirinya pada Daniel,
"Terima kasih sudah menolong Khanza. Anda siapa ya?"
"Saya Daniel," ucap Daniel menyambut uluran tangan Damar, memperkenalkan dirinya.
"Daniel?" ucap Damar melihat pada Aqila
Aqila mengangguk samar, Aqila sudah menceritakan jika ada dua yang mencari khanza, Abizar suaminya dan Daniel orang yang menyukai Khanza.
"Anda sudah tahu kalau Khanza di sini, apa Anda akan memberitahu suaminya, atau …," ucap Damar menggantung kata-katanya.
"Sekarang aku bekerjasama dengan Abizar untuk mencari khanza. Namun, kami memiliki tujuan yang berbeda. Aku takkan memberitahunya, jika Khanza memang ingin berpisah dengan Abizar, tentu saja aku mendukungnya," ucap Daniel.
"Terima kasih, Bu," ucap Daniel mengambil minuman yang dibawa oleh ibu Dewi.
Aziel berlari menghampiri Khanza dan duduk di samping Mamanya.
"Hay Aziel, kamu sudah besar. Apa kamu masih ingat dengan om?" tanya Daniel yang sudah 2 tahun lebih mereka tak bertemu.
Aziel menatap ibunya.
"Ini Om Daniel, temennya papa," ucap Khanza perkenalkan Daniel pada putranya.
Mendengar kata Papa hasil langsung menghampiri Daniel dan mengeluarkan tangannya.
"Aku Ziel Om, senang bertemu dengan om. Papa mana?" tanya Aziel.
"Aziel ingin bertemu dengan Papa?" tanya Daniel.
Aziel mengangguk antusias, "Ziel kangen sama Papa Om," keluh Aziel.
"Ya udah, Om janji akan bawa Ziel ke Papa," Ucap Daniel mengusap rambut Aziel, membuat Aziel melompat kegirangan mendengar janji dari Daniel.
"Aziel kita main di dalam yuk," panggil Aqila mengajak Aziel masuk ke dalam.
__ADS_1
"Sampai kapan kalian akan bersembunyi seperti ini dari Abizar, bersembunyi seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. Apa kalian tidak kasihan melihat Aziel yang sangat merindukan Papanya," ucap Daniel melihat mereka semua.
Khanza hanya terdiam. Apa yang diucapkan Daniel memang benar, selama ini dia juga merasa kasihan melihat Aziel yang sering menanyakan Papanya.
"Kami tidak menyembunyikan khanza, tapi kami hanya menunggu waktu yang tepat," jelas Damar.
"Waktu yang tepat?! ini sudah 5 bulan atau bahkan 6 bulan kalian memisahkan anak sekecil Aziel dari Papanya. Apa waktu selama ini belum cukup?! Masih banyak cara lain jika ingin lepas dari Abizar, tak seperti ini."
"Belum, kamu masih menyiapkan mental Khanza," jawab ayah Damar yang sedari tadi hanya diam.
"Mental?" tanya Daniel bingung.
"Apa Anda tahu penyebab Khanza meninggalkan suaminya?" tanya Dr. Dewi
"Karena Abizar Bhajhingank, karena Khanza sudah lelah dan menyerah menjalin hubungan rumah tangganya, tak tahan dipoligami," jawabannya.
"Anda salah, Khanza meninggalkan suaminya karena tertekan, karena rasa trauma menyerangnya." Jelas Dr Dewi.
"Maksudnya?"
"Khanza belum bisa menerima keinginan suaminya yang memintanya hamil lagi karena trauma Yang dirasakannya. Rasa kecewa khanza, membuat ia meninggalkan suaminya dan sekarang Khanza sedang hamil, usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Jika dipaksa bertemu dengan suaminya, itu bisa mempengaruhi janinnya, mempengaruhi kesehatannya. Kita tidak tahu apakah keluarga suaminya akan membantu melewati masa sulitnya atau justru sebaliknya. Kami tak mau mengambil resiko dan tetap menyembunyikannya disini sampai ia benar-benar siap," jelas Dr Dewi.
"Sekarang Khanza masih berusaha melawan rasa traumanya," tambah Damar.
"Kami berencana mempertemukan mereka kembali setelah Khanza keluar dari traumanya," Jelas Dewi yang tak ingin Daniel menganggap mereka menyembunyikan Khanza dari suaminya.
"Sebentar, aku tak mengerti. Siapa yang hamil? Apakah Kamu hamil lagi?" tanya Daniel yang tak tahu kondisi khanza. Khanza menggunakan kerudung panjang menjuntai turun menutupi perutnya.
"Iya, Kak. Aku sedang hamil 7 bulan," jawab Khanza memegang Perutnya.
Jawaban Khanza itu membuat Daniel terkejut.
"Daniel memijat kepalanya, mengusap wajahnya dan melihat kearah khanza, tadinya Ia berpikir untuk kembali berusaha merebut khanza dari Abizar. Namun, sepertinya ia harus mengurungkan kembali niatnya.
"Abizar Khapvret," umpat Daniel.
Daniel menetap Khanza kemudian menatap ke arah perutnya.
Khanza merasa tak enak ditatap dan langsung menutup perut buncitnya.
"Baiklah aku permisi dulu, besok aku akan datang lagi. Pamit Daniel meninggalkan kediaman keluarga Damar.
"💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Mampir juga ke karya temanku